Entah mendapat dorongan dari siapa dan entah berawal dari mana. Sore ini bukannya berjalan menuju tempat kelas tambahan yang selalu Hyunjin hadiri, langkah kakinya justru berjalan ke arah sebaliknya.
Untuk pertama kalinya, Hyunjin tidak peduli dengan konsekuensi yang akan dia dapatkan nanti malam ketika pulang ke rumah. Sebab sang ayah pasti tidak akan tinggal diam ketika mengetahui putra kesayangannya itu tidak hadir dalam kelas tambahan.
Alasan bolos?
Hyunjin akan pikirkan nanti. Ada seribu satu alasan yang dapat dia temukan dengan mudah di kolom pencarian internet.
Jujur Hyunjin juga tidak mengerti dengan dirinya saat ini tapi dia juga tidak akan mengelak kenyataan bahwa dia sangat khawatir dengan keadaan sang sahabat, Jisung. Kemudian sama seperti yang lain, pertanyaan-pertanyaan seperti kemana dan bagaimana selalu memenuhi pikiran Hyunjin.
Hingga akhirnya langkah kaki Hyunjin sampai di sebuah rumah. Sebuah rumah yang dulu pernah terasa seperti rumahnya sendiri. Sebuah rumah yang selalu penuh dengan kehangatan, berbanding terbalik dengan rumah keluarganya sendiri.
Rumah keluarga Pengacara Chan.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Dulu Hyunjin akan langsung masuk ke dalam rumah kediaman Pengacara Chan tanpa merasa ragu maupun canggung sedikitpun. Namun kali ini berbeda. Alih-alih menekan bel yang memang disediakan di pojok kanan pagar rumah, Hyunjin hanya terlihat berdiri dengan kepala yang beberapa kali mendongak ragu.
Hyunjin mencoba untuk melihat keadaan di dalam rumah. Dia berharap orang yang ia khawatirkan akan muncul dan kemudian mempersilahkannya masuk, seperti dulu.
Mustahil.
Sepuluh menit berlalu dan tanda-tanda ada kehidupan dari dalam rumah sang sahabat sama sekali tidak terlihat. Begitu juga dengan posisi Hyunjin yang juga tetap sama, hanya berdiri di depan pagar rumah seorang pengacara ternama layaknya seorang idiot.
“Hyunjin?” Sebuah suara yang terdengar sangat familiar berhasil mengintrupsi Hyunjin dari kegiatannya berdiam diri. Hyunjin pun langsung menoleh pada sumber suara.
“Eh! Om?” sapa Hyunjin canggung. Tidak menyangka dia akan bertemu dengan si pemilik rumah alias pengacara Chan.
"Hyunjin apa kabar? Udah lama banget gak main ke rumah. Udah dari tadi? Kenapa gak langsung telfon? Kan kalau tahu Hyunjin datang, Om bisa pulang lebih cepat,” ucap Chan terdengar ramah seraya mempersilahkan anak laki-laki tersebut ikut masuk ke dalam rumah bersamanya.
“Eh? Gak kok Om. Ini Hyunjin juga baru datang," bohong Hyunjin sambil ikut berjalan di samping ayah sang sahabat. Rasanya canggung tapi di saat yang sama Hyunjin juga senang karena akhirnya dia punya kesempatan untuk kembali menginjakkan kakinya di rumah penuh kenangan tersebut.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Hyunjin mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan saat ia sudah berada di dalam rumah. Tadi pengacara Chan berkata dia akan bersih-bersih diri terlebih dulu. Chan juga telah mengizinkan Hyunjin untuk melihat-lihat atau melakukan apapun yang dia mau layaknya di rumah sendiri.
Sejauh mata memandang dan dari apa yang Hyunjin ingat, tidak banyak yang berubah sejak terakhir kali dia datang berkunjung. Posisi tiap perabotan rumah tetap sama. Sebuah rak berlapis kaca yang dipenuhi oleh piagam penghargaan serta piala berwarna keemasan beratas namakan Felix tetap berada pada posisinya.
Terlihat jelas bahwa benda-benda tersebut dijaga dengan sangat baik oleh si pemilik rumah. Hampir semua penghargaan penuh kilau itu beratas namakan Felix. Meskipun mereka kembar tapi kepribadian mereka sangat berbanding terbalik.
Kalau aku mau, aku bisa aja dapat semua benda itu dengan mudah. Aku gak bodoh.
Ungkap Jisung kala itu dengan penuh percaya diri ketika Hyunjin bertanya kenapa Jisung tidak memiliki banyak piala penghargaan seperti saudara kembarnya.
Lagian aku juga gak benar-benar mau semua benda itu. Anggap saja aku lagi berbuat baik sama saudara sendiri. Aku ngalah, biar dia senang.
Hyunjin kembali mengingat perkataan Jisung yang lain dan itu membuat Hyunjin menggelengkan kepala seraya tersenyum. Entah itu hanya kalimat bualan atau memang Jisung aslinya mampu. Namun satu yang pasti adalah Jisung tidak bodoh.
Jisung tahu apa yang dia inginkan. Jisung tahu bagaimana menikmati hidupnya. Hanya saja mereka tidak mengerti atau mungkin lebih tepatnya tidak ada satupun yang mencoba untuk mengerti dirinya.
.
.
.
.
.
.
***
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER DAY (ON REVISI)
DiversosKetika hari esok tak lagi terasa sama. Barulah Chan sadar bahwa, there is always that ONE MISTAKE that changes EVERYTHING. HAN JISUNG x 3RACHA x STRAY KIDS
