calm, abis ini scene-nya ceysa juga berkurang
♠♠♠
Alden
i feel so freaking bored
pgn jalan"
ada yg mau diajak gak ya?
Pukul sepuluh pagi ini, Ceysa baru saja mengirimkan karya tulis ilmiah hasil begadangnya kepada pembina lewat email. Yeah, she did it. Kemudian mengucap maaf ke ketua team cadangan lewat telepon.
Dan setelah itu, dia berbaring di hammock, membuka pesan dari Alden yang dikirim pukul delapan pagi tadi. Ceysa tertawa kecil.
Ceysa
yahhh telat bales
pasti udah ditinggal jalan"
padahal pengen ikuuttt
Alden
blm berangkat sumpah
Ceysa
kenapa belum??
Alden
yakali ceysa nolak lmao
get ready
i'll pick u up 15 minutes again
see u fairly soon, gorg
"Thank you, Alden." Ceysa tersenyum lebar, meletakkan ponsel di atas tempat tidur gantung lalu bergegas ke kamar mandi.
Niat tidur siang batal sudah. Tak apa, dibanding harus mendekam di sini, Ceysa memilih menahan kantuknya.
Tanpa berlama, Ceysa sudah siap dengan setelan kemeja putih polos yang dilapisi knitted vest, baggy jeans, and black clutch.
"Jangan tampil terlalu menawan, Ceysa, laki-laki sangat mudah tergoda."
Tidak berdandan aneh-aneh, ia hanya mengoleskan moisturizer and lipbalm. Pun rambut lurus panjangnya diarahkan ke sisi kanan semua.
"I can wear that golf skirt, but I don't wanna get sexual harassment," gumam Ceysa. "Tapi gue pake apa aja … selalu jadi sasaran. So shameful."
Dikarenakan Alden tidak mungkin menjemput di depan rumah ini, Ceysa bergerak cepat menuruni tangga, menuju rumah kosong milik tetangga yang dia akui sebagai kediaman. Jangan sampai kecolongan.
"Dek Ceysa mau ke mana? Cantik banget," goda Sharletta.
"Not your business."
Sharletta tertawa kecil. "Jangan keseringan main sama cowok, lo jadi gak ada bedanya sama gue," bisik perempuan itu, meledek.
"Mami! Aku berangkat main!" Tak peduli bisikan itu, Ceysa bergerak cepat keluar dari rumahnya setelah mendapat ujaran iya dari sang ibu.
Tepat ketika berdiri sempurna dan sedikit merapikan tatanan rambut, deru knalpot motor Alden terdengar. Gadis itu mengembangkan senyuman sempurna, menyambut laki-laki yang kemarin sukses besar membuatnya merasa tenang.
"Ah, kenapa cantik banget?"
"Bohong banget."
Alden menyerahkan helm, kemudian menunjuk dadanya. "Dengerin nih jantung, deg-degan parah kayak abis maraton, padahal aslinya mau boncengin calon."
"Calon apa?"
"Calon Nyonya Narendra."
"Temen doang," sanggah Ceysa. Dia duduk di jok belakang sehabis mengenakan helm.
"Temen hidup?"
"Temen mati!"
Tertawa kecil, Alden melajukan motor. "Gue gak dipeluk, nih?" godanya.
"Gak boleh pegang-pegang."
"Ck, iri banget sama lampu belakang." Alden mendecak sok tersakiti, mengingat Ceysa selalu memegang bagian belakang motornya agar keseimbangan tidak hilang.
KAMU SEDANG MEMBACA
HOLLOW
Fiksi Remaja"Ada Cia, Al. Perhatiin dia." "Abis merhatiin lo, gue perhatiin dia. Janji." ♠♠♠ Persoalan sederhana yang harusnya menjadi kisah manis khas remaja malah berujung rumit, sebab; Adelicia Abraham berusaha keras mendapat cinta dari Alden. Alden Nare...
