Maaf kalau banyak typo.
Happy Reading!
** ** **
Siang ini tim diklat melakukan rapat dengan Pak Jaehyun, Pak Doyoung, serta Pak Taeyong. Kami membahas mengenai pendidikan dan pelatihan yang rencananya akan diselenggarakan di Bandung minggu depan. Menurut informasi yang disampaikan oleh Pak Jaehyun, tim diklat bersama Pak Doyoung --selaku Kepala Urusan Pengembangan SDM akan melakukan perjalanan ke Bandung.
"Akomodasi, transportasi, dan konsumsi ditanggung perusahaan." Ujar Pak Jaehyun.
Pak Doyoung mengangkat tangannya, seperti ingin menanyakan suatu hal. "Uang buat beli oleh-oleh nggak dapat, Jae?"
Pak Jaehyun terlihat memutar kedua bola matanya. "Itu urusan pribadi, bukan perusahaan. Lo yang dapat enaknya, masa perusahaan yang harus nanggung?"
"Btw, emang lo nggak ikut ke Bandung, Jae?" Kini giliran Mbak Julia yang buka suara. Persis, dari tadi aku ingin menanyakan hal ini, mengingat Pak Jaehyun adalah Kepala Divisi SDM --yang dimana seharusnya terlibat langsung dalam acara diklat.
"Gue nggak ikut, gue harus stand by di kantor." Jawabnya.
"Ikut aja, sih. Kan masih ada Taeyong sebagai Kaur di sini." Ujar Mbak Julia.
"Apa-apaan, nih?! Kok bawa-bawa nama gue?" Yang namanya disebut pun langsung tersadar dan seperti tidak terima.
"Gue nggak yakin sama dia." Balas Pak Jaehyun yang diakhiri dengan kekehan seperti mengejek.
Pak Taeyong yang tidak terima atas ucapan Pak Jaehyun langsung memberi balasan. "Sialan, gini-gini gue sanggup ya mengontrol Divisi tanpa lo." Katanya.
"Nanti deh gue coba tanya ke Pak Taeil. Ikut atau enggaknya gue ke Bandung, tergantung keputusan beliau."
"Maaf," kali ini aku memberanikan diri untuk mengangkat tangan, "titik ketemu sebelum berangkat ke stasiun dimana, ya? Atau masing-masing dari kami langsung ketemu aja di stasiun, pak?" Tanyaku.
"Saran saya sih lebih baik kalian ketemu dulu di kantor. Nanti saya akan minta satu kendaraan dinas buat antar kalian ke stasiun."
"Sorry gue mau nanya, kalau misalnya gue ketemuan langsung di stasiun aja nggak apa-apa kan?" Pak Doyoung menginterupsi.
"Ikutin saran gue aja mending. Siapa tahu nanti ada arahan dari Pak Taeil." Balas Pak Jaehyun. "Ada lagi yang mau tanya?"
"Enggak ada, pak." Tiba-tiba terdengar suara Lucas yang memenuhi ruang rapat ini. "Eh, kok saya doang yang ngomong?"
"Oke, kalau nggak ada rapat kita akhiri sampai di sini. Informasi lainnya nanti saya akan sampaikan ke Julia untuk kemudian di forward ke kalian. Selamat siang semuanya."
"Siang, pak."
** ** **
"Genta, gue tunggu di lobby ya!" Ujar Mbak Julia dari kejauhan. Aku yang masih sibuk mencari dompet kemudian hanya memberi sinyal dengan tangan.
Setelah mengeluarkan seluruh isi tas, aku baru menyadari kalau ternyata dompetku berada di atas CPU. Tanpa berlama-lama, aku langsung menghampiri Mbak Julia di lobby. Perempuan itu tidak sendiri, ada Pak Jaehyun dan Mark juga di sana. Tumben sekali Pak Jaehyun bergabung dengan kami, biasanya pria itu akan ikut dengan jajaran direksi untuk makan siang.
"Maaf, nunggunya lama, ya?" Ujarku dengan rasa bersalah.
"Lumayan, tadi gue sempet makan batagor sama beli boba dulu." Balas Mark.
"Eh, seriusan? Lama banget dong, ya?" Aku terkejut mendengar ucapan Mark barusan.
"Enggak, dia bohong. Lo jangan gampang percaya sama Mark." Ujar Mbak Julia.
Aku pun langsung memberikan tatapan tajam kepada Mark, yang kemudian dibalas oleh pria itu dengan mimik muka yang mengejek.
"Yuk ah jalan, mie ayam Pak Min keburu rame nanti. Gue udah ngidam pengen makan mie ayam dari semalem."
Kami pun berjalan menuju tempat makan yang letaknya ada di belakang kantor. Tempat makan ini biasanya disebut amigos alias agak minggir got sedikit, lantaran letaknya yang ada di pinggir sungai.
"Eh, Genta, lo katanya mau makan sate padang? Tuh ada sate padang." Mbak Julia menghentikan langkahnya dan menunjuk warung sate padang yang ada di seberang kami.
"Iya sih, tapi nanti aku sendirian dong? Aku ikut kalian aja deh makan mie ayam." Balasku.
"Kebetulan saya juga lagi pingin makan sate padang." Ujar seseorang dari arah belakang --Pak Jaehyun. Astaga, aku hampir lupa kalau pria ini ikut dengan kami.
"Nah, kebetulan tuh Pak Jae juga mau makan sate padang. Lo jadi ada temennya kan." Bukannya membantuku keluar dari situasi sulit ini, Mbak Julia justru menjerumuskanku.
Akhirnya tanpa berkomentar banyak, aku memutuskan untuk makan sate padang bersama Pak Jaehyun. Dari sekian banyak manusia yang ada di Divisi SDM, kenapa aku harus terjebak dengan pria ini?
"Bapak mau pesan sate daging, lidah, atau campur?" Tanyaku kepada Pak Jaehyun.
"Sate daging tanpa lontong." Jawabnya.
"Beneran tanpa lontong, pak?" Tanyaku sekali lagi.
"Iya, saya lagi mengurangi karbohidrat soalnya." Pantas jika bentuk tubuhnya selalu terlihat bagus dan proposional, pria ini selalu menjaga asupan makanannya.
Aku langsung menghampiri penjual dan menyebutkan pesanan kami. Setelah itu, aku kembali ke tempat duduk dan menunggu selama kurang lebih sepuluh menit.
"Hmmm, ternyata kayak gini rasanya sate padang?" Ujar Pak Jaehyun yang spontan membuatku agak terkejut.
"Bapak nggak pernah makan sate padang sebelumnya?" Tanyaku penasaran.
"Nggak pernah," pria itu menggelengkan kepala, "dan ternyata enak juga."
"Pak Jaehyun selalu makan sesuatu yang sehat ya?"
"Nggak juga, tapi untuk saat ini saya lagi mengurangi karbohidrat." Katanya.
"Tapi kemarin bapak makan onigiri tuh." Ujarku.
Pria itu terkekeh. "Makan? Memang kamu lihat saya makan onigiri itu?"
"Ya enggak sih, tapi kemarin buat apa bapak beli onigiri kalau bukan untuk dikonsumsi sendiri?"
"Well, saya langsung kasih onigiri itu ke Doyoung."
Tanpa kusadari, jarak di antara kami lebih dekat dari biasanya. Aku sampai harus mengalihkan pandangan hanya untuk menghindari kontak mata yang lebih lama dengan pria ini.
"Magenta," terdengar sebuah panggilan dari pria tersebut, "apa kamu masih belum bisa kasih jawabannya ke saya?"
Aku terdiam begitu mendengar pertanyaannya. Bibirku terasa kelu dan aku tidak berbicara selama beberapa saat sebelum akhirnya Pak Jaehyun kembali bersuara. "Magenta?"
"Saya masih butuh waktu, pak." Suaraku terdengar agak serak, mencoba untuk tidak terlihat canggung.
"Shit," umpatan kasar terlontar dari bibir pria itu, "apa saya terlalu terburu-buru?" Pak Jaehyun tampak menjambak rambutnya kasar.
"Hmmm, sedikit." Jawabku pelan.
Ia menghela napas berat. "Oke, oke, saya minta maaf. Saya akan berusaha sabar dan menunggu jawaban dari kamu."
** ** **
[To be continue]
Hello! Another update hwhwhw
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]
FanfictionBaru enam bulan menjadi karyawan, Magenta sudah dihadapkan dengan pilihan tersulit dalam hidupnya --dilamar oleh atasan sendiri. Gadis itu tidak mengerti bagaimana seorang pria cuek, keras kepala, dan dingin seperti Jung Jaehyun bisa mengungkapkan k...
![Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]](https://img.wattpad.com/cover/246898603-64-k903721.jpg)