Rumah itu bukan rumah biasa.
Tersimpan banyak kisah dari para penghuninya.
Disclaimer : semuanya hanya fiksi yang tidak ada hubungannya dengan realita sama sekali.
Started : 10 Oktober 2020
End : 14 Januari 2021
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rumah benar-benar sepi waktu Rino melangkah masuk. Tadi Rino lagi santai di warung dekat rumah sambil mengerjakan skripsi orang waktu membaca chat Esa di grup. Tadinya Rino cuek bebek tapi kalau dipikir-pikir kasihan juga cowok itu dibiarkan kekunci di dalam kamar saat punya jadwal kuliah. Maka dari itu dengan sedikit terpaksa Rino pulang dan berusaha mendobrak pintu walau beberapa kali percobaan tetap gagal.
"Lebih kuat dong, Mas! Lo tuh bisanya apa sih? Ngatain orang doang jago," omel Esa dari dalam.
"Heh kalau ngomong disaring dulu pakai otak! Udah dibantuin juga!" balas Rino dari luar menendang keras pintu kamar B07 di lantai dua.
"Iya iya sori, cepetan dobrak lagi!"
"Cerewet lo kampret!"
Rino ingin meninggalkan Esa terkurung sendirian kali ini. Sayangnya sekali rasa tidak tega kembali muncul dengan menyebalkan.
Sebetulnya malu mengakui ini, tapi Rino memang sayang sama semua penghuni di rumah ini. Termasuk Esa yang sering ribut dengannya.
Kedua pemuda ini memiliki hubungan yang aneh. Mereka sering banget ribut karena hal-hal kecil. Kadang Rino yang mulai karena cowok itu menganggap Esa sebagai hiburan dan mangsa untuk diusili. Tapi itu terjadi jika Rino benar-benar pusing dengan pekerjaannya sebagai joki tugas dan skripsi. Esa yang lebih sering memulai duluan.
Pernah suatu waktu Esa mengerjai Rino dengan mengopy pekerjaan cowok itu di flashdisknya lalu menghapus dokumen yang ada di laptop. Seketika itu Rino mengamuk. Mereka kejar-kejaran di dalam rumah yang luasnya tak seberapa ini.
Bodohnya Haris dan Aji malah jadi tim hore sementara Bayu panik ingin mereka berhenti berlarian dan menyelesaikan masalah dengan kepala dingin. Nina dan Prima yang pulang kuliah bersamaan langsung kaget melihat kekacauan di dalam rumah.
Keributan itu berakhir dengan Rino yang menangis karena deadline-nya lusa dan dia tidak memiliki back up lain. Setelah tangisan Rino itulah Esa akhirnya mengatakan yang sebenarnya. Sayangnya pasca hari itu Rino mengabaikan Esa selama dua minggu penuh, yang mendamaikan mereka berdua adalah martabak telur traktiran Calvin.
"MAS KOK NGGAK DOBRAK LAGI?!" teriak Esa ketika Rino terdiam di depan pintu sambil berpikir.
"Bentar elah, badan gue sakit semua njir!" balas Rino mengusap lengannya.