14. Against Everything

1.2K 160 9
                                        

Jangan membuat semuanya tampak rumit dan jauh dari kata baik aku masih di sini dengan perasaan menggebu yang sialnya masih kauanggap palsu. —Hollow

♠♠♠

Setelah Alden merebut kembali raket dari tangan Kalya kira-kira lima belas menit lalu, dua gadis yang sempat membuat suasana heboh bergerak menjauh, mungkin kembali ke kelasnya atau pergi menuju kantin.

"Lo napa, Al?" tanya Nevan.

Melakukan smash keras yang menukik tajam, Alden membanting raket milik sekolah, tanpa peduli Liam berkata kasar di sana. "Kenapa apa?" Dia balas bertanya.

"Tumben ninggalin Ceysa duluan," perjelas Nevan.

"Mana gak say goodbye," tambah Liam, berjalan ke arah dua temannya.

Alden mendudukkan diri di tengah lapangan basket, tak peduli mentari mulai terik dan terdapat seberapa banyak kuman, bakteri, serta kotoran yang menempel di celana.

"Ditolak lagi lo?" tebak Liam, ikut duduk di dekat Alden. "Gila, sih, udah ada cewek malah nembak yang lain. Modelan Ceysa mana sudi jadi selingkuhan."

"Sok tau, Bangsat."

Liam tergelak, sementara Nevan baru ikut duduk, melempar sebotol air mineral dingin yang diterima Alden dengan seribu tanda tanya perihal ada maksud apa tiba-tiba memberi minuman. Mengingat Nevan termasuk golongan orang pelit.

"Dari Ceysa," beritahu Nevan. "Gue tadi ke kantin, ketemu dia. Dia nitipin ini sama titip maaf."

"Tumbenan," celetuk Liam.

Menggidikkan bahu, Alden membuka tutup botol, meneguk air mineral yang rasanya semakin menyegarkan. Dia tersenyum tipis. Ceysa memang demikian: jika sekali mengecewakan pasti akan langsung menerbangkan.

Hingga Alden terkadang tidak memahami bagaimana kemauan seorang Ceysa de Luca.

Teringat sesuatu, Alden bersuara, "Cia kissed me."

"Di mana?" tanggap Liam santai.

"Lab kimia."

Liam mendecak kesal. "Di bagian mana, Anjing."

Telunjuk Alden mengarah ke bibirnya sendiri, sebelum lelaki itu tersenyum kecut.

"Anjay. Enak gak?" tanya Nevan.

Alden menggeleng. "Ceysa saw it."

"Tolol!" Nevan tertawa keras bersamaan dengan jam pelajaran ketiga berbunyi nyaring. "Cia 'kan cewek lo, tapi kenapa reaksi lo seakan-akan kegep selingkuh dari Ceysa? Anjir, gak paham cogan."

Alden membenarkan keheranan Nevan. Namun, perbedaannya ialah dia sama sekali tidak menganggap Cia sebagai pacar.

Menatap sebotol air mineral di tangannya, senyum pemuda itu terbit lagi, seakan lupa jika tadi sempat berencana untuk mengabaikan Ceysa.

"Eh, ngumpulin quote gak?" tanya Liam.

Alden dan Nevan mengangguk dengan pandangan melihat teman sekelas bermain basket.

"Lo pada dah kelar?

"Udah." Nevan menjawab singkat. "If you don't know what you wanna write for, write your instagram usernya," tuturnya, peka terhadap apa yang dibutuhkan Liam.

Bola mata Liam bergulir malas. "Lo dah kelar, Sat?" tanyanya, melirik Alden.

"Udah, lah. Ngapain pake lama."

"Ngode cewek lagi dia," celetuk Nevan. 

"Sembarangan!"

Liam tertawa. "Remember inisal A C salah alamat. HAHAHAH! Mampus lo diintilin si Cia mulu!" serunya.

HOLLOW Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang