9. Pusat Perhatian

240 16 0
                                        

.
.
~•~
.
.

Lia langsung mengambil ponselnya dan terus menatap Esson yang sedang menikmati steak dengan tatapan aneh, yang jelas terdapat benih-benih kebencian pada tatapan itu.

"Kenapa kamu terus menatap saya seperti itu, apa karena wajah saya terlalu tampan?" Sebenarnya Esson tahu jika Lia sedang sangat marah.

kamu berani marah Lia? silahkan saja kalau kamu mau bekerja di tempat lain. Tersenyum getir.

Lia belum menghabiskan makanannya, karena kejadian itu, ia sudah tidak berselera lagi meneruskan makannya. Padahal perutnya masih sangat lapar.

Lia terus menunduk tidak menghiraukan pertanyaan konyol dari bosnya itu, Lia sedang mencoba menahan emosinya.

Meletakkan garpu dan pisau, "kamu marah sama saya Lia?" tanya Esson.

"Enggak Pak," jawab Lia santai.

"Kau seharusnya berterima kasih pada saya," melempar senyum ke Lia.

"Terimakasih untuk apa ya Pak?" Lia mengerutkan dahinya.

"Saya hanya membantu kamu untuk menjawab pertanyaan temanmu tadi, sepertinya kamu kesulitan bicara tadi, makanya saya bantu." kemudian Esson meneruskan makannya yang hampir selesai.

"Haha. tapi itu nggak perlu Pak." Lia tersenyum sinis.

"Cepat selesaikan makanmu, setelah ini kita kembali ke kantor," Ucap Esson sambil mengelap pinggir bibirnya dengan tisu.

"Tapi saya sudah hilang selera Pak," Ucap Lia kemudian bangkit dari duduknya.

"Hei, mau kemana kamu?"

"Mau ke toilet, kenapa? Bapak mau ikut?" Tanya Lia ketus.

"Hem, sana..sana, cepat ya. lima menit!"

Membuat gerakan tangan di udara tanda mengusir.

Hahaha, ternyata bisa marah juga dia.

Esson tersenyum kecil menatap Lia yang berbalik menuju ke toilet.

Dasar bos sia*lan.

Lia berada di toilet sekitar sepuluh menit, ia sengaja berlama-lama membuat bosnya itu menunggu. Saat Lia kembali, ia tidak melihat Esson disana, matanya mencari-cari di setiap sudut restoran hingga ke kasir, namun ia tidak melihatnya.

Aku di tinggal? oke. lebih bagus, mending aku naik taksi.

Lia melangkah keluar, dan ternyata Esson menunggunya di depan restoran.

"Kenapa lama sekali?" Lia menoleh ke kanan,

"Oh, saya kira Bapak ninggalin saya."

"Mana mungkin saya ninggalin kamu, pergi sama saya kembali juga sama saya." Jawab Esson menatap tajam ke Lia.

"Padahal saya berharap Bapak sudah kembali, dan saya bisa naik taksi aja." Lia menjawab dengan nada ketus. dan menatap tajam ke Esson.

"Oke kalau itu mau kamu," Esson menuju ke mobilnya, dan langsung melaju, ia benar-benar meninggalkan Lia.

Wanita aneh, harusnya dia bersyukur bisa duduk disebelahku, makan berhadapan denganku, itu adalah impian setiap wanita. Esson memang narsis berlebihan, benar memang ia memiliki wajah tampan dan harta berlimpah, tapi Esson lupa jika ia memiliki tempramen yang buruk dan kasar.

Lia bernafas lega saat Esson benar-benar pergi meninggalkannya.

"Hah, lebih baik aku mengeluarkan sedikit uangku untuk naik taksi dari pada harus bersebelahan lagi dengan dia," Kemudian Lia mengambil ponselnya membuka aplikasi pemesanan taksi online.

setelah lima menit melakukan pemesanan ternyata tidak ada yang driver yang mengambil.

tiba-tiba...

tin...tin..

tin...tin...

Terdengar suara klakson mobil, Lia melihat ke arah mobil tersebut, dan ternyata Esson kembali menjemputnya.

"Maunya apa sih tuh orang?" terus menggerutu kemudian berjalan ke arah mobil Esson.

"Kamu masih mau kerja nggak? atau udah menemukan pekerjaan lain?" Tanya Esson dengan ketus, kemudian tanpa menunggu lama lagi Lia langsung naik ke mobilnya. Lia menghela nafas panjang, ia terus memikirkan rencananya yaitu ingin resign, tapi seketika ia langsung mengingat wajah kedua orang tuanya jika ia melakukan itu.

Sabar, sabar. Aku harus sabar menghadapi bos seperti ini.

"Kamu jangan besar kepala ya, saya kembali menjemput kamu bukan karena khawatir, tapi jika kamu harus naik taksi atau ojek, berapa lama lagi harus menunggu? dan berapa lama lagi kamu sampai ke kantor, pekerjaan masih banyak." Lia hanya diam mendengar ocehan bosnya itu.

"Halo, saya sedang berbicara dengan kamu Lia, bukan dengan stir mobil dihadapan saya ini,"

"Iya Pak, maaf." Jawab Lia singkat.

"Saya paling nggak suka kalau saya bicara tidak ditanggapi, paham?"

"Iya Pak," tak ada jawaban lain yang keluar dari mulut Lia.

***

--- kantin Perusahaan ---

"Kok bisa sih Lia makan bareng Pak Esson ganteng?" Tanya Jinny sambil mengaduk aduk jus nya dengan menggunakan sedotan.

"Iya ih, semoga aja mereka cinlok kayak di film-film gitu, sweet banget pastinya," Sambung Hana.

"Kalian jangan salah ya, Lia terlihat menderita loh jadi sekretaris bos sombong itu," Dita.

"Kalian nggak tahu kan sebelum kita meeting tadi, didalam ruangan itu hanya ada aku, Lia, Pak Rangga dan Pak Esson, lalu saat Lia mau pindah duduk ke sebelah ku, Pak Esson langsung memarahinya habis-habisan dengan nada yang ketus, aku nggak tega sama Lia," Jelasnya lagi.

"Masa sih, dia segitunya? tapi tadi waktu meeting dia memimpin nya terlihat cool banget," Jinny tak percaya.

"Jangan ketipu sama tampangnya Jin," Jawab Dita lagi.

***

Sesampainya di gedung perusahaan Esson tidak memarkirkan mobilnya di basemen melainkan di parkiran depan gedung perusahaan. Begitu mobil terparkir, Lia langsung turun dengan menenteng tasnya di bahu, kemudian tangannya membawa tablet. Lia mempercepat langkahnya meninggalkan Esson.

Tapi ternyata saat mereka turun dari mobil, ada yang memperhatikan mereka.

***

Bersambung...

Kesayangan PresdirCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang