15. His Phone

1.5K 187 70
                                        

pleaseee jangann nanyain siapa pemeran utamanya. ikutin alur atau simpulin sendiri aja

♠♠♠

Hanya karena hal sepele tadi, para murid SMA Dharma—terutama kaum hawa—gempar. Dengan semangat tinggi layaknya aktivis menyampaikan orasi di depan gedung DPR RI, mereka heboh membicarakan kedekatan Ceysa dan Alden.

"Alden emang cocok sama Ceysa, gak, siiiii?"

"Harusnya mereka pacaran aja ah!"

"Cia pelakor!"

"Sumpah gue nerimaaa abisss kalau gantengku Alden jadian sama Ceysa, lah kalau sama tuh bubuk boncabe, gak ikhlas lahir batin gue!"

"Yok, Alden, putusin Cia, yok!"

"Yok bisa, CeysAlden jadi nyata!"

"Shipper-nya sekebon, nih!"

"Pokoknya gue dukung Ceysa sama Alden sampe akhir khayat!!"

Ceysa berjalan tidak nyaman di tengah-tengah koridor utama sekolah. Baiklah, dia mengaku jika kekata untuk memeriahkan pekan bahasa SMA Dharma ditujukan untuk Alden. Namun, Ceysa sama sekali tak mengharap adanya reaksi heboh semacam ini.

"Gak enak, 'kan? Makanya jangan buat kontroversi," cetus Kalya.

"Gue cuma bikin quote," elak Ceysa, berjalan menuju kantin sekolah, ingin menghabiskan waktu sebelum ekstrakurikuler karya tulis ilmiah dimulai.

"Quote penuh kontroversi!"

Ceysa mendecak. "Gue juga gak tau kenapa Alden malah nempelin kertasnya di sana. I thought he forgot that he has a girlfriend."

"Bukannya lo girlfriend dia?" goda Kalya.

"Girl friend maksud lo?"

Kalya tertawa lepas. "Add a lil space, yeah?" tanyanya. "But I'm sure Alden will delete the space."

"Mau ngelawan Tuhan?"

Kalya terdiam. Dia paham, terlalu dini untuk membicarakan hal demikian sementara Ceysa dan Alden hanyalah remaja tanggung penuh idealis yang belum tentu akan bersama hingga nanti.

Akan tetapi, satu hal yang Kalya tahu: Ceysa tidak akan pernah melepas apa yang telah dia miliki. Apa pun itu.

"Ck." Ceysa mendecak lirih, memasukkan ponsel ke saku seragam.

Raut kesal mungkin bisa disamarkan gadis itu dengan senyuman. Dan beberapa orang yang mengaku akrab hanya karena tak pernah ketinggalan cerita di sosial media, tentu mengira jika tiada masalah berarti menghampiri Ceysa. Namun, lain dengan Kalya.

"What's wrong? Alden lagi?"

Ceysa menggeleng pelan. "Team KTI gue digeser sama cadangan, cuma gara-gara belum nyelesaiin pembahasan sampe lampiran. Revisi juga belum. Pembina gak percaya gue bisa ngerjain itu semaleman," tuturnya. Datar, tapi menyimpan kekesalan.

"Tumben teamwork lo lama. Bukannya besok bakal dikirim buat lomba di univ?"

"Safira ngaret, kebanyakan jbjb di twitter."

"Lea?" tanya Kalya.

Ceysa menggidikkan bahu. "Mau hasil bagus, tapi gak mau usaha. You know, lah."

Kalya tertawa kecil. Dia dan Ceysa memilih duduk di bangku dekat pintu keluar. Alasannya, agar nanti cepat dan tidak perlu berdesakan dengan murid lain.

HOLLOW Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang