Diklat dimulai pukul sembilan, dan kami sudah berada di lokasi sekitar pukul delapan. Sebelum berangkat ke wisma, kami menyempatkan diri untuk sarapan bubur ayam pinggir jalan.
Memasuki aula, terlihat banyak peserta diklat yang memenuhi ruangan tersebut. Kami pun duduk di tempat yang sudah disediakan oleh panitia diklat. Aku mengamati setiap kegiatan yang mereka lakukan, mulai dari pembekalan materi sampai pada tahap pelaksanaan.
Setelah tiga jam, kami diberi waktu untuk beristirahat. Mbak Julia mengajak kami untuk mencari makan di luar wisma --mengingat konsumsi yang disediakan sangat terbatas. Pada dasarnya, kedatangan kami ke tempat ini terbilang mendadak. Kami baru mendapat informasi setelah satu bulan pasca pengumuman jadwal diklat.
Selepas makan siang, kami kembali ke wisma dan melanjutkan acara diklat selama kurang lebih tiga jam. Tepat pada pukul lima sore, diklat selesai dan kami segera bertolak ke tempat penginapan untuk beristirahat.
"Besok kita pulang jam berapa mbak?" Tanyaku kepada Mbak Julia yang tengah sibuk bermain dengan ponselnya.
"Jam tiga sore dari sini babe." Jawab perempuan tersebut.
"Mbak, masa aku kerasa laper lagi." Ujarku ditengah-tengah keheningan kami.
"Eh, gue ada pop mie tuh. Lo seduh aja kalau mau."
"Dimana mbak?"
"Ada di tas gue yang kecil, ambil aja."
Aku pun beranjak dari tempat tidur, mengambil pop mie milik Mbak Julia, lalu menyeduhnya. Ketika akan kembali ke tempat tidur, bel kamar kami berbunyi. Mbak Julia segera beranjak dari tempatnya untuk melihat siapa yang membunyikan bel barusan.
"Eh, Jae, ngapain lo nyamper malem-malem?" Sepertinya orang yang baru saja membunyikan bel kamar kami adalah Pak Jaehyun.
"Gue mau makan di luar, di antara kalian berdua ada yang mau ikut nggak?" Ujar Pak Jaehyun.
"Lo sendiri? Atau ada yang ikut juga?"
"Gue sendiri, yang lain pada males katanya, mau istirahat."
"Gue sih nggak laper, tapi tadi si Genta bilang kalau dia laper."
"Mana anaknya sekarang?"
"Ada tuh, udah gue suruh seduh pop mie tapi."
"Coba lo tanya lagi, mau nggak dia cari makan bareng gue."
"Oke, lo tunggu di sini ya."
Setelah percakapan keduanya terhenti, aku kembali fokus menyantap pop mie kepunyaanku.
"Magenta, lo diajak Pak Jae cari makan tuh di luar." Ujar Mbak Julia.
"Hah? Ma -makan?"
"Hmmm," Mbak Julia mengangguk pelan, "tadi katanya laper, kan? Mending lo ikut Pak Jae deh, dari pada nanti malem lo sakit perut."
"Tapi Mbak Julia ikut juga kan?" Tanyaku.
"Gue nggak ikut." Balasnya.
"Yah, kalau gitu aku juga nggak usah ikut deh. Masa cuma berdua doang?"
"Udah nggak apa-apa. Pak Jae tuh aslinya baik, dia nggak bakal ngomelin lo kok."
Aku menggigit bibir bawahku sambil berpikir sebentar. Apa mungkin aku harus ikut dengan Pak Jaehyun?
"Genta, orangnya nungguin loh di depan." Ujar Mbak Julia yang langsung membuyarkan lamunanku.
"Hah? Ya -ya udah deh, aku ikut Pak Jaehyun." Kataku pada akhirnya.
Aku meletakkan pop mie yang bahkan belum sempat aku habiskan, lalu berjalan menghampiri Pak Jaehyun yang terlihat sedang bersandar pada pintu kamar. Aku menyapa pria tersebut dan kami berlalu meninggalkan kamar.
"Kata Julia kamu lapar. Makanya saya ajak cari makan." Ujar Pak Jaehyun ketika kami mulai memasuki lift.
"Sebenernya tadi saya udah seduh pop mie sih, pak." Balasku.
"Memang seduh pop mie saja cukup?"
"Kalau buat saya sih cukup pak."
"Saya tadi ajak yang lain buat cari makan, tapi mereka semua lebih memilih buat istirahat. Untungnya ada kamu. Jadi, saya nggak perlu sendirian cari makan di luar."
Setelah keluar dari lift, kami berjalan menuju parkiran mobil. Tampak sebuah Honda H-RV di sana. Aku mengernyitkan dahi dan tampak kebingungan. Dari mana pria ini mendapatkan mobil?
"Pak, ini mobil siapa?" Tanyaku sebelum memasuki mobil.
"Tadi saya telepon driver dan minta tolong buat antar satu mobil ke sini, karena sebenarnya saya nggak biasa disupirin. Jadi, saya nyetir sendiri." Balas pria itu.
Berada di dalam mobil, aku langsung mengenakan sabuk pengaman. Mobil melaju dengan kecepatan sedang. Pada malam hari udara di Lembang terasa lebih dingin, sehingga aku lagi-lagi harus merapatkan jaket.
Setelah menempuh waktu lima belas menit perjalanan, kami tiba di sebuah tempat makan bernama Lereng Anteng. Kami keluar dari mobil dan memasuki salah satu restoran yang ada di sana.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Pak Jaehyun begitu kami berhasil mendapatkan tempat duduk.
"Saya mau Nasi Ayam Penyet deh pak." Balasku sambil melihat-lihat pada daftar menu.
"Minumnya?"
"Milk tea."
"Mbak," Pak Jaehyun tampak memanggil seorang pelayan, "tolong nasi ayam penyetnya satu, roti cokelat kacang satu, pisang goreng satu, milk tea satu, dan teh hangat satu ya." Katanya kepada pelayan tersebut.
"Pak Jaehyun nggak makan nasi?" Tanyaku.
"Kebetulan saya lagi nggak pingin makan nasi."
"Yah, saya jadi nggak enak deh karena makan nasi sendiri."
"Nggak apa-apa. Toh kamu kan tadi katanya laper."
Sambil menunggu pesanan datang, aku memilih untuk membuka ponsel dan membalas beberapa chat masuk dari bapak dan Mas Bian. Namun, tiba-tiba saja aku merasa jika Pak Jaehyun terus memandangiku. Aku meliriknya sekilas dan mendapati pria itu sedang bertopang dagu.
"Pak," aku melambaikan tangan tepat di depannya, "Pak Jaehyun kenapa ngeliatin saya terus?" Tanyaku.
"Hmmm?" Pria itu tersenyum sambil mengernyitkan dahinya.
"Pak Jaehyun dari tadi ngeliatin saya terus, ada apa ya, pak? Saya keliatan aneh ya?"
"Enggak kok," pria itu menggeleng, "kamu malah kelihatan cantik banget malam ini. Saya lebih suka kalau rambut kamu digerai, dari pada di pony tail." Katanya.
Mendengar pujian tersebut terlontar dari bibirnya membuatku semakin tak karuan. Aku mencoba untuk tetap rileks dan biasa saja, tetapi tatapan yang dia berikan justru membuatku grogi setengah mati.
"Magenta, kamu nggak ada hubungan apa-apa kan sama Lucas?" Tanya Pak Jaehyun secara tiba-tiba.
Aku yang mendengar pertanyaan itu sedikit terkejut. "Hah? Kenapa Pak Jaehyun nanya kayak gitu ke saya?"
"Karena saya lihat, kamu cukup akrab dengan Lucas, tapi syukurlah kalau memang kamu nggak ada hubungan apa-apa sama dia."
"Kami kan rekan satu tim, pak. Jadi, wajar dong kalau kami akrab. Lagian, saya akrabnya nggak cuma ke Lucas, sama Mark juga saya akrab."
"Tapi akrabnya kamu ke Mark dan ke Lucas itu berbeda. Saya bisa lihat dari cara kalian berinteraksi, dan jujur hal itu bikin saya cemburu."
** ** **
[To be continue]
Jaehyun bisa cemburu juga ternyata :(
KAMU SEDANG MEMBACA
Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]
Fiksi PenggemarBaru enam bulan menjadi karyawan, Magenta sudah dihadapkan dengan pilihan tersulit dalam hidupnya --dilamar oleh atasan sendiri. Gadis itu tidak mengerti bagaimana seorang pria cuek, keras kepala, dan dingin seperti Jung Jaehyun bisa mengungkapkan k...
![Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]](https://img.wattpad.com/cover/246898603-64-k903721.jpg)