13. Penyesalan

258 15 0
                                        

.
.
~•~
.
.

Esson mulai mencari-cari Apartemen kosong yang bisa ia sewa, ia melakukan pencarian pada google. Sebenarnya bisa saja Esson meminta salah satu rumah atau apartemen milik Papahnya selaku pemilik perusahaan WUSHI GRUP. Namun menurutnya hal itu mustahil. Tidak mungkin Papahnya mau memberikannya karena Papahnya ingin sekali Esson tetap tinggal bersamanya, walaupun sejak kecil Esson memang sulit menerima kehadiran Ibu tirinya dirumah itu.

Sedikit cerita tentang Esson, dia merupakan anak kedua dari Bapak Wushi Kusuma, setelah tamat SMA Esson memilih untuk kuliah ke luar negeri mulai dari Sarjana hingga Magister. Dengan senang hati Esson menerima tawaran Papahnya untuk meneruskan pendidikan bisnis ke kota New York, daripada ia harus tinggal di Jakarta dan hidup serumah bersama dengan Ibu tiri.

Ibu kandung Esson sudah meninggal ketika ia berusia 15 tahun, saat itu ia duduk di bangku SMA, Ibunya meninggal karena sakit. Sebelum Ibunya meninggal, Esson adalah anak yang lembut dan penurut.

Namun setelah kepergian Ibu kandungnya, apalagi setelah Papahnya menikah lagi, sifatnya benar-benar berubah menjadi kasar. Esson seolah tak terima jika posisi Mamanya digantikan oleh orang lain.

Hasil pernikahan kedua Papahnya itu, Esson memiliki seorang adik perempuan, namun Esson tidak menaruh benci kepada adiknya itu, mereka sering akur layaknya abang adik.

Namun hubungan Esson dengan Ibu tirinya tidak pernah baik, meski terkadang Ibu tirinya sesekali bersikap baik padanya namun Esson tetap tidak memperdulikan, bahkan dari awal perkenalan hingga saat ini Esson masih memanggilnya dengan sebutan Tante.

***

Setelah menemukan apartemen yang menurutnya bagus untuk ia tempati, karena hari sudah semakin siang, ia pun bergegas mandi di kamar mandi yang berada di ruangannya. Sejak kedatangannya kemarin, Esson sudah mempersiapkan dan membawa beberapa keperluannya karena memang ia berniat tinggal di kantor untuk beberapa hari, sampai ia benar-benar siap kembali kerumah itu.

Setelah selesai mandi, Esson keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan selembar handuk putih.

Tak lama kemudian Rangga masuk,

"Eh lo ngagetin aja,"

"untung gue yang masuk, kalau Lia gimana?"

"Gak bakalan dia masuk kesini," ucapnya sambil mengenakan pakaian nya di hadapan Rangga, ia sudah terbiasa melakukan itu karena mereka memang sudah akrab sejak balita. Bahkan Esson sering menginap di rumah Rangga jika sedang bertengkar dengan Ibu tirinya.

"Eh iya tumben jam segini dia belum datang,"

"Dia nggak bakal datang lagi Rang," Esson mendengus kesal.

"Kenapa? lo pecat dia ya, keterlaluan lo."

"Gue nggak segila itu, tuh lo lihat," sambil wajahnya mengarahkan ke arah meja kerjanya.

Rangga mengerti apa yang di maksud Esson, kemudian langsung mengambil dan membaca surat dari Lia tersebut, Ridwan mengerutkan dahi.

"Parah lo ya, lo pasti sering banget ngatain dia ya?"

"Nggak juga, dia nya aja yang terlalu lebay,"

"berdasarkan kata-katanya di surat itu, sepertinya hatinya terlalu sakit. lo nggak mikir ya gara-gara perkataan lo itu seseorang jadi kehilangan pekerjaan." meletakkan kembali surat itu di atas meja

"Lalu menurut lo gue harus gimana sekarang? dia udah terlanjur mengundurkan diri, dan itu pilihan nya,"

"Mending lo minta maaf, dan minta dia kembali bekerja," Esson langsung mengubah ekspresi wajahnya ketika mendengar saran Rangga yang menurutnya tidak masuk akal.

"Lo gila ya," ucapnya kesal.

"Ya udah terserah lo aja, renungin aja baik baik gimana perlakuan lo terhadap Lia, pantas nggak sebagai sesama manusia, ya itu sih kalau lo berperasaan," Rangga terus  mengomeli Esson.

"Ah sejak kapan lo jadi cerewet? ngomong ngomong lo mau ngapain kesini,"

"Rencana mau ngajak lo sarapan bareng, gue tahu lo pasti nginap di sini semalam."

"Ya udah yuk,"

Kemudian mereka sarapan bersama di kantin perusahaan, begitu banyak karyawan-karyawan wanita yang melirik mereka, karena Rangga termasuk pria yang ramah, maka sesekali ia melemparkan senyum kepada mereka. Namun berbeda dengan Esson yang tak menghiraukan sama sekali.

"Jadi lo mau nyari sekretaris baru?" Rangga membuka pembicaraan.

"Belum tahu, kayaknya gue masih bisa handle sendiri. " Jawabnya.

"Lo yakin, lo bisa milih tuh salah satu dari mereka," sambil mengarahkan wajahnya pada segerombolan wanita-wanita cantik yang sedang makan bersama.

"Nggak," Jawabnya singkat.

Sebenarnya sejak tadi Esson terus memikirkan apa yang harus ia lakukan,

Apa harus aku memanggilnya kembali untuk bekerja?

"Gue nggak yakin Lia mau balik kerja lagi," Ucapnya

"Lo kan belum nyoba, mending lo cari tahu alamatnya atau kontaknya, hubungi sekarang," Rangga.

"Sebenarnya gue nyesel sih sudah berlaku kasar ke dia, tapi gue nggak sengaja, setiap kata yang gue ucapin ke dia seperti keluar gitu aja," akhirnya Esson mengaku bahwa dirinya memang salah.

"Ya itu karena tempramen lo yang buruk, ya udah ayo cepetan gue masih banyak kerjaan," Jawab Rangga.

"Gue bingung, sebenarnya yang bos disini gue atau lo sih, hahaha," kemudian mereka  tertawa bersama.

***

Lia yang merasa bosan karena terus berada di kamar, ia mencoba mencari kesibukan dengan mencari lowongan pekerjaan lain di laptopnya. Sejak pagi hingga siang ini ia belum keluar kamar sama sekali, karena niatnya adalah terlihat sakit, jika ia beraktifitas seperti orang sehat, tentu Ayahnya akan curiga.

Jauh di dalam hati Lia terdapat penyesalan karena sudah melakukan pengunduran diri, namun terkadang ia kembali mengingat bagaimana Esson memperlakukan nya seperti orang yang tidak berharga.

Tidak Lia, keputusanmu sudah tepat untuk meninggalkan bos gila itu, jangan ada penyesalan sedikitpun.

Ucapnya dalam hati sambil menggelengkan kepalanya dan matanya fokus kembali ke layar laptop.

***

Bersambung...

Kesayangan PresdirTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang