.
.
~•~
.
.
Sepulang dari acara wisuda, Lia begitu bersemangat menyiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan lamaran pekerjaan nya di PT. Wushi Property. Perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan property terbesar di kota mereka.
"Pas photo, yang mana ya? ini aja deh yang terbaru,"
Kemudian Lia melanjutkan mengetik daftar riwayat hidup, ia membuatnya semenarik mungkin berharap dirinya dapat diterima di perusahaan tersebut pada posisi tim marketing.
Terlebih nilai IPK nya yang di atas rata-rata, membuat Lia semakin yakin kalau dirinya akan di terima bekerja di perusahaan tersebut.
Tapi ada satu hal yang membuat Lia ragu yaitu, syarat khususnya harus berpenampilan menarik.
"Gimana mau menarik? dandan aja aku nggak bisa, alat make up aku cuma tahu bedak, lipstik sama maskara." Katanya sambil melirik ke arah meja riasnya.
"Tapi apa salahnya dicoba, kalau rejeki nggak kemana, semangat Lia, demi Ayah dan Ibu," ia menyemangati diri sendiri.
Ceklek
Pintu kamar terbuka,
"Duh yang lagi semangat nyari kerja," Ibu Maryam masuk menghampiri anaknya.
"lya Bu, doain ya." Ucap Lia sambil terus mengetik.
"Pasti Nak, do'a Ibu selalu menyertaimu,"
"Terimakasih Bu," Menoleh ke arah Ibu dan tersenyum.
***
Keesokan harinya, Lia sudah bersiap rapi dengan kemeja putih dan pita yang terikat di bagian kerah membuat baju yang ia kenakan tambah manis dan fashionable. Kemeja tersebut ia padukan dengan celana panjang berwarna hitam. Penampilannya hari ini benar benar terlihat seperti orang yang sedang melamar pekerjaan. Tidak lupa ia menguncir rambutnya agar terlihat rapi.
"Bu, bagaimana penampilan Lia?"
"Cantik, sayang." Jawab Ibu Maryam.
"Bu, apa Lia termasuk berpenampilan menarik? soalnya itu syarat khusus untuk masuk tim pemasaran Bu," Tanya Lia lagi, yang ragu akan penampilannya.
"Tentu saja kamu menarik, Nak."
"Ibu nggak hanya sedang memuji karena Lia anak Ibu kan? haha." Inayah meragukan jawaban Ibunya.
"Enggak, kamu cantik. Percayalah, ayo semangat," Menepuk pelan bahu Lia.
"Baiklah Bu, Lia berangkat ya," tidak lupa menyalami dan mencium tangan Ibunya.
"Hati-hati Nak, semangat!"
***
Mereka berempat Lia, Dita, Hana dan Jinny sudah berada di depan gedung kantor PT. Esson Property.
"Duh, aku gemetaran nih," Ucap Jinny.
"Ih sama." Sahut Hana.
"tenang-tenang, jangan sampai kegugupan kita ini membatasi kita apalagi saat di interview nanti," Ucap Lia berusaha menenangkan kedua sahabatnya itu.
"Setuju, ayo kita masuk dan langsung ke bagian HRD," Ucap Dita.
Mereka ber empat begitu bersemangat, sesampainya di depan ruang HRD, ternyata ada beberapa orang juga yang sudah menunggu untuk di panggil.
"Udah ngantri ternyata," Bisik Lia pada Jinny.
"Iya ih, padahal kita udah berusaha untuk datang lebih awal kan," Jinny.
***
Setelah 2 jam menunggu, akhirnya mereka dipersilahkan masuk keruang HRD, satu persatu. Lia dan Dita sangat bersyukur karena mereka diterima di bagian Marketing VIP. Lia sangat bahagia, ia langsung membayangkan wajah kedua orang tuanya. Rasanya Lia ingin langsung bersujud syukur pada saat itu, tapi itu tak mungkin ia lakukan.
Sementara Hana dan Jinny, mereka juga diterima dan lolos interview. Namun mereka di posisikan di bagian marketing basic.
Yang membedakan marketing VIP dan basic adalah nilai properti yang akan dijual. Tim Marketing VIP adalah khusus pemasaran properti yang nilanya 1 milyar ke atas. sedangkan yang basic untuk harga yang dibawah 1 milyar.
Mereka ber empat sudah berkumpul lagi di bawah, di depan gedung perusahaan.
"Nggak nyangka besok kita udah memulai rutinitas disini," Kata Dita.
"Iya ya, gedung mewah ini akan menjadi tempat kita mencari nafkah, haha." Sambung Lia.
Saat kuliah, Mereka ber empat tergolong mahasiswi yang pintar dan berprestasi di bandingkan yang lainnya, hal ini dibuktikan dengan prestasi yang mereka raih sebagai cumlaude. Maka diusia mereka yang masih 21 tahun, mereka sudah menyandang gelar sarjana.
"Gimana untuk merayakan momen kita hari ini, kita makan bakso ditempat langganan kita waktu di kampus dulu, ayo," Seru Jinny pada yang lainnya.
"Boleh banget tuh, yuk." Ucap Dita.
***
Bersambung...
KAMU SEDANG MEMBACA
Kesayangan Presdir
RomantiekLia Dami seorang gadis polos berusia 21 tahun, menjadi sekretaris dari seorang Pimpinan Perusahaan Property terbesar di kota Jakarta, bernama Esson Bramasta berusia 26 tahun. Karena keseringan bersama, lama kelamaan antara Bos dan Sekretaris itu sal...
