14

1.2K 240 56
                                        

Hyunjin rasa hari ini semesta sedang berpihak padanya. Ini terbukti dari betapa beruntungnya dia hari ini, mulai dari keberhasilannya untuk bolos kelas tambahan. Kemudian disusul dengan kabar bahwa sang ayah tidak akan pulang malam ini. Ada beberapa pekerjaan yang harus beliau selesaikan dan tidak bisa ditinggal meskipun itu hanya untuk satu malam.

Hyunjin mengerti, ayahnya adalah seorang kepala kepolisian. Para bawahannya pasti banyak membutuhkan kemapuan sang ayah.

Biasanya, Hyunjin akan merasa kesepian dan tidak ingin ayahnya lembur. Namun kali ini berbeda. Hyunjin justru sangat bersyukur dan berterimakasih kepada setumpuk pekerjaan yang membuat sang ayah harus bermalam di kantor.

Hyunjin pun jadi tidak perlu pusing memikirkan alasan apa yang harus dia katakan pada sang ayah sebagai alibi karena tidak mengikuti kelas tambahan hari ini. Setidaknya hari ini Hyunjin tidak perlu membohongi sang ayah.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Hyunjin tiba di rumah saat malam sudah cukup larut. Dia langsung masuk ke dalam kamar dan kemudian meletakkan begitu saja tas sekolahnya. Setelah itu Hyunjin langsung merebahkan diri di atas kasur dengan masih mengenakan seragam sekolah yang hampir seharian ini dia kenakan.

Hari ini Hyunjin merasa begitu lelah. Saking lelahnya dia sampai berpikir untuk langsung tidur tanpa membersihkan diri terlebih dulu. Meskipun dia merasa cukup lengket akibat keringat yang sudah menempel pada baju seragamnya. Hyunjin tetap membiarkan dirinya berbaring di atas kasur yang hampir seharian ini dia tinggalkan.

Hyunjin menatap lurus pada langit-langit kamarnya yang nampak begitu kosong. Bukan hanya secara fisik tapi secara emosional Hyunjin juga merasa begitu lelah. Pikirannya kacau.

Hyunjin hanya menghabiskan waktu beberapa jam di kediaman tuan Pengacara Chan tapi rasanya itu seperti menguras seluruh energinya. Hyunjin beberapa kali terdengar menghela napas, mencoba untuk menata kembali pikirannya.

Perhatian Hyunjin kemudian beralih menjadi menatap ke arah jendela kamar yang belum tertutup oleh gorden. Hyunjin dapat melihat gelapnya langit malam serta rintikan air hujan yang mulai turun membasahi kota.

Berbeda dengan kedua matanya yang terlihat fokus memperhatikan suasana malam yang tergambar melalui jendela kamar. Pikiran Hyunjin justru kembali mengingat kejadian tadi saat dia berada di kamar Jisung. Saat Hyunjin mendapati kertas karton berwarna hitam yang ternyata masih Jisung tempel di jendela kamarnya.

Sesuatu yang sangat sederhana. Bahkan sama sekali tidak terlihat mencurigakan tapi kenapa hal itu justru sangat mengganggu pikiran Hyunjin.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Flashback

Cukup lama Hyunjin memandangi foto polaroid yang terpajang di dinding kamar sang sahabat. Sampai akhirnya dia melangkahkan kaki menuju ke arah jendela. Kertas karton berwarna hitam yang sengaja ditempel untuk menutupi kaca jendela oleh sang pemilik kamar berhasil menarik perhatian Hyunjin.

"Anak itu benar-benar benci sinar matahari yang mengganggu tidurnya," intrupsi Chan tiba-tiba membuat Hyunjin sedikit tersentak di tempat. Dia sama sekali tidak menduga akan kehadiran Chan.

Hyunjin terlalu fokus menelisik setiap sudut kamar Jisung hingga dia tidak menyadari kedatangana Chan. Sebuah senyuman simpul pun Hyunjin berikan sebagai jawaban. Dia sangat setuju dengan kalimat Chan tersebut.

Setelah itu tidak ada lagi yang membuka suara. Perhatian Hyunjin pun kembali tertuju pada jendela kamar. Satu tangannya terulur, membuka kaca jendela. Semilir lembut angin sore langsung menyapa wajah tampannya.

Jujur ada banyak hal yang tiba-tiba memenuhi pikiran Hyunjin. Setiap sudut kamar ini mengingatkan Hyunjin pada sang sahabat.

Rindu.

Hyunjin rindu moment ini. Hyunjin rindu menghabiskan waktunya sepanjang hari di kamar Jisung seperti saat ini.

Rindu.

Hyunjin rindu. Hyunjin rindu kehadirannya. Hyunjin merindukan Jisung.

###

ANOTHER DAY (ON REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang