Ch. 8

362 53 33
                                        

Maaf kalau banyak typo

Happy reading!

** ** **

Malam ini udara Jakarta terasa lebih dingin. Mungkin efek dari hujan yang terjadi sejak pagi tadi. Ditemani secangkir teh hangat, aku terus menggonta-ganti channel televisi karena tidak ada acara yang menarik. Berada seorang diri di rumah nyatanya malah membuatku merasa bosan. Bapak dan ibu sedang berkunjung ke tempat Pakde di Semarang.

Beranjak dari sofa, aku mengambil sebuah kunci motor dan helm. Mungkin dengan berjalan-jalan akan mengurangi sedikit rasa bosanku. Aku juga mampir sebentar ke mini market untuk membeli minuman dan makanan ringan.

Ketika aku baru saja akan mengambil minuman dingin, deringan ponselku terdengar. Tanpa berlama-lama aku langsung meraih ponsel yang ada di dalam saku celanaku dan melihat pada layar seseorang yang menghubungiku --bapak.

"Halo, ada apa pak?" Ujarku saat pertama kali mengangkat panggilan tersebut.

"Halo nduk, bapak dan ibu sudah sampai ya di Semarang. Kamu hati-hari di sana. Kalau perlu, kamu mendingan nginep di rumah Mas Bian."

"Nggak usah pak, Genta bisa kok tidur sendiri di rumah." Kataku sambil memilih minuman.

"Ya sudah kalau memang kamu maunya di rumah. Bapak cuma mau bilang, kamu hati-hati ya di sana. Kalau ada apa-apa telepon Mas Bian aja."

"Iya, pak. Bapak sama ibu juga hati-hati ya di sana. Jangan lupa bawain lunpia pesanan Genta." Ujarku diakhiri dengan kekehan kecil.

"Kalau nggak lupa bapak bawain."

"Jangan sampai lupa dong."

"Ya sudah, bapak tutup ya teleponnya? Mau langsung istirahat."

"Iya, selamat istirahat."

Setelah mengakhiri panggilan dengan bapak, aku kembali memilih minuman dan makanan ringan, kemudian membayar ke kasir ketika berhasil mendapatkannya.

Selesai berbelanja, aku memutuskan untuk segera pulang, mengingat hari juga sudah semakin malam dan aku tidak mungkin berlama-lama berada di luar. Setibanya di rumah, aku langsung pergi ke kamar dan membuka kantung belanjaanku.

Namun, deringan ponsel lagi-lagi mengurungi niatku untuk rebahan. Kali ini bukan bapak atau ibu, melainkan Mas Bian --kakak laki-lakiku. "Halo Mas Bian, ada apa kok tumben malam-malam gini telepon?" Ujarku membuka pembicaraan.

"Kamu dimana?"

"Di rumah."

"Ya udah, Mas Bian ke rumah ya sekarang."

"Oh, oke, hati-hati."

Mas Bian buru-buru mengakhiri panggilan kami dan aku menunggu kurang lebih setengah jam sampai pria itu tiba di rumah dengan membawa banyak bungkusan ditangannya.

"Kamu udah makan?" Tanya Mas Bian seraya duduk di atas sofa.

Aku mengangguk pelan. "Udah, tadi Genta beli mie ayam di tempat Pakde Gio." Balasku.

"Ini, Mas Bian beliin martabak manis." Mas Bian mengeluarkan sebuah kotak makanan berisi martabak manis, lalu menyodorkannya kepadaku.

"Tumben Mas Bian ke sini. Pasti disuruh bapak, ya?"

Mas Bian menghela napas berat. "Iya, tadi bapak telepon Mas Bian, katanya tolong mampir ke rumah dan mastiin kamu nggak bawa laki-laki ke sini."

Aku memutar kedua bola mataku mendengar ucapan Mas Bian barusan. Entah bagaimana pria ini selalu berpikir bahwa aku akan membawa pria ke rumah ketika bapak dan ibu sedang tidak ada.

Let's Get Married [NCT Jung Jaehyun]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang