.
.
~•~
.
.
Setelah kembali keruangan, Esson tidak bisa fokus dengan pekerjaan nya, ia terus saja memikirkan Lia. Terutama memikirkan bagaimana cara mengajak Lia kembali bekerja. Kemudian Esson mengambil ponselnya dan melakukan panggilan kepada Kepala HRD.
--- dalam panggilan ---
"Selamat siang Bu Raia, saya minta tolong antarkan daftar riwayat hidup atas nama Lia, keruangan saya sekarang ya," Ucapnya.
"Baik Pak."
Panggilan berakhir.
Beberapa menit kemudian, kepala HRD masuk dan ia heran melihat kursi dan meja yang harusnya di tempati Lia, hari ini malah kosong.
Kemana si Lia?
Lalu ia masuk keruang utama tempat Esson berada, dan membawa apa yang di minta Esson,
"Permisi Pak,"
"Iya, silahkan letakkan dimeja," Ucap Esson sambil melihat layar laptopnya.
"Kalau saya boleh tahu, untuk apa ya Pak?" Tanya Raia.
"Saya ada perlu," ucapnya singkat.
"Oh begitu Pak, Lia kemana Pak?"
"Dia tidak masuk hari ini, karena sakit."
"Wah, sayang sekali baru dua hari kerja," Ucapan nya terhenti karena Esson
"Ya sudah Bu Raia terimakasih ya, saya mau lanjut kerja." Ucapnya.
"Baik Pak, saya permisi."
Setelah Raia pergi meninggalkan ruangan, Esson langsung membuka map hijau yang berisi daftar riwayat hidup milik Lia.
"Ternyata benar dia masih 21 tahun, tentu saja sifatnya masih kekanakan, apalagi baru terjun ke dunia kerja." kemudian Esson melihat sekilas photo Lia yang tertempel di data tersebut. la pun tersenyum kecil, dan memandangi foto Lia. kemudian tersadar, tujuannya bukan itu. Tapi untuk mencari alamat dan kontak Lia.
Kemudian Esson mengambil ponselnya dan menyimpan nomor Lia dengan nama Si Cengeng.
Sungguh kejam bukan?
Beberapa kali ia berpikir,
Haruskah aku menghubunginya?
Tanpa ragu lagi Ibra langsung melakukan panggilan kepada Lia, namun tak ada jawaban hingga akhirnya terputus.
Sepuluh menit kemudian Lia mencoba lagi, namun hasilnya sama.
Kemana dia apa jangan-jangan dia bunuh diri? karena terlalu sakit hati. tiba-tiba Esson berpikiran yang tidak-tidak.
Esson turun ke lantai lima, untuk menemui Rangga. Ketika ia masuk keruang Marketing VIP, seketika para karyawan yang berada disana terbelalak, panik dan langsung bangkit dari duduk mereka. Karena ini kali pertama Esson berkunjung keruang itu. Namun Esson hanya tersenyum sedikit ke mereka dan langsung menuju ke ruangan Rangga.
"Rangga lo harus bantu gue," Ucapnya.
"Bantu apa?" kemudian Rangga bangun dari kursinya karena melihat wajah Esson yang sedikit panik.
"Gue khawatir Lia kenapa-kenapa, soalnya udah bolak balik gue call tapi ngga ada jawaban."
"Kenapa lo harus khawatir? bukannya lo nggak peduli."
"Jangan-jangan dia bunuh diri Rang karena sakit hati dan kehilangan pekerjaan,"
"Ah lo mikirnya kejauhan," Ucap Rangga kemudian tersenyum.
"Bisa aja kan? ayo temenin gue sekarang kerumah Lia." Ajaknya.
"Wah maaf Pak Bos, gue nggak bisa setengah jam lagi gue harus ketemu klien di The Westin Hotel." Rangga menolak mentah-mentah ajakan Esson.
"Lo tega sama gue? lo kan bisa nyuruh mereka untuk mewakili,"
"Nggak bisa Sson, ini calon pembeli properti dengan nilai dua belas milyar, harus gue langsung yang turun tangan, lo kan bisa pergi sendiri,"
"Ah payah lo," Esson langsung pergi meninggalkan Rangga, dan turun ke bawah, ia benar-benar ingin mencari alamat Lia.
Rangga menggeleng melihat tingkah sepupunya itu.
Heran deh, ini perusahaan milik Papanya, dia bos besar disini, malah terlihat nggak peduli sama sekali soal klien, kan lebih penting.
Esson melajukan mobilnya dengan di pandu oleh Map yang ada di dalam mobil mewahnya untuk mencari alamat Lia. Baginya Lia lebih penting sekarang, karena dia benar-benar takut bisa saja Lia bertindak konyol. yaitu bunuh diri.
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesayangan Presdir
RomanceLia Dami seorang gadis polos berusia 21 tahun, menjadi sekretaris dari seorang Pimpinan Perusahaan Property terbesar di kota Jakarta, bernama Esson Bramasta berusia 26 tahun. Karena keseringan bersama, lama kelamaan antara Bos dan Sekretaris itu sal...
