Rumah itu bukan rumah biasa.
Tersimpan banyak kisah dari para penghuninya.
Disclaimer : semuanya hanya fiksi yang tidak ada hubungannya dengan realita sama sekali.
Started : 10 Oktober 2020
End : 14 Januari 2021
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Rino memasuki rumah dengan tidak bersemangat. Bahunya merosot, tatap matanya sendu, dan langkahnya terasa berat.
"RINOOOOOO!!!"
Teriakan Shasha membuat Rino yang sampai di depan kamarnya menoleh kaget. Apalagi tiba-tiba Shasha menjadikannya sebagai tameng. Ia kemudian melihat Calvin membawa spatula terlihat kesal.
"NO MINGGIR NO, GUE TABOK TU CEWEK!" omel Calvin terus berusaha meraih Shasha tapi cewek itu terus bersembunyi di balik tubuh Rino.
Rino mendecak. Ia pasrah saja tubuhnya terhuyung ke sana sini. Satu hal yang dia mengerti tentang keadaan saat ini. Kemungkinan besar Shasha mengacau lagi di dapur.
Rino heran, Shasha ini cewek tapi kalau di dapur benar-benar parah. Gadis itu tidak bisa mengerjakan apapun selain masak mie instan dan kupas bawang.
"Calvin i love you so much," ucap Shasha berusaha merayu cowok garang itu.
"But i'm not! Sini lo!" Calvin masih belum menyerah. "No, minggir dulu elah, jangan ngalangin!"
"Tapi dia megangin gue," jawab Rino menoleh ke belakang sedikit.
"Enak aja! Gue udah kerja keras buat masak dan seenaknya lo ngacau bikin makanan gue keasinan!"
Nah kan. Benar dugaan Rino. Ini semua tentang Shasha yang mengcau di dapur. Seandainya Shasha itu adiknya, maka Rino akan memasukkan cewek ini ke tempat kursus masak. Biar nggak parah-parah banget.
"Udah Cal, lo kejar terus entar gue yang nggak bisa cepet istirahat," mohon Rino. Ia sudah benar-benar capek seharian ini banyak kegiatan.
Shasha mengangguk dengan tampang melas. "Beneran gue beliin makanan buat makan malam. Lo mau apa? Gue beliin deh, serius."
Calvin mendecak. "Beneran ya!"
"Iya iya beneran gue beliin. Lo mau apa?"
"Lepasin gue," kata Rino menoleh pada Shasha lagi.
Shasha melepaskan tangan yang dari tadi berada di pundak Rino. Rino langsung masuk ke kamar setelah terlepas dari cengkramannya.
"Mana hape lo?" tagih Calvin.
"Buat apa?" tanya Shasha mengangkat sebelah alis.
"Pesen makanan lah."
Shasha memberikan ponselnya pada cowok itu. Membiarkan anak sultan memesan apapun. Walau dalam hati was-was juga takut bocah ini pesan yang mahal-mahal.