Baru enam bulan menjadi karyawan, Magenta sudah dihadapkan dengan pilihan tersulit dalam hidupnya --dilamar oleh atasan sendiri. Gadis itu tidak mengerti bagaimana seorang pria cuek, keras kepala, dan dingin seperti Jung Jaehyun bisa mengungkapkan k...
I don't own all these pictures below. All credit goes to @google.
Another updates! Hahaha.
Semoga bisa menemani malam minggu kalian! Happy reading xx
** ** **
Aku merapikan meja serta tas, lalu bersiap-siap menuju basement --tempat dimana aku dan Lucas akan bertemu sebelum pergi. Pria itu sudah lebih dulu meninggalkan kubikelnya karena harus bertemu dengan Kepala Divisi Pemasaran --Pak Chanyeol.
Pak Jaehyun keluar dari ruangannya bersamaan dengan diriku yang juga akan meninggalkan kubikel. Ia sempat melihatku dan tersenyum sebelum berlalu begitu saja. Aku pun berjalan menuju lift dan bertemu dengannya lagi di sana.
"Kamu langsung pulang?" Tanya Pak Jaehyun.
Aku menggelengkan kepala. "Enggak pak."
"Kamu mau kemana setelah ini?"
"Saya mau ke mall."
"Sendirian?"
"Enggak," aku menggeleng lagi, "saya bareng sama Lucas."
Pria itu tampak menghela napas berat sebelum memasuki lift yang ternyata sudah terbuka. Aku mengekor padanya dan berdiri agak menjauh. Perjalanan dari lantai 17 menuju basement terasa lebih lama. Apa lagi di lift ini hanya ada aku dan Pak Jaehyun. Meskipun lift sempat berhenti di beberapa lantai, tetapi tidak ada satu pun orang yang masuk. Hal tersebut semakin membuatku merasa canggung.
Tiba di basement, Pak Jaehyun berlalu begitu cepat tanpa sedikit pun menoleh kepadaku. Sadar bahwa sesuatu mungkin terjadi kepada pria itu ketika aku mengatakan akan pergi dengan Lucas, tiba-tiba aku langsung berubah pikiran. Aku pun menghampiri Lucas yang terlihat sedang berdiri di dekat motornya.
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
[Imagine this as Lucas]
"Lucas, sorry nih kayaknya gue nggak bisa nemenin lo nyari baju deh malam ini." Ujarku seraya menepuk pundak pria itu ketika berhasil menghampirinya.
Lucas yang menyadari kehadiranku segera menoleh dan melepaskan helm yang ia kenakan. "Loh, emangnya kenapa?" Tanya pria tersebut.
"Itu --tadi bokap telepon dan nyuruh gue langsung pulang. Kayaknya kakak laki-laki gue dateng ke rumah deh." Dustaku.
Terlihat raut kekecewaan dari pria itu. "Oh, ya udah, nggak apa-apa. Gue bisa sendiri kok, atau lo mau sekalian gue antar pulang aja?"
"Hah? Nggak usah deh," aku menolak dengan halus, "gue bisa pesan ojek online kok dari sini. Lagian rumah gue dan GI tuh kan beda arah, nanti lo ribet lagi kudu bolak-balik Kemang-Grand Indonesia."
"Ya elah Magenta, selalu deh merasa nggak enakan sama gue. Lagian kan gue berniat baik sama lo. Udah sini, biar gue antar sampai rumah. Dari pada lo naik ojek online kudu bayar, nah kalau sama gue kan gratis." Katanya sambil menepuk jok belakang motornya. Pria ini masih bersikeras untuk mengantarku pulang.