Aku keluar dari ruangan Pak Jaehyun dengan suasana hati yang tidak terkontrol. Buru-buru aku menuju pantry untuk mengambil minum. Kejadian barusan tidak boleh diketahui siapa pun, mengingat statusku yang masih seorang karyawan baru.
Dari pantry kemudian aku kembali ke kubikel dan langsung mendaratkan bokong ke atas kursi. Selang beberapa menit, Mbak Julia datang menghampiriku.
"Genta, lo diapain sama Pak Jae? Muka sampe merah gitu." Ujar Mbak Julia yang langsung menarik sebuah kursi untuk kemudian duduk di sampingku.
Aku menoleh ke arah perempuan itu dan menghela napas berat. Aku tidak mungkin mengatakan tentang apa yang baru saja terjadi di ruangan itu. Bisa-bisa kami menjadi bahan omongan seluruh orang di divisi ini.
"Serius mukaku kelihatan merah banget?" Tanyaku.
"Hmmm," Mbak Julia mengangguk, "ada apa, sih? Habis diomelin lo sama dia?" Tanyanya sekali lagi.
"Hah? Enggak kok, aku nggak diomelin," aku menggeleng pelan, "kayaknya aku cuma agak capek aja sih hari ini." Dustaku.
"Oalah, gue kira diapain lo. Btw, nanti lo mau ikut ke amigos nggak?"
"Pada mau makan di amigos emang?"
"Iya, gue, Mark, sama Lucas mau makan di sana. Lo mau ikut, nggak?"
"Ya udah, aku ikut kalian bertiga."
Ketika kami sedang mengobrol, muncul sosok Mark dari arah kubikel miliknya. Ia berjalan ke arah kami, lalu menyambar satu bungkus snack yang tergeletak di atas meja milikku.
"Eh, punya gue itu!" Sahutku dengan cepat.
"Bagi-bagi rezeki itu penting, Genta. Jangan pelit lo sama gue." Ujar Mark.
"Kayak lo nggak pelit aja!" Aku memaki pria itu.
"Oh ya, lo pada sadar nggak sih ada yang berbeda dari Pak Jaehyun?" Mark memulai per-ghibahan di antara kami.
"Apa emang yang berbeda dari Pak Jaehyun?" Tanyaku agak bingung.
"Ya, kayak lebih kece aja gitu, meskipun dia emang selalu kece sih, tapi ini tuh auranya agak beda. Gue curiga sih dia lagi jatuh cinta. Apa lagi kemarin gue sama Lucas ditraktir kopi sama dia. Jarang banget men seorang Jung Jaehyun berbuat baik ke bawahannya kalau bukan karena ada sesuatu." Balas Mark yang seketika membuat perasaanku gusar.
"Tapi makes sense juga loh omongan lo, Mark. Gue perhatiin dia lebih jaga penampilan, meskipun dari sananya juga udah ganteng sih, tapi ini tuh emang lebih kece dan makin enak banget dipandang. Gue yang udah bersuami jadi harus nyebut setiap kali ketemu sama dia." Sahut Mbak Julia.
"Masa, sih?" Aku mencoba nimbrung. Namun, setelah diperhatikan lagi, Pak Jaehyun memang lebih menjaga penampilannya belakangan ini.
"Lo perhatiin baik-baik deh, Magenta. Kadar kegantengannya dia tuh makin meningkat." Ujar Mark.
"Awas, jatuh cinta lagi lo nanti sama Pak Jae." Kata Mbak Julia kepada Mark yang diakhiri gelak tawa.
"Eits, mohon maaf ya, gue masih normal."
"Lancar ya gossip-nya." Terdengar suara laki-laki dari arah belakang --Mas Doyoung --salah seorang senior sekaligus teman se-komplotan Mbak Julia. Mas Doyoung sebenarnya teman dekat Pak Jaehyun, tetapi lebih sering mengobrol dengan kami. Usianya juga terbilang masih muda.
Mark menyengir kuda. "Eh, ada Pak Doyoung."
"Ngapain lo nyengir-nyengir kayak gitu ke gue?" Cibir Mas Doyoung.
"Ya saya kan ceritanya lagi cari muka. Siapa tahu bisa naik jabatan kayak Pak Doyoung." Balas Mark.
"Lo kalau mau cari muka jangan ke gue. Sana langsung ke Pak Taeil. Percuma kalau lo cari mukanya ke gue, nggak ada efeknya."
"Aduh, level beliau masih jauh di atas saya. Jadi, mending saya cari mukanya ke Pak Doy dulu." Kata Mark.
"Gue tebak lo bertiga pasti lagi ngomongin Jaehyun, kan?" Mas Doyoung menebak dengan sempurna. Pada dasarnya obrolan kami memang selalu berputar di satu orang saja --yaitu Pak Jaehyun.
"Ya kan nggak mungkin kita ngomongin lo, Doy. Lo itu kelasnya masih dibawah Jaehyun." Ujar Mbak Julia yang diakhiri dengan gelak tawa.
"Kampret lo, tapi memang ada apa lagi sama dia? Perasaan dari dulu hobi banget Divisi ini ngomongin Jaehyun." Suara Mas Doyoung terdengar mengecil, malah seperti sedang berbisik.
"Kita lagi ngomongin Pak Jae yang makin hari makin kelihatan cakep. Tebakan saya sama Mbak Julia sih Pak Jae lagi jatuh cinta. Menurut Pak Doy gimana?" Lagi-lagi Mark yang menjadi pemimpin obrolan kami siang ini.
Mas Doyoung tampak mengernyitkan dahinya. "Lah, dia kan memang dari sananya udah cakep. Mata lo pada kelilipan kontainer, ya?"
"Bukan gitu, maksud saya tuh Pak Jae jadi lebih ganteng. Pokoknya beda gitu deh auranya. Lebih keluar aura positif dibandingkan negatifnya." Balas Mark.
"Jadi, selama ini Jaehyun tuh auranya negatif?" Tanya Mas Doyoung yang terlihat sedang menahan tawanya.
"Nggak negatif banget, sih. Ya sebelas-dua belas sama lo waktu pertama kali kenal. Jutek sama irit bicara banget." Jawab Mbak Julia.
"Dulu gue jutek dan irit bicara? Masa sih? Itu mah perasaan lo aja kali, Jul. Gue tuh orangnya terkenal friendly ya dari dulu." Ujar Mas Doyoung yang kelihatannya memang tidak ingin dianggap jutek, meskipun kenyataannya pria ini memang memiliki sifat dingin seperti Pak Jaehyun.
"Tapi saya setuju sih sama Mbak Julia. Pak Doy dulu tuh jutek banget." Sahut Mark.
"Tapi sekarang enggak, kan?" Tanya Mas Doyoung.
"Kalau sekarang malah jadi partner gossip anak diklat."
"Coba deh lo selidiki, Doy. Kalo beneran ada sesuatu kan bisa jadi bahan ghibahan kita." Ucapan Mbak Julia bukannya membuatku senang, melainkan merasa tertekan. Bagaimana jika Mas Doyoung benar-benar mencari tahu soal 'tentang apa yang terjadi pada Pak Jaehyun?'.
** ** **
[To be continue]
Halo, sebenernya aku bingung sih mau ninggalin notes apa di sini. Yang pasti, feedback dari kalian berupa vote dan komen akan sangat membantuku buat lebih rajin update.
So, tolong ramaikan cerita ini ya!
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]
FanfictionBaru enam bulan menjadi karyawan, Magenta sudah dihadapkan dengan pilihan tersulit dalam hidupnya --dilamar oleh atasan sendiri. Gadis itu tidak mengerti bagaimana seorang pria cuek, keras kepala, dan dingin seperti Jung Jaehyun bisa mengungkapkan k...
![Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]](https://img.wattpad.com/cover/246898603-64-k903721.jpg)