71. Keberangkatan

853 248 34
                                        

Prima memasukkan barang-barangnya ke dalam koper. Ia memeriksanya lagi dan lagi memastikan tidak ada barang penting yang tertinggal. Pagi ini Prima harus pergi ke bandara Soekarno-Hatta dan berangkat ke Lombok untuk konferensi mahasiswa. Sebenarnya Prima masih belum bisa terima jika dia diberangkatkan hanya berdua dengan Haris. Namun dia terpaksa tetap ikut karena semuanya sudah selesai diurus. Tinggal berusaha sabar saja jika dia dan Haris mengalami gesekan seperti yang sudah-sudah.

"Pim, udah selesai?" tanya Bunda membuka pintu kamar, melihatnya putrinya yang berkacak pinggang memandangi isi koper.

"Udah kok," jawab Prima buru-buru menutup kopernya.

"Jangan sampai ada yang ketinggalan loh," peringat Bunda yang dijawabi anggukan oleh Prima. "Chat temenmu sekarang, bilang kita mau berangkat biar dia bisa kira-kira harus siap jam berapa."

Prima mengangguk sambil memandang ibunya. "Iya, orangnya lagi mandi sekarang."

"Yaudah ayo."

Haris yang akan Prima jemput sebelum ke Bandara. Prima sengaja bilang jemput Haris dulu karena dia tidak mau pemuda itu terlalu santai. Bisa berabe kalau sampai terlambat dan ketinggalan pesawat. Bukan cuma presiden BEM yang bakal mengamuk, tapi mungkin rektor juga bakal mengomel.

Mereka pergi dari Bandung menuju Jakarta di pagi buta karena mereka mendapatkan pesawat jam tujuh pagi. Biar kata sekarang dari Jakarta ke Bandung bisa lebih cepat karena ada jalan tol, tidak ada salahnya berangkat lebih awal untuk mengantisipasi kejadian tidak terduga di jalan.

"Berarti ini ke kosan kamu dulu ya, Pim," tanya Ayah.

"Iya, masih inget jalannya kan, Yah?" tanya Prima balik.

"Ingetlah," jawab Ayah kemudian mulai menginjak pedal gas melajukan mobil.

**

"Yang ini kan rumahnya?" tanya Ayah saat berhenti di depan rumah berpagar tinggi yang masih tertutup.

"Iya ini, bentar Prima panggil dulu," jawab Prima turun dari mobil lalu membuka pagar dan masuk ke rumah.

Tidak lama kemudian Haris keluar bersama dua saudaranya yang lain. Haris yang tadinya cemberut karena habis kena omel Mika langsung tersenyum menyadari Bunda menunggu di depan mobil.

Bunda tersenyum menyapa Haris. Dengan cepat Haris salim ke Bunda sambil balas menyapa ramah, diikuti Aryan dan Mika.

"Eh ini temen-temennya Prima juga?" tanya Bunda.

"Ini Mika, yang ini Aryan," ujar Prima memperkenalkan. "Mereka bertiga saudara."

Bunda mengangguk-angguk. "Makanya mukanya pada mirip."

"Hehe iya Tante," balas Mika, sedangkan Aryan cuma senyum-senyum karena nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.

"Yaudah ayo berangkat, nanti keburu ketinggalan pesawat," ujar Bunda.

"Berangkat dulu, hati-hati lo berdua. Aryan jagain kakak lo nih," pamit Haris sembari memberikan peringatan pada adiknya.

"Siap," jawab Aryan lemas.

"Jangan berantem di sana, jangan malu-maluin nama kampus," giliran Mika yang memberikan peringatan.

"Iya tenang aja," jawab Haris mengangguk didukung senyuman Prima.

**

"Haris, tadi sudah sempet sarapan belum?" tanya Bunda saat melanjutkan perjalanan ke bandara.

"Sudah, Tante. Tadi makan dulu," jawab Haris sopan.

"Mas Haris ini udah lama tinggal di kosan?"

"Dari awal, barengan sama Prima masuknya."

"Mas Haris udah punya pacar belum?"

Perfect Housemates ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang