warning: 🔞
kalau kalian gampang suudzon, pasti bisa nebak tokoh baru ini berfungsi buat apa🤪
♠♠♠
Dia; trauma dan tenggelam dalam persepsinya sendiri. —Hollow
♠♠♠
Rumah sepi. Tumben.
Dengan tubuh basah kuyup, Ceysa melepas sepatu, meletakkannya di rak. Tadi, Alden memaksa untuk pulang bersama. Awalnya dia tak mau, tetapi setelah berkata Cia sudah selamat sampai di rumah, Ceysa pun mengiyakan.
Entah Alden jujur atau berdusta. Itu urusan dengan Tuhannya.
"Permisi."
Hendak membuka pintu, Ceysa dikejutkan dengan suara berat khas laki-laki. Dia menoleh, langsung mengeratkan jaket milik Alden begitu sadar arah tatapan orang itu.
"Ini rumahnya Ibu Grace Kirana?" Pemuda berusia sekitar dua puluh lima tahun itu bertanya, diangguki Ceysa.
"Ada perlu apa? Biar nanti saya sampaikan," kata Ceysa, berusaha sopan.
"Saya Elang." Dia memperkenalkan diri. "Boleh saya menemui beliau?"
Ceysa menghela napas. "Mau saya panggilkan?" tanyanya, formalitas.
"Boleh."
Tersenyum sopan, Ceysa membalikkan badan, tetapi urung ketika pemuda itu mencekal pergelangan tangannya. Sontak, Ceysa menarik tangan kanannya, melempar tatapan peringatan.
"Saya minta maaf, tapi kalau saya boleh tau … apa kamu anaknya Ibu Kiran?"
"Bukan."
"Berarti kamu—"
"Bukan," potong Ceysa, lagi.
Elang menggaruk kepalanya. "Lalu kenapa kamu bisa—"
"Saya asisten rumah tangganya. Ibu Grace Kirana memang seorang yang berhati mulia, maka jangan heran jika orang tidak punya apa-apa seperti saya bisa langsung masuk lewat pintu depan," tutur Ceysa, tersirat rasa kesal dalam setiap penggal kata.
Elang mengangguk paham, walau dalam hati kecil meragukan.
"Tidak ada sesi wawancara lagi?" tanya Ceysa diikuti senyuman khas. "Silakan tunggu sebentar, saya akan panggilkan majikan saya," pamitnya.
"Sebentar." Lagi, Elang menghentikan pergerakan Ceysa.
Membuang napas berusaha sabar, Ceysa bertanya, "Ada perlu apa lagi?"
Elang tak menyahut, tapi tangannya bergerak mengambil daun kering yang menyelip di kancing pertama seragam PRAMUKA. Kebetulan, hasduk sudah disimpan dalam tas karena tadi hujan.
"Kamu mau ap—"
"Diam sebentar, Ceysa de Luca." Elang membaca bagde nama di seragam, tangan kanannya menahan berontak dari kedua tangan Ceysa di belakang tubuh, mendorong gadis itu hingga basah di jaket hitam menempel ke dinding. "Wonderful name."
"Jangan kurang ajar," peringat Ceysa. Bibirnya memucat, gemetar menguasai tangan, pun jantung berdegup kencang seakan hendak lepas dari tempat asal.
Elang menyeringai. "Wonderful face." Tangan yang semula menunjuk badge nama, mulai bergerak membersihkan debu di sekitar sana.
"Don't be a jer—"
"And wonderful body."
Sebulir air mata lolos tanpa mau dibendung kala Elang melakukan hal tak sepantasnya berulang kali dengan wajah sangat menikmati, mulutnya pun tak berhenti memuji. Setan biadab!
KAMU SEDANG MEMBACA
HOLLOW
Roman pour Adolescents"Ada Cia, Al. Perhatiin dia." "Abis merhatiin lo, gue perhatiin dia. Janji." ♠♠♠ Persoalan sederhana yang harusnya menjadi kisah manis khas remaja malah berujung rumit, sebab; Adelicia Abraham berusaha keras mendapat cinta dari Alden. Alden Nare...
