63. Kepo

874 263 38
                                        

Rambut Shasha berantakan

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Rambut Shasha berantakan. Otaknya sudah tidak mampu berjalan untuk membuat sebuah naskah berita yang harus dikumpulkan nanti sore. Dari semalam dia berusaha mengerjakan tugas ini tapi hasilnya hanyalah satu paragraf pembuka.

Shasha merasakan perutnya yang makin keroncongan.

Shasha mengulet sebentar lalu bangkit dari kursi meja belajarnya. Masih ada waktu tujuh jam sampai tugas dikumpulkan pukul empat sore. Ada baiknya sekarang dia sarapan dulu setelah itu lanjut mengerjakan. Siapa tahu makanan bisa membuat otaknya berjalan lebih lancar.

Langkah Shasha terhenti melihat seseorang di dapur.

Itu Rino. Belakangan ini dia main kucing-kucingan dengan Rino. Namun mulai sekarang Shasha akan bersikap seperti biasa seolah tidak terjadi apapun.

"Oi, good morning," sapa Shasha mengangkat tangan kanannya.

"Hm," jawab Rino singkat lantas mengangkat mangkuknya ke meja makan, menikmati sarapannya.

Pilihan sarapan pagi ini adalah beli di warteg depan atau makan mie instan. Berhubung dia malas keluar, jadi pilihan makanannya ada mie instan goreng.

Sedang membuka bumbu mie, tiba-tiba ponsel Shasha berbunyi. Gadis itu mengeluarkan benda pipih dari saku celana training. Dahinya berkerut melihat nomor tidak tersimpan tampil di layar.

Angkat aja, siapa tahu penting.

Shasha meletakkan ponsel di meja makan dan menyalakan loudspeaker.

"Halo."

"Halo, ini bener nomernya Shasha?"

"Iya bener. Ini siapa?"

"Ini yang di klinik waktu itu."

"Klinik?" Shasha mengernyit memikirkan kejadian masa lalu. "Ooooh si tinggi itu! Yang nimpuk gue pakai bola!"

"Nah iya yang itu. Maaf lama nggak ngehubungin. Mm ada waktu kosong nggak hari ini?"

Diam-diam Rino mendengarkan percakapan mereka berdua sambil makan pelan-pelan. Sesekali melirik pada Shasha yang terlihat semringah dihubungi oleh 'Si Tinggi' itu.

"Ada."

"Ada kelas?"

"Ada."

"Kalau pacar ada?"

Shasha mengerjapkan mata. Entah mengapa matanya tertarik memandang Rino. Pemuda itu terlihat tetap tenang memandang piringnya.

"Nggak ada," jawab Shasha lantas mematikan loudspeaker dan menempelkan ponsel ke telinga.

"Beres kelas jam berapa? Ketemuan bisa?"

Shasha memasukkan mie-nya ke air yang sudah mendidih. "Ada apa ngajakin ketemuan?"

Perfect Housemates ✔Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang