Keadaan rumah kos hari ini sedikit berbeda. Kedatangan Arthur membawa suasana baru. Sebagai orang yang numpang, anak itu cukup tahu diri dengan bangun pagi membereskan kamar Shasha dan masak sarapan untuk semua.
Keberadaan Arthur yang tidak diketahui penghuni lain selain Rino membuat Mika yang bangun pertama kali terkejut melihat orang asing sedang memasak di dapur.
Mika meraih sapu kipas, memegang gagangnya sambil menatap tajam ke arah cowok yang sedang memasak. Mika mencolek sosok tersebut dengan gagang sapu.
Arthur menoleh dengan ekspresi datarnya.
"Siapa lo?!" tanya Mika nyolot.
"Arthur," jawab Arthur tenang.
"Arthur siapa? Maling?"
"Maling mana yang numpang masak, Neng?" balas Arthur kembali fokus pada masakannya. "Gue adiknya Shasha."
Mika menurunkan sapu tersebut dan memerhatikan cowok itu dari atas sampai bawah dengan tatapan menilai. Masih meragukan pengakuan cowok itu. Semalam dia terbangun karena haus, sempat mendengar suara cowok waktu lewat kamar Shash, dia pikir seniornya itu sedang menonton film. Ternyata suara orang ini.
Mika tetap berdiri di sana memerhatikan Arthur menyiapkan sarapan di meja makan. Secara bergantian cewek itu memandang makanan dan Arthur.
"Lo kok bisa masak?" tanya Mika mengerutkan kening.
"Kenapa emangnya? Aneh cowok bisa masak?" tanya Arthur balik.
Mika menggeleng. "Cuma berbanding terbalik aja sama Mbak Shasha. Kalian tuh jiwanya ketuker apa gimana sih?"
Arthur tak menggubris perkataan cewek itu tapi dalam hati menyetujui. Ia juga pernah berpikir jiwanya tertukar dengan Shasha saat mereka masih kecil.
"Arthur?!"
Cowok itu menoleh namanya dipanggil. Matanya melebar melihat pemuda yang berjalan cepat menuju dapur.
"Felix."
Yap Felix.
"Wiiiih hello my friend, lo ngapain di sini?" heboh Felix langsung pecicilan memeluk Arthur seperti teman lama yang lama tidak ditemui.
Sayangnya Arthur tidak suka dipeluk-peluk. "Ngapain sih lo!" protesnya mendorong pemuda itu menjauh.
Felix mengendikkan bahu. "Lo ngapain di sini?"
"Adeknya Mbak Shasha," kata Mika memberitahu.
"Wow. Dunia hanya seluas daun kelor," kata Felix sambil cengengesan.
Felix dan Arthur berada di satu fakultas. Beberapa kali mereka dibuat bersaing di beberapa mata kuliah. Dan kini mereka bersaing dalam seleksi pertukaran mahasiswa.
Sejujurnya hubungan mereka tidak begitu bagus. Keduanya sama-sama menyimpan rasa tidak suka pada satu sama lain. Felix hebat dalam menyembunyikan rasa tak suka itu tapi beda dengan Arthur yang raut wajahnya langsung jadi sepet pas lihat Felix.
"Gue balik ke kamar dulu," pamit Arthur langsung berjalan melewati mereka berdua.
Mika dan Felix memandangi cowok itu sampai benar-benar hilang dari jangkauan mata mereka.
"Lo berdua nggak akur ya?" tanya Mika mengangkat sebelah alisnya. "Elo fake banget gila!"
Felix mendecih sambil memutar bola mata. "Gue kesel anjir sama tuh orang. Ambisius banget dan lo tau apa parahnya?"
"Apa?"
"Gue terus-terusan saingan sama itu orang. Akademik atau non akademik, saingan gue dia mulu," curhat Felix mencomot bakwan jagun di piring.
KAMU SEDANG MEMBACA
Perfect Housemates ✔
RomanceRumah itu bukan rumah biasa. Tersimpan banyak kisah dari para penghuninya. Disclaimer : semuanya hanya fiksi yang tidak ada hubungannya dengan realita sama sekali. Started : 10 Oktober 2020 End : 14 Januari 2021
