78. Selesai

1.2K 258 94
                                        

Tidak semua yang tampak adalah kenyataan.

Manusia memiliki topengnya masing-masing untuk menyembunyikan sesuatu yang tidak ingin terlihat oleh orang lain.

Seperti kisah Felix yang bermasalah dengan keluarganya, pemuda itu menutup rapi masalahnya dari teman-teman dan kemudian menyelesaikannya sendiri dengan dibicarakan baik-baik bersama mereka yang terlibat.

Atau tentang Rino yang sebisa mungkin menyembunyikan masalah dan menampakkan tampilan yang baik-baik saja. Cenderung dingin dan misterius. Namun tanpa terduga apa yang disembunyikan muncul perlahan-lahan hingga akhirnya diketahui oleh anak-anak rumah. Ia cukup bersyukur bukan orang luar yang mengetahui tentang itu.

Jadi intinya, jangan pernah menilai orang hanya dari apa yang terlihat. Orang yang paling menjengkelkan bisa jadi dia yang paling rapuh.

"Kak Dina keguguran," kata Mika sambil ikut duduk di ruang tamu bersama yang lainnya.

Mereka memutuskan berkumpul di ruang tengah menunggu kabar lebih lanjut dari Bayu, Calvin, dan Nina yang menyusul ke rumah sakit memastikan keadaan Rino baik-baik saja. Emosi pemuda itu pasti kurang stabil setelah mendengar kabar tadi.

"Beneran?" tanya Prima yang duduk bersandar pada kaki sofa di samping Felix. "Tadi yang nelepon siapa?"

"Mbak Nina yang nelpon. Katanya Kak Dina lukanya fisiknya ringan, tapi yaa itu tadi anaknya nggak selamat gara-gara pendarahan. Sekarang lagi dikuret. Mas Rino pulang ke sini atau mungkin langsung ke Bekasi masih belum tau, yang pasti dia mau ngubur janinnya dulu."

"Kita ke sana nggak?" tanya Aji.

"Mbak Nina bilang sih nggak usah, cukup mereka aja yang di sana." Prima menghela napas panjang.

Haris bergeser maju memberikan bantal sofa pada Mika. "Yang udah tau ceritanya, lo nggak mau bagi-bagi cerita apa ya?"

"Nah iya tuh! Gue kaget banget gila dengernya tadi," timpal Aji yang sama penasarannya dengan Haris.

"Kita nggak punya hak buat nyeritain, biar Mas Rino aja yang nyertiain sendiri," ujar Felix. Ia berpikir tidak sopan jika menceritakan hal tersebut sedangkan itu adalah masalah pribadi.

"Pokoknya kalau Mas Rino nggak cerita sendiri jangan ada yang tanya!" peringat Mika menunjuk teman-temannya menggunakan garpu.

Ngomong-ngomong, mereka menunggu kabar sambil makan mangga hasil minta ke rumah Pak RT.

"Yan, beli sate di depan sono, gue laper." Haris seenak jidat memerintah adiknya yang duduk tepat di sebelah.

Aryan yang sedang memainkan ponsel melirik sebal. "Kenapa gue terus yang disuruh? Beli sendiri aja."

"Udahlah nurut aja," kata Haris mengacak puncak kepala cowok itu. "Gue males."

"Ya sama gue juga males."

"Ck lo kan adiknya!"

"Elo kakaknya."

"Tapi kan—"

Tiba-tiba mereka berhenti berdebat dan menoleh pada seseorang. Yang ditatap langsung mendelik galak.

"Kak Mika yang beli ajalah," pinta Aryan.

"Dih kok nyuruh gue! Elo adeknya, berani banget nyuruh kakak!" balas Mika.

"Udah udah sono cowok-cowok aja yang beli, sekalian sholat berjamaah ke Masjid tuh, udah Maghrib." Prima melerai pertengkaran antar saudara sebelum makin ribut.

"Mager, masjidnya jauh," kata Haris.

"Yis," panggil Mika. "Nanti surganya jauh juga."

Haris mendecak seraya bangkit dari tempat duduknya. "Aji, Felix, Aryan, Esa, cepet ke Masjid!"

Perfect Housemates ✔Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang