"Mbak, udah sampai," kata Aji membuat Nina yang sedari tadi melamun langsung teerkejut.
Nina turun dari motor sambil melepas helmnya. Ekspresi gadis itu sedikit berbeda daripada beberapa saat lalu. Dan itu membuat Aji merasa sudah membuat kesalahan walau di sisi lain merasa yakin tidak ada kesalahan yang dibuat selama jalan berdua tadi.
Kecuali pertanyaannya tentang hubungan cewek itu dengan Bayu.
Tapi apa iya Nina kesal hanya karena itu?
"Mbak kenapa?" tanya Aji bingung. "Gue ada salah atau gimana?"
Nina makin terlihat tidak nyaman, menggaruk tengkuknya yang tidak gatal dan enggan memandang Aji.
Aji menstandar motornya dan berdiri di hadapan Nina. "Kalau gue ada salah bilang Mbak. Gue jadi nggak enak nih."
"Enggak."
"Enggak apanya?"
Nina kemudian tersenyum meski terlihat sangat dipaksakan. "Gue masuk dulu, lo hati-hati pulangnya, udah mau hujan."
Nina berbalik meninggalkan cowok itu sambil terus menggerutu pada dirinya sendiri dalam hati. Tidak mengerti mengapa semuanya jadi berubah setelah pertanyaan terakhir Aji padanya.
Beberapa langkah sebelum memasukkan kunci ke dalam lubang pintu, lengan Nina tertarik kasar hingga membuatnya refleks melepaskan kunci dari tangannya.
"Aji, apa-apaan sih!" protes Nina.
"Maaf," ucap Aji melepaskan lengan cewek itu tapi beralih pada tangan dan menggenggamnya erat. "Gue... punya sesuatu buat diomongin."
Deg
Spontan jantung Nina seperti diserang sesuatu. Detakannya semakin cepat seiring detik yang belalu.
"Ini mungkin kesannya kurang ajar, tapi gue sayang sama lo, Mbak." Aji makin erat menggenggam tangan gadis tu seolah tidak ingin kehilangan gadis itu. "Gue nggak tau sejak kapan gue ngerasa beda pas sama lo, gue juga nggak tau mulai kapan gue bisa senyum-senyum sendiri cuma karena lihat lo lewat, gue nggak tau tepatnya kapan gue bisa kangen sama lo. Gue sama sekali nggak tau sejak kapan gue bisa cemburu ngelihat lo terlalu deket sama Mas Bayu. Dan gue nggak tau kalau hati gue bisa sesakit ini pas tau lo sama Mas Bayu bener-bener punya hubungan kayak apa yang gue takutin beberapa waktu belakangan. Gue bener-bener nggak tau, Mbak."
"Aji."
Aji memengang pergelangan tangan Nina sambil tersenyum. "Gue nggak ada niat buat ngerusak hubungan lo sama Mas Bayu, gue cuma pengin jujur. Seenggaknya gue lebih lega biarpun tau kenyataan apa yang bakal gue hadapi ke depannya."
Nina berusaha menarik tangannya sambil menundukkan kepala menghindari kontak mata, tapi Aji tidak semudah itu melepaskan genggamannya. Bahkan dia semakin menekan tangan Nina ke pipinya.
Sebut saja Aji tidak tahu diri, tapi yang dia inginkan hanya menggenggam tangan Nina sedikit lebih lama. Aji terus memandangnya dengan senyum getir.
Nina berusaha melepaskan tangan dari genggaman Aji yang terlalu erat. Sampai Nina kesal sendiri dan balik menatap cowok itu dengan mata tajam.
(Tolong yang belum 17 tahun skip aja sampai tanda ** yaa, adegan selanjutnya kurang cocok buat kalian. Tapi kalo mau lanjut... Ya terserah sih, yang penting udah ku ingetin 😁 )
Namun melihat mata sendu Aji membuat pelan-pelan tatapannya melembut.
Tanpa sadar jarak di antara mereka telah dipersempit oleh Aji yang menurunkan tangan Nina tapi masih tetap digenggam. Entah apa yang membuat Nina spontan menutup mata membiarkan apapun yang terjadi setelah ini.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Housemates ✔
RomanceRumah itu bukan rumah biasa. Tersimpan banyak kisah dari para penghuninya. Disclaimer : semuanya hanya fiksi yang tidak ada hubungannya dengan realita sama sekali. Started : 10 Oktober 2020 End : 14 Januari 2021
