Ch. 6

402 61 26
                                        

Waktu menunjukan pukul tiga sore, dimana pada jam-jam seperti ini rawan bagiku merasakan kantuk. Aku pun memutuskan untuk pergi ke coffee shop yang ada di lobby.

"Mbak, saya mau dalgona coffee satu ya." Ujarku pada barista.

"Ada tambahan lain, kak?"

"Enggak, itu aja."

"Satu dalgona coffee totalnya dua puluh ribu."

Lalu aku pun mengeluarkan uang pecahan dua puluh ribu rupiah dan memberikannya kepada barista tersebut.

"Mohon ditunggu ya kak, silakan bergeser."

"Mbak, saya ke mini market dulu ya, nanti ke sini lagi buat ambil pesanan."

Sambil menunggu, aku mampir sebentar ke mini market dan membeli dua buah onigiri yang rencananya satu onigiri lainnya akan aku berikan kepada Mbak Julia --mengingat perempuan itu selalu baik kepadaku.

"Kamu beli onigiri juga?" Sebuah suara berat terdengar dari sisi kiriku. Tanpa menoleh sebenarnya aku sudah tahu siapa pria tersebut.

"Hah? Iya, saya beli onigiri. Bapak suka onigiri juga?" Balasku sekenanya.

"Ini kan cuma nasi yang dibentuk jadi segitiga terus diisi sama ayam atau tuna dengan berbagai varian rasa. Jadi, kayaknya nggak ada alasan bagi saya buat nggak suka sama onigiri." Tipikal Jung Jaehyun yang suka sekali menjawab pertanyaan orang lain dengan kalimat yang bertele-tele. Padahal pria tersebut bisa langsung mengatakan 'iya' saja pada pertanyaanku barusan.

"Tapi teman saya ada nggak suka onigiri loh, pak." Ujarku.

Pria tersebut terkekeh. "Itu kan teman kamu, bukan saya."

Iya juga sih.

"Kalau gitu saya duluan ya, pak, mau langsung bayar ke kasir."

"Saya juga mau ke kasir." Katanya sambil mengekor padaku. "Mana sini onigiri punya kamu. Biar sekalian saya yang bayar." Ujar Pak Jaehyun dari belakangku.

"Nggak usah pak. Saya bayar sendiri aja." Tolakku dengan lembut.

"Kamu yakin? Saya jarang loh bayarin staff kayak kamu." Pria itu memastikan.

"Iya pak, saya yakin." Aku tetap pada pendirianku.

Namun, beberapa saat kemudian Pak Jaehyun malah memotong antreanku. Aku tidak bisa berkomentar dan hanya bisa pasrah. "Mas, sekalian sama onigiri punya dia ya. Kalau bisa scan barcode-nya pakai punya saya aja." Tak disangka pria tersebut justru membayar onigiri milikku dan pergi sebelum aku bisa mengucapkan terima kasih.

Setelah mendapatkan onigiri dan kopi pesananku, aku kembali ke ruangan dan melanjutkan pekerjaan. Di saat bersamaan, Pak Jaehyun muncul dari ruangannya dan terlihat berjalan menuju kubikel milik Mbak Julia yang letaknya ada di sebelahku.

"Julia, lo udah daftar gathering?" Bukan bermaksud menguping, tapi suara pria itu memang terdengar sampai ke kubikelku.

"Belum, rencananya sih tadi gue mau daftar bareng Genta, tapi Joy lagi nggak masuk. Jadi, palingan besok sih gue daftarnya. Lo ikut kan, Jae?" Balas Mbak Julia sambil memutar kursinya agar bisa bertatap muka dengan Pak Jaehyun.

"Kepala Divisi wajib ikut, men." Ujar Pak Jaehyun.

"Btw, gue lihat-lihat lo makin kece aja, Jae." Aku tahu kemana arah pembicaraan ini kemudian tertuju.

"Gue memang kece dari dulu kalau lo mau tahu." Tingkat kepercayaan diri Pak Jaehyun memang tinggi, tapi juga disertai dengan fakta yang kuat. Beda lagi jika aku yang berkata demikian.

"Iya gue tahu lo emang kece dari dulu, tapi sekarang ini lo kelihatan jauh lebih kece dari biasanya. Aura lo cenderung lebih positif."

Pak Jaehyun mengernyitkan dahinya. "Tunggu, maksud lo selama ini aura gue negatif gitu?"

"Nggak negatif sih, tapi nggak positif juga. Cuma kalau disuruh jelasin, memang lebih condong ke negatif." Ucap Mbak Julia diakhiri tawa kecil.

"Kampret lo. Seenaknya bilang aura gue negatif. Orang se-kece gue tuh selalu membawa aura positif kali." Balas Pak Jaehyun yang tidak terima dengan ucapan Mbak Julia barusan.

"Seriusan deh, lo lagi jatuh cinta, ya? Gue kepo banget dari kemarin." Aku tidak mengerti mengapa Mbak Julia bisa semudah itu bertanya pada Pak Jaehyun mengenai sesuatu yang bisa aku anggap pribadi.

"Jatuh cinta?" Tiba-tiba saja lirikan matanya jatuh kepadaku. Aku yang pada saat itu memang sedang menguping sekaligus mengintip dari balik kubikel langsung pura-pura kembali bekerja, meskipun aku sadar pria tersebut telah menangkap basahku. "Memang menurut lo gue lagi jatuh cinta?"

"Ya kalau menurut gue sih begitu. Soalnya gue waktu lagi jatuh cinta aura positifnya lebih terpancar." Ujar Mbak Julia.

"Gini ya Jul, gue sendiri nggak ngerti, tapi belakangan ini gue lebih enjoy kerja di kantor. Kayak ada sesuatu yang bikin gue betah berada di sini."

Detik selanjutnya aku merasakan jantungku berdegup cukup kencang. Mendengar Pak Jaehyun berkata demikian nyatanya benar-benar menguji adrenalineku. Aku tidak ingin terlalu percaya diri dengan menanggap kalimatnya barusan ditujukan padaku, tapi gerak-gerik yang pria itu perlihatkan memang menunjukkan bahwa kalimat tadi adalah untukku.

"Gue nggak paham sih sebenernya lo jatuh cinta beneran apa enggak, tapi sering-sering deh lo kayak gini. Biar aura lo itu selalu positif." Terdengar lagi sebuah kalimat ejekan dari Mbak Julia. Bagaimana pun juga, tidak ada makhluk di Divisi ini yang bisa 'merendahkan' Pak Jaehyun selain Mbak Julia. Mas Doyoung dan Pak Taeyong pun tidak berani melakukan hal tersebut.

"Lo juga harus doain gue supaya aura positif gue ini semakin terpancar di kemudian hari. Siapa tahu kan tiba-tiba gue ngirimin lo undangan pernikahan." Adalah kalimat terakhir yang terlontar dari bibir pria itu sebelum kembali ke ruangannya.

** ** **

[To be continue]

Hello!!! Apa kabar? Hihi

Maaf ya buat chapter yang nggak jelas ini, masih berusaha membangun alur cerita yang menarik dan susahnya minta ampun :")

Oh ya, terima kasih juga buat komen dan vote dari kalian. See you on next chapter! Xx

Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang