.
.
.
.
.
Meja ruang tamu yang biasanya kosong itu kini penuh dengan beberapa makanan ringan serta minuman dingin rasa jeruk. Chan dan Hyunjin asik mengobrol layaknya seorang anak yang akrab dengan sang ayah. Chan sendiri juga banyak bertanya mengenai Hyunjin, baik kabarnya, kesibukannya, maupun alasan kenapa dia sudah tidak pernah lagi datang berkunjung.
Mereka sampai tidak ingat sudah berapa lama mereka saling bercakap-cakap hingga ponsel pengacara Chan terdengar berdering dan menampilkan sebuah panggilan masuk.
"Sebentar, ya Om jawab panggilan ini dulu. Dimakan jajannya. Jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri, kayak biasa," ujar Chan ramah sebelum akhirnya bergegas pergi untuk menerima panggilan.
Hyunjin nampak tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, maklum. Hyunjin sudah paham jika ayah dari sahabatnya itu merupakan orang penting dan super sibuk, sama seperti ayahnya sendiri. Namun alih-alih menikmati cemilan yang sudah dihidangkan. Hyunjin lebih memilih untuk melangkah kakinya menuju lantai dua, tempat dimana kamar Jisung serta Felix berada.
Meskipun terbilang lama tidak datang berkunjung, Hyunjin masih ingat dimana letak kamar sang sahabat. Dulu dia banyak menghabiskan waktunya di dalam kamar tersebut. Bahkan dulu Hyunjin sering menggoda Jisung tentang kamarnya yang berantakan, hingga membuat si pemilik kamar murka.
Namun meskipun kamar Jisung jauh berbeda dengan kamar miliknya yang selalu rapi, Hyunjin tetap lebih merasa nyaman menghabiskan waktu di kamar sang sahabat. Kamar itu jauh lebih ramai dan hidup tidak seperti kamar miliknya yang selalu terasa hampa.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
"Rasanya masih sama," batin Hyunjin ketika ia masuk ke dalam kamar milik Jisung. Hyunjin mengedarkan pandangannya ke setiap sudut kamar.
Ingatannya pun kembali memutar potongan-potongan kenangan antara ia dengan sang sahabat di dalam kamar tersebut. Penuh dengan canda tawa dan juga perkelahian ringan layaknya anak laki-laki seusia mereka. Jisung, definisi nyata seorang sahabat dan juga 'partners in crime'* yang menyenangkan.
Hyunjin yakin seratus lima puluh persen semua orang pasti menginginkan sahabat seperti Jisung dalam kehidupan nyata mereka.
Sebuah senyuman hangat pun terukir manis pada wajah Hyunjin saat ia melihat beberapa potret dirinya dengan sang sahabat. Terbingkai rapi dalam foto polaroid yang sengaja sang pemilik kamar pajang di dinding, guna menciptakan suasana kamar ala-ala remaja estetik.
Hyunjin tidak begitu ingat kapan Jisung mulai menyukai bidang fotografi. Selama mereka berteman Hyunjin tahu betul Jisung tidak suka bahkan sama sekali tidak peduli dengan sesuatu yang berhubungan dengan kamera. Jisung bukan tipe manusia yang segala sesuatunya harus diabadikan lewat sebuah foto.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER DAY (ON REVISI)
RandomKetika hari esok tak lagi terasa sama. Barulah Chan sadar bahwa, there is always that ONE MISTAKE that changes EVERYTHING. HAN JISUNG x 3RACHA x STRAY KIDS
