16. Rain

1.9K 246 83
                                        

Pedih dan sedih,

sendu serta pilu,
luka juga duka.
Tuhan,
tak pantaskah aku bertemu bahagia?
—Hollow

♠♠♠

Ekstrakurikuler futsal usai, Alden mendapati Cia berdiri di tepi lapangan, menyunggingkan senyum lebar seraya menyerahkan ponselnya yang telah mati.

Walau tidak tahu apa sandi layar kunci, tapi Cia bahagia sebab tadi melihat fotonya menghiasi ponsel Alden.

"Kok ada—"

"Cieeee yang bucin sama aku," goda Cia.

"Hah?"

Cia tertawa geli. Dia mengelap keringat Alden menggunakan sapu tangan yang dibawa, baru kemudian berkata, "Tadi Ceysa ngasih HP-mu ke aku, katanya aku lebih berhak soalnya aku pacar kamu."

"Terus kenapa gak dibalikin dari tadi?" tanya Alden. Ia membuka ponsel, hendak mengonfirmasi kebenaran kepada yang bersangkutan.

Akan tetapi, begitu ponsel selesai mengautentifikasi wajahnya, Alden terkejut sangat melihat ada wajah Cia terpampang di wallpaper desktop.

Perasaan foto aesthetic Ceysa dengan background sunset yang dia ambil diam-diam di pantai saat rekreasi kelas sepuluh selama ini menghiasi, tapi kini malah berganti duck face menggelikan ala Cia. Merusak mood, sumpah.

Tidak mungkin Cia yang mengganti sebab cerahnya ekspresi. Pasti ini ulah Ceysa.

"HAHAHAH, aku tau kamu malu! Gak papa, bucin ke pacar sendiri gak salah kok." Cia berjinjit, mengecup dagu Alden sekilas.

"Jangan gitu ah. Banyak orang."

Cia memberengut sebal. "Maaf," ucapnya tak ikhlas.

"Aku mau ganti."

"Aku ikut!"

"Ngapain?" Alden mendesah kesal, mengambil kaus hitam polos dan celana pendek cargo berwarna cokelat dari tas.

"Ngeliat kamu ganti, lah!" ceplos Cia, salah bicara.

Alden mengangkat satu alisnya tak percaya, sementara segenap anggota ekstrakurikuler futsal diam dan memakukan pandangan pada Cia.

"Anjay! Hati-hati ilang kesucian, Al!"

"Cewek jaman sekarang nafsuan amat, ya? Gue jadi takut," celetuk Nevan.

"Cowoknya jangan dirusak, Neng!"

"Stay halal, Sister!!"

"Ish! Bukan gitu maksud akuuu," Cia meralat. "Aku cuma mau ngeliat dari luar, kok …."

Alden mendesis kesal, dia melempar tatapan tajam lagi menusuk kepada Cia. "Makanya, ngomong yang bener!" serunya, kemudian berjalan cepat menuju toilet laki-laki.

"Alden!! Tungguin!!!"

Demi apa pun, rasa ingin menyerukan ajakan putus sudah sebesar matahari. Namun, wanti-wanti dari Ceysa mematahkan semua.

Mengunci bilik kamar mandi sebab si gadis tidak tahu malu ikut memasuki toilet, Alden menggeram kesal di sana. Tanpa berlama, pakaiannya telah diganti lalu ia menyemprotkan parfum beraroma musk and wood.

"Kamu wangi! Aku suka!"

Baru saja membuka pintu bilik kamar mandi, Cia sudah menerjangnya dengan pelukan erat. Alden jadi heran, dimasuki setan apa Cia ini hingga berani melakukan demikian.

HOLLOW Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang