Ch. 1

632 83 12
                                        

"Ta, lo disuruh anter laporan bulanan ke Pak Jae tuh." Ujar Mbak Julia.

"Sekarang mbak?" Tanyaku.

"Iya sayang, kalo besok yang ada lo digeprek sama dia."

Aku mengangguk dan langsung menjalankan perintah Mbak Julia. Dengan membawa serta laporan bulanan ditangan, aku berjalan menuju ruangan Jung Jaehyun --atau orang-orang sering memanggilnya dengan sebutan Pak Jae --Manajer Divisi Sumber Daya manusia yang terkenal dengan sifat cuek dan dinginnya. Tidak hanya itu, pria ini juga sering dianggap sebagai 'serbuk berlian' untuk beberapa kalangan karyawan --terutama mereka yang sudah senior seperti Mbak Julia, karena parasnya yang tidak biasa.

"Permisi Pak Jaehyun, ini saya Magenta." Aku mengetuk pintu sebuah ruangan yang bertuliskan 'Jung Jaehyun, Kepala Divisi', lalu menunggu sebentar sebelum akhirnya pria tersebut mempersilakanku. "Pak, ini laporan bulanan yang bapak minta." Kataku.

Pria itu langsung menerima hasil laporan dariku dan segera memeriksanya. "Sudah kamu pastikan nggak ada kesalahan?" Tanya Pak Jaehyun.

Aku mengangguk. "Sudah saya pastikan tidak ada kesalahan."

"Usia kamu berapa kalau saya boleh tahu?" Sebuah pertanyaan random baru saja terlontar dari bibir seorang Jung Jaehyun. Jika biasanya dia akan berkomentar soal gaya berpakaianku --yang katanya terlalu monoton, kali ini cukup berbeda, dimana agak membuatku terkejut.

"21 tahun, pak." Ujarku.

"Sudah lulus kuliah?" Pria itu bertanya lagi.

"Saya sudah lulus sidang, tapi saya belum wisuda." Jawabku.

"Kamu sudah punya pacar?" Lagi, aku dibuatnya kebingungan. Untuk apa seorang Jung Jaehyun menanyakan hal yang sifatnya 'pribadi'?

Aku menggelengkan kepala. "Maaf sebelumnya, tapi kenapa bapak nanya kayak gitu ya ke saya?"

Pria tersebut menghela napas berat. "Memangnya nggak boleh kalau saya nanya ke kamu?"

"Bukan begitu, tapi pertanyaan bapak agak beda dari biasanya." Ujarku pelan.

"Kalau saya melamar kamu, apa kamu mau terima saya?"

Hah?

Aku mematung mendengar pertanyaan yang baru saja dia lontarkan. Pikiranku mendadak kacau. Aku berusaha berpikir positif, tetapi tatapan intens yang dia berikan membuatku menciut.

Apa yang baru saja pria ini katakan? Melamar?

"Kenapa cuma diam?" Ujarnya.

"Maaf, tapi saya nggak ngerti maksud Pak Jaehyun." Balasku yang masih syok.

Pak Jaehyun bersandar pada kursi dan menghela napas berat. Ia menatapku sebentar, sebelum sebuah ajakan gila lainnya terdengar dari bibir pria ini. "Magenta, apa kamu mau menikah dengan saya?"

Lagi, pertanyaan aneh yang terlontar. Aku mencoba menenangkan diri sebelum mulai berbicara. "Pak Jaehyun bercanda, ya? Atau lagi latihan buat melamar pacarnya nanti?" Kataku yang berusaha menutupi rasa canggung dan gusar yang sejak tadi melanda.

"Saya nggak bercanda dan saya nggak punya pacar." Nada suaranya terdengar serius, bahkan dari tatapan matanya terlihat bahwa pria ini sedang tidak bercanda.

"Pak, saya ini cuma karyawan biasa lho. Nggak mungkin satu level dengan bapak yang seorang Kepala Divisi." Ujarku.

"Saya nggak pernah memandang seseorang dari posisi atau jabatan mereka kalau kamu mau tahu." Kalimat itu seketika menjadi penghalang bagiku untuk bisa berkomentar.

"Ta -tapi saya ini nggak cantik lho, pak. Saya juga tergolong gemuk, beda sama bapak yang punya badan bagus. Lagi pula, masih banyak karyawan lain yang lebih cantik dari saya kok. Mbak Jennie contohnya." Aku masih berusaha mencari alasan lain.

"Mencoba menolak saya dengan cara merendahkan diri kamu sendiri? Bagi saya bahkan kamu lebih cantik dari Jennie." Katanya.

Deg! Beberapa kalimat yang mendadak membuatku keringat dingin. Adalah suatu keanehan apabila kalimat pujian dilontarkan dari pria seperti dirinya, mengingat beberapa kali aku mendapati Pak Jaehyun selalu bersikap sinis kepada orang lain.

"Pak, pernikahan itu sifatnya sakral. Saya nggak mungkin menerima lamaran dari orang yang belum saya kenal sepenuhnya. Lagian, saya juga masih muda. Saya masih mau meniti karier saya." Kataku memberi penjelasan, berharap pria itu akan menyerah.

Namun ternyata, dugaanku salah. "Memangnya kamu butuh waktu berapa lama supaya bisa mengenal saya?"

"Pak --"

"Satu hari?" Ia memotong ucapanku.

"Satu hari? Pak Jaehyun jangan bercanda. Menghitung hasil suara pilkada saja butuh waktu lebih dari satu hari."

"Satu minggu?"

"Satu minggu juga nggak akan cukup buat saya."

"Satu bulan?"

Aku menghela napas berat. "Tunggu sebentar, Pak Jaehyun ini beneran lagi melamar saya? Saya jadi bingung sendiri."

Bukannya menjawab pertanyaanku, pria tersebut malah bangun dari kursinya, lalu mendekatiku dan bersandar pada meja. "Kamu meragukan saya? Apa perlu saya menemui orang tua kamu dan meminta restu dari mereka?" Pertanyaan barusan terdengar mencekam. Apa lagi image seorang Jung Jaehyun dimataku tidak lebih dari atasan yang galak dan jutek.

Aku yang sudah tidak lagi memiliki sanggahan atau alasan lainnya hanya bisa berkata, "hah? Jangan!"

"Terus mau kamu gimana?"

"O -oke, saya coba pikir dulu."

Pria itu mengangguk sambil tersenyum. "Baik, saya tunggu jawaban dari kamu."

Ini benar-benar gila. Baru enam bulan menjadi karyawan, aku sudah dihadapkan dengan pilihan tersulit dalam hidupku --dilamar oleh atasan sendiri. Aku sendiri tidak mengerti bagaimana seorang pria cuek, keras kepala, dan dingin seperti Jung Jaehyun bisa mengungkapkan kegilaannya untuk melamarku.

Dengan sifat yang dia miliki, sulit rasanya percaya jika pria itu benar-benar menaruh hati padaku. Apa lagi aku ini hanya seorang karyawan.

"Kamu bisa kembali, Magenta." Ujarnya.

** ** **

Hiii
Surprise!

Awal bab yang membagongkan bukan? Hwhwhwhw :3

Basically buku ini tuh isinya kebucinan seorang Jung Jaehyun ke Magenta dan gimana Jaehyun bisa suka sama Magenta terus nekad ngajak nikah

Intinya sih cerita ini aku sajikan dengan alur cerita yang ringan dan gak ribet

Jadi, enjoy this book!!! ❤️❤️❤️

Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang