Cepat sadari rasa sebelum hangus asa. —Hollow
♠♠♠
"Eyyo what's up, Ceysa de Luca!"
Ceysa tidak menanggapi seruan Kalya, juga para teman sekelas yang menanyai dan menyapanya. Gadis itu berekspresi datar seperti biasa, tetapi sedikit beraura beda menurut orang yang peka.
Kalya memutar badan—tempat duduknya memang berada tepat di depan Ceysa. "What's wrong with you, Bitch? Soal kimianya makin susah? Gue bilang juga apa, gak usah ikut olim. Kasian tuh otak kerja keras," cerocosnya.
Memilih duduk dan menopang dagu, mata Ceysa tampak sangat kosong, tidak seperti biasanya. Kalya pun mengerut heran, tapi segera kembali ke posisi semula sebab paham jika Ceysa sedang enggan diganggu.
"Status doang, Cey, gue sayangnya ke lo."
Liar.
Atensi Ceysa sedikit teralihkan kala guru Bahasa Indonesia memasuki kelas, mengucap salam, dan mengabsen kehadiran satu per satu murid.
"I do nothing, Ceysa"
What if Cia doesn't messed it up?
Bayangan kejadian di dekat laboratorium kimia tadi kembali mengganggu pikirannya. Ceysa mencengkeram erat ujung kursi dirasa kedua tangannya bergetar.
Ceysa tidak habis pikir. Seperti tiada tempat lain, Alden dan Cia malah melakukan demikian di dekat sana. Benar-benar memancing ingatan yang harus segera dimusnahkan.
"Kamu sudah pernah dipakai."
"Jangan ngarang cerita!"
"Ngarang?" Terdengar tawa merdu bagai alunan lagu hantu. "Ikat dia."
"Stop! Jangan melakukan hal rendahan!"
"Rendahan? Kami akan membawamu ke surga, Cantik."
Degup jantung Ceysa semakin tak beraturan. Dia mendesis akibat rasa nyeri menyerang kepala tanpa ampun.
"Besok malam lagi? Katanya kamu liburan sama dia."
"Takut sama dia?"
"Ya … agak takut, sih."
"Tidak usah takut. Semua keretakan dan perpecahan yang terjadi, kamu sama sekali tidak ikut andil."
"Hmmm. One more?"
"Of course, Babe."
"Ceysa de Luca?"
"Ceysa!"
"Cey!"
"Woy! Lo napa, sih?!"
Bentakan disertai gebrakan meja dari Kalya sukses menarik pikiran Ceysa untuk kembali ke kejadian sekarang. Gadis itu mengerjap pelan, melayangkan senyuman tanda tiada yang perlu dikhawatirkan pada teman sekelas.
Guru Bahasa Indonesia di depan sana begitu jelas menampilkan ekspresi cemas. Bahkan, beliau sampai menghampiri tempat duduk Ceysa.
"Ceysa, kamu ada masalah?" tanya wanita itu, tangannya bergerak mengusap lembut keringat yang menghiasi dahi Ceysa.
"Bu, kayaknya temen kesayangan saya ini sakit. Saya antar ke UKS, ya?"
"Gak. Nanti kamu malah bolos!" tolak wanita berambut gelombang tersebut seraya kembali menatap Ceysa. "Mau ke UKS aja?" tawarnya.
Ceysa menggeleng, tersenyum sopan di bibir pucatnya. "Enggak usah, Bu. Saya mau belajar di sini aja. Sayang kalau ketinggalan."
Perkataan tersebut sontak ditanggapi heboh oleh teman sekelas. Mereka telah tahu jika Ceysa seorang ambisius yang terkadang tidak disukai murid lain. Namun, gadis itu berbeda. Ia tidak pernah mengingatkan PR, minta tugas tambahan demi eksistensi di mata pengajar, tidak pelit ilmu, dan yang terpenting … selalu senang hati memberi saat dimintai contekan, baik tugas atau ulangan.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOLLOW
Teen Fiction"Ada Cia, Al. Perhatiin dia." "Abis merhatiin lo, gue perhatiin dia. Janji." ♠♠♠ Persoalan sederhana yang harusnya menjadi kisah manis khas remaja malah berujung rumit, sebab; Adelicia Abraham berusaha keras mendapat cinta dari Alden. Alden Nare...
