Rumah itu bukan rumah biasa.
Tersimpan banyak kisah dari para penghuninya.
Disclaimer : semuanya hanya fiksi yang tidak ada hubungannya dengan realita sama sekali.
Started : 10 Oktober 2020
End : 14 Januari 2021
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Liburan telah selesai. Minggu ini memasuki minggu kartu rencana studi (KRS). Kampus lumayan ramai di minggu-minggu seperti ini. Ada yang membayar uang semester, mengisi KRS bersama agar bisa mendapat kelas yang sama dengan teman dekat, ada juga yang datang hanya karena ingin makan makanan di kantin dan bertemu dengan teman-teman yang tidak ditemui selama hampir satu bulan.
Selesai mengisi KRS di perpustakaan, Esa pergi dari ruangan sepi itu dengan tas yang dikaitkan di lengan kanan. Bersiap menuju kantin untuk rapat panitia acara Pekan Olahraga Universitas Mandala.
"Gimana Bang, publikasi aman?" tanya Esa seraya meletakkan tasnya di kursi kosong lantas menghampiri Adimas yang duduk tidak jauh.
Adimas mengangguk. "Semua persiapan udah beres. Promosi ke BEM sama himpunan dipegang sama Mika, promosi media sosial dipegang sama Shasha."
"Promosi media sosial kenapa Mbak Shasha?" tanya Esa mengerutkan kening.
"Daya tarik Shasha itu besar banget, kalau mau acara ini rame ya gandeng Shasha."
"Jadi Mbak Shasha digunain buat marketing?"
"Itu bahasa kasarnya," jawab Adimas tertawa kecil. "Tapi apapun tujuannya, dia itu panitia juga kan di sini."
"Tapi apa bedanya kalau dipegang sama orang lain?"
"Selain upload poster, divisi gue juga mau promosi pakai video sama foto pas countdown. Nah kalau yang nampang di video sama foto itu Shasha, kemungkinan besar banyak yang tertarik. Lo tau sendiri gimana popularitas Shasha di kampus dan di luar kampus. Kita juga bisa ramein acara penutupannya kalau Shasha yang promosiin."
Kali ini Esa mengangguk paham. "Udah berapa yang daftar?"
"Kalau itu tanyain ke anak acara, atau nanti pasti bakal dibahas." Adimas menutup laptopnya. "Oh iya, bulan depan kan gue sidang skripsi, jadi kemungkinan gue nggak bisa full ngurus publikasi."
"Oke, bulan depan juga udah pelaksanaannya," jawab Esa enteng. "Ngomong-ngomong, ntar kalau lo sibuk, gue bisa nanya-nanya ke siapa?"
"Karena lo satu kos sama Mika dan Shasha, tanya aja ke mereka."
"Oh oke. Thank you, Bang," ucap Esa lantas berjalan ke salah satu warung di kantin.
Ia belum sarapan ketika berangkat ke kampus tadi, jadi sekarang perutnya keroncongan. Untuk bisa fokus dalam rapat maka dia harus mengisi perutnya. Karena sesunngguhnya perut adalah perusak konsenterasi manusia yang sesungguhnya. Ketika perut lapar maka yang terpikirkan oleh otak adalah makanan.
"Bu, nasi goreng satu pakai telur ceplok tapi nggak pakai kuning telurnya. Sama es teh manis satu," pesannya pada ibu kantin.
"Saya juga pesen yang sama, tapi kuning telur punya dia kasih ke saya aja," sahut Mika yang tahu-tahu muncul di samping Esa. "Dia yang bayar."