.
.
~•~
.
.
Akhirnya mereka keluar dari ruangan meeting, Esson kembali keatas dan disusul oleh Lia sambil tangan kirinya menenteng beberapa berkas yang diserahkan oleh Rangga saat meeting tadi, dan tangan kanannya membawa tablet.
Sesampainya diruangan, Lia duduk di kursinya. sementara Esson langsung masuk keruangannya dengan langkah yang cepat dan terburu-buru.
Lia melirik ke arah jam tangannya, sebentar lagi jam 2. perutnya sudah keroncongan sejak tadi.
Apa aku juga tak diperbolehkan makan siang?
Lia membuka tablet tadi membaca ulang semua hasil rapat yang ia ketik disana, berharap tidak ada kesalahan yang membuat bos nya marah dan merendahkan dirinya lagi.
Setelah lima menit membaca dan memeriksa lagi hasil ketikannya, Lia bangkit dari duduknya hendak menuju ruangan Esson, saat membuka pintu ruangan, Lia berdecak kagum dan terpana melihat pemandangan dihadapannya.
Masya Allah. Ucapnya dalam hati, saat melihat Esson sedang melaksanakan sholat dzuhur.
Ternyata tadi ia terburu-buru karena mau ngejar sholat dzuhur. Nggak nyangka aku. dibalik sifat angkuhnya ternyata ia rajin beribadah.
Lia kembali lagi ke tempat duduknya. Karena saat ini ia sedang datang bulan, maka ia tidak terlalu memusingkan dimana ia akan melaksanakan sholat.
Sepuluh menit kemudian, Esson keluar dari ruangannya.
"Ayo Lia, bawa tabletnya." Ucap Esson dengan nada lembut dan tidak kasar seperti biasanya.
Tumben nada bicaranya nggak kasar, oh mungkin karena selesai sholat jadi hatinya adem. Tapi, kemana lagi? aku belum makan siang loh, emangnya ini kerja rodi ya? Ya Allah, kenapa begini nasibku. apa besok aku resign aja.
Lia mengikuti langkah Esson dan membawa apa yang ia perintahkan. Kali ini Lia terlalu malas untuk bertanya kemana kemana dan kemana. Lia hanya mengikut saja. la memperhatikan tangan Esson memencet tombol ground, lantai dasar bahkan disana adalah basemen tempat parkir mobil.
Tetap tanpa bertanya apapun Lia terus mengikuti Esson hingga berhenti di samping sebuah mobil mewah,
"Masuk, cepat." Ucap Esson yang melihat Lia masih bengong.
Lia duduk disebelah Esson yang sedang mengemudikan mobil mewahnya. Tapi karena kali ini keluar dari kantor, terpaksa Lia membuka mulut dan mengeluarkan suaranya, "Kita mau kemana Pak?"
"Saya lapar, tapi saya tetap harus bekerja." Jawabnya.
"Lalu?" Lia mengerutkan dahi. Ini orang maunya apa? kalau lapar ya makan lah. emangnya cuma Anda yang lapar, aku juga.
Esson tidak menjawab, ia hanya fokus mengemudikan mobilnya.
Setelah perjalanan sekitar dua puluh menit, Esson memarkirkan mobilnya di depan sebuah restoran yang lumayan mewah, salah satu restoran yang cukup terkenal di kota itu.
Oh mungkin dia mau meeting lagi ya disini.
Lia turun dari mobil, mengikuti Esson, kemudian mereka duduk di pojokan, restoran itu terlihat sepi.
Pelayan memberikan menu kepada kami. Lia hanya diam sementara Esson sibuk memilih.
"Kenapa kamu nggak melihat menunya?" Tanya Esson, matanya tetap fokus melihat lihat isi menu makanan tersebut.
"Oh, saya boleh pesan juga Pak?" Tanya Lia.
"Lia, kamu ini polos atau bodoh? untuk apa saya ajak kamu kesini kalau hanya saya yang makan sementara kamu hanya menonton? saya nggak sekejam itu Lia." Ucapnya.
Lagi-lagi dia ngatain aku
Lia memilih menu yang sangat simple dan menurutnya mudah cara memakannya, yaitu nasi goreng seafood dan jus melon.
Setelah memesan, "saya mau lihat hasil pembicaraan saat meeting yang sudah kamu catat di tablet," ucapnya tegas.
"ini Pak," Esson meraih tablet itu dari tangan Lia, kemudian mulai membaca setiap kata yang di ketik Lia.
"Bagus," Itulah yang terucap dari bibirnya. Membuat Lia melengkungkan bibirnya dan tersenyum.
Akhirnya dia melihat hasil kerjaku.
drt...drt....drt... saat pesanan sudah datang dan mereka sedang makan, ponsel Lia terus bergetar, dia terlalu segan untuk menerima panggilan itu. ia terus menatap ke layar ponselnya.
Dita memanggil.
"Kenapa nggak di jawab?"
"Saya permisi sebentar ya Pak," Lia bangun dari kursinya.
"Disini saja,"
"Tapi Pak,"
"Emangnya itu siapa? dari pacar kamu?"
"Bukan Pak, teman saya Dita." Jawabnya jujur.
Akhirnya Lia menerima panggilan itu.
"Halo Dit,"
"...."
"Iya ini aku lagi makan," ucapnya pelan sedikit berbisik, tapi percuma sepelan apapun ia mengecilkan suaranya Esson yang berada dihadapannya tentu saja mendengar.
"sama.. ehm," Lia terlalu enggan menyebut dengan siapa ia sedang makan, kemudian tiba-tiba Esson meraih ponsel Lia dari tangannya, Lia menahannya namun tentu ia kalah dengan tenaga Esson.
"Halo, ini saya Esson, dan sekarang Lia sedang makan bersama saya, apa ada hal yang penting?"
"......."
Panggilan berakhir, Esson meletakkan
kembali ponsel Lia, kemudian melanjutkan makannya. Lia menggeleng melihat kelakuan bosnya.
Bahkan urusan pribadiku juga dia campuri,
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesayangan Presdir
RomanceLia Dami seorang gadis polos berusia 21 tahun, menjadi sekretaris dari seorang Pimpinan Perusahaan Property terbesar di kota Jakarta, bernama Esson Bramasta berusia 26 tahun. Karena keseringan bersama, lama kelamaan antara Bos dan Sekretaris itu sal...
