Ch. 3

449 73 18
                                        

Disclaimer:

I don't own this picture below. All credit goes to google.com

Happy Reading!

*Kalau ada banyak typo, harap maklum hihi

** ** **

Kantor mulai sepi ketika waktu sudah menunjukkan pukul setengah enam sore. Namun, aku tidak bisa langsung pulang. Ada banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan malam ini, sehingga memaksaku untuk lembur.

"Kamu belum pulang Magenta?" Suara berat itu terdengar dengan jelas ditelingaku.

Aku mendongak dan mendapati sosok Pak Jaehyun baru saja keluar dari ruangannya. "A -anu saya harus lembur, pak." Kataku agak kaku.

Sejak dirinya blak-blakan ingin melamarku, kedekatan kami yang awalnya terasa biasa saja, kini malah membuatku mati kutu. Berada se-dekat ini adalah sesuatu yang sulit, dan sebutan 'hot manager' yang disematkan oleh Mbak Julia dan karyawan lainnya memang cocok untuk pria tersebut. Jika biasanya orang-orang akan terlihat lusuh saat pulang kerja, pria ini malah terlihat semakin seksi dan menawan.

"Oh ya, saya tadi dikasih hot chocolate sama Doyoung, tapi kebetulan saya nggak begitu suka sama cokelat. Jadi, ini buat kamu aja." Tanpa banyak bicara, pria itu langsung meletakkan satu cup hot chocolate di atas meja kerjaku.

" Tanpa banyak bicara, pria itu langsung meletakkan satu cup hot chocolate di atas meja kerjaku

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Aku melemparkan sebuah senyuman kaku kepada Pak Jaehyun. "Aduh, ng -nggak usah, pak. Ini kan dikasih sama Pak Doyoung, masa sekarang dikasih ke saya? Nanti orangnya tahu kan nggak enak."

"Kamu nggak usah khawatir. Lagi pula saya nggak terlalu suka cokelat. Sayang aja kalo nggak diminum."

"Oh, ya sudah, ka -kalo gitu makasih Pak."

"Sama-sama, saya duluan ya. Kamu hati-hati di jalan nanti." Suaranya terdengar lembut.

"I -iya, Pak Jaehyun juga hati-hati." Balasku.

Aku sempat mengamati pria itu sampai sosoknya benar-benar menghilang dari pandangan mata, lalu beralih pada hot chocolate yang dia berikan dan menyeruputnya secara perlahan. Di saat bersamaan, tiba-tiba saja muncul Pak Doyoung dari arah pantry. Ia menghampiriku dan bersandar pada kubikel.

"Lo lembur juga, Genta?" Tanya Pak Doyoung sambil membawa sebuah cangkir. Dari aromanya, tercium wangi teh jasmine.

"Eh Pak Doyoung, iya nih saya lembur," aku mengangguk pelan, "Pak Doyoung sendiri juga lembur?" Tanyaku.

"Iya, soalnya besok mau ada evaluasi besar-besaran. Jadi, gue harus lembur. Males banget sih sebenernya, tapi gue nggak mau kena semprot Jaehyun gara-gara masalah ginian doang." Balas pria itu.

Tiba-tiba aku teringat sesuatu. "Oh iya, ini hot chocolate dari Pak Doyoung, ya? Tadi saya dikasih Pak Jaehyun, katanya dia nggak begitu suka cokelat, makanya dikasih ke saya. Saya nggak enak jadinya sama bapak." Kataku memberi sedikit pengertian kepada pria tersebut.

Sementara itu, yang ditanya tampak mengernyitkan dahi --seperti sedang memikirkan sesuatu. "Tunggu sebentar, perasaan gue nggak pernah ngasih hot chocolate ke Jae deh. Gue aja baru dateng dari pantry. Nih lihat gue bikin teh. Emang nggak kecium apa baunya sama lo?"

Aku melongo hebat. "Ja -jadi, ini bukan dari Pak Doyoung?" Tanyaku sekali lagi untuk memastikan. Namun, jawaban Pak Doyoung masih sama --bukan dia yang memberikan hot chocolate tersebut kepada Pak Jaehyun.

"Iya, tapi tunggu deh, ini lo beneran dikasih hot chocolate sama Jaehyun?" Pertanyaan tersebut terlontar dari bibirnya. Sementara itu, aku hanya menganggukkan kepala sebagai jawaban. "Tumben amat tuh orang. Lagi kesambet apa dia? Kemarin katanya dia traktir Mark sama Lucas, sekarang malah ngasih lo minuman."

Aku menggeleng pelan sambil berusaha untuk tidak terlihat aneh. "Aduh, nggak tahu juga deh saya."

"Kayaknya Mark sama Julia bener, Jaehyun lagi jatuh cinta."

Mendengar kalimat tersebut aku hanya bisa membalas dengan cengiran kecil.

** ** **

Esoknya, aku datang ke kantor sekitar pukul delapan, satu jam lebih cepat dari jam masuk. Baru saja tiba di kubikel, aku sudah mendapati adanya paper bag di atas meja. Tanpa pikir panjang, aku langsung membuka paper bag tersebut, yang ternyata berisi bubur ayam. Tidak hanya itu, terdapat sebuah notes yang tertempel di sana.

Saya buatkan kamu bubur ayam. Memang nggak se-fancy bubur ayam di restoran mahal, tapi saya harap kamu suka. -Jjh

Dari inisial yang diberikan, aku tahu jika oknum yang memberikan paper bag ini adalah Pak Jaehyun.

"Eh Genta, tumben udah dateng." Sebuah suara yang datangnya dari arah belakang membuatku langsung menyembunyikan paper bag tersebut agar tidak ketahuan oleh siapa pun.

Menoleh, aku mendapati Mbak Julia sedang merapikan mejanya. "Iya nih, Mbak Juls. Kebetulan tadi dianter sama bapak. Jadi, bisa dateng lebih cepet deh." Jawabku.

"Btw, lo udah sarapan belum, Ta?" Tanya perempuan itu.

Aku menggeleng pelan. "Belum, mbak. Emangnya kenapa?"

"Mau ikut gue nggak ke kantin? Gue mau beli bakwan bareng Mark sama Lucas di kantin." Tawarnya.

"Gimana ya mbak, tapi aku udah beli sarapan tadi." Dustaku.

"Beli apaan emangnya lo?"

"Anu --tadi aku beli bubur ayam." Aku menyengir kuda.

"Bubur ayam depan kantor bukan, sih? Kata orang-orang enak, tapi rame banget ngantrinya setiap gue mau beli. Jadi, bikin males."

"Bukan mbak, tadi aku beli di deket rumah." Berapa kali lagi aku harus berbohong kepada Mbak Julia?

"Ya udah, gue ke kantin ya. Btw, lo mau nitip minuman atau apa gitu?"

"Enggak usah, nanti aku bisa beli sendiri kok."

"Oke, gue tinggal dulu ya babe."

Setelah memastikan bahwa di sekitarku sudah tidak ada orang, aku langsung membuka paper bag tersebut dan mengeluarkan sebuah tempat makan yang berisi bubur ayam di dalamnya, kemudian memakannya.

** ** **

[To be continue]

Btw, apa rasanya dibucinin sama Jaehyun??? Wkwkwk


Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang