Bisa Jeongin katakan bahwa dia tidak dekat bahkan tidak begitu mengenal Tuan Pengacara Chan. Jeongin bisa kenal Chan hanya karena pria tersebut adalah kakak dari Changbin. Dan menurut Jeongin itu adalah satu-satunya yang dapat ia banggakan setelah bertahun-tahun berteman dengan seorang Changbin.
Akhirnya Jeongin dapat merasakan memiliki seorang kenalan dengan gelar yang tinggi serta terkenal di kalangan masyarakat. Sedangkan untuk Changbin sendiri, ah.. Jeongin bahkan sudah terlalu bosan untuk mengakui bahwa detektif Changbin adalah temannya.
"Ya! Apa-apaan ini?!" pekik Jeongin bingung saat melihat Changbin tiba-tiba datang dan langsung tanpa izin masuk ke dalam mobilnya. Changbin langsung mengambil tempat duduk di kursi penumpang yang ada di samping kursi pengemudi, tempat di mana Jeongin duduk saat ini.
"Heh? Mau ngapain? Turun gak!" usir Jeongin tanpa berniat mendengarkan penjelasan Changbin terlebih dahulu. Saat ini perutnya yang kelaparan jauh lebih penting daripada apapun.
Dari pagi Jeongin sudab memiliki banyak pekerjaan, ia harus mencari berbagai macam informasi tentang anak-anak yang dilaporkan menghilang. Berkendara dari satu tempat ke tempat yang lain, bertanya dari sana ke sini, bahkan memeriksa CCTV dari segala tempat.
Semua pekerjaan itu telah menguras banyak energi Jeongin dan satu-satunya yang dia inginkan saat ini adalah menu makan siang lengkap, bukan wajah kusut sang sahabat.
"Gimana perkembangannya? Udah dapat informasi lain tentang Jisung, gak?" tanya Changbin langsung pada intinya. Mengabaikan kalimat Jeongin yang secara terang-terangan mengusir kedatangannya.
"Ya! Kamu datang buat nanya itu doang?" Mendengar kata 'doang' Changbin langsung menjitak kepala sang sahabat. Jeongin sontak mengaduh kesakitan tapi urung membalas karena melihat kilatan tajam netra sang lawan bicara. "Nanti aja bahas di kantor. Aku laper mau makan siang."
"Gak bisa," tolak Changbin menahan Jeongin agar tidak keluar dari mobil. "Bisa mati aku kalau sampai ketahuan Komandan Kim. Kan kamu tahu tadi malem ada kasus apa." Jeongin menepuk pelan jidatnya sendiri. Bagaimana bisa dia lupa bahwa hidup temannya ini sedang ada di antara hidup dan mati.
Tadi malam saat semua anggota tim unit Satuan Reserse Kriminal sibuk menangani penemuan mayat yang baru ditemukan, pria kelahiran bulan Agustus itu justru tak dapat ditemukan dimanapun. Andai saja Jeongin tidak ingat apa yang tengah pengacara Chan alami selaku kakak dari Changbin, maka sudah pasti dia akan menertawakan nasib temannya itu.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
"Jadi gimana perkembangannya? Kalian sudah menemukan petunjuk tentang keberadaan Jisung?" ulang Changbin kembali membahas tujuan awal kedatangannya.
Jujur tadi malam kondisi Changbin tidak jauh berbeda dengan sang kakak. Changbin juga tidak bisa tidur dan terus memikirkan sang keponakan. Changbin juga tidak bisa fokus pada pekerjaannya sebab dia benar-benar khawatir dengan Jisung.
"Sebenarnya," kata Jeongin terdengar ragu. Dia kemudian menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
"Sebenernya apa?" desak Changbin tidak sabar. Jeongin tetap diam. Dia butuh waktu lebih lama untuk memutuskan apakah dia harus berterus terang pada sang sahabat atau tidak.
"Apa? Kalian sudah tahu Jisung dimana?" tebak Changbin menaruh sedikit harapan. Jeongin terlihat menggeleng lalu dengan lirih berucap, "kami belum menemukan petunjuk apapun."
.
.
.
.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER DAY (ON REVISI)
AléatoireKetika hari esok tak lagi terasa sama. Barulah Chan sadar bahwa, there is always that ONE MISTAKE that changes EVERYTHING. HAN JISUNG x 3RACHA x STRAY KIDS
