.
.
.
.
.
"Hyunjin?" batin Jisung menebak. "Ngapain dia masih di sini? Udah gila apa, ya? Susah banget, sih disuruh pulang."
Entah kenapa Jisung merasa begitu yakin bahwa orang yang berdiri di bawah sana adalah sang sahabat, Hyunjin. Anak laki-laki kelahiran bulan Maret yang mungkin sekitar tiga puluh menit lalu dia usir keluar dari rumahnya.
Kegiatan menutup jendela pun kembali tertunda. Jisung langsung berlari menuju meja belajar untuk mengambil ponsel. Dia dengan cepat membuka layar kunci yang terpasang pada layar. Setelah itu, Jisung membuka aplikasi yang biasa dia gunakan untuk bertukar pesan secara online.
Jari-jari Jisung nampak begitu cekatan mengetik setiap kalimat yang menggambarkan rasa kesalnya melihat perilaku keras kepala sang sahabat.
Satu menit
Dua menit
Tiga menit
Lima menit
Kesal karena pesannya belum juga mendapat balasan. Jisung pun kembali mengirim beberapa pesan lainnya. Jisung tidak akan berhenti sampai Hyunjin membalas pesannya. Tidak akan Jisung mengalah pada manusia keras kepala seperti Hyunjin.
Dan benar saja, selang dua menit kemudian sebuah notifikasi dari kontak bernama 'Hyunjinie' masuk memenuhi room chat. Hyunjin akhirnya membalas pesan Jisung seperti apa yang dia harapkan.
Tapi bukannya merasa senang karena akhirnya mendapat balasan, Jisung justru nampak membatu. Kini perhatian Jisung tidak lagi tertuju pada layar ponsel yang saat ini masih menampilkan room chat antara dirinya dengan sang sahabat.
Perhatian Jisung justru kembali tertuju pada jendela kamar yang masih terbuka lebar. Jisung dengan langkah pelan kembali berjalan ke arah jendela. Tiba-tiba dia merasa cemas, takut hingga tenggorokannya terasa begitu kering.
"Hyunjin pasti bohong," batin Jisung menyangkal pesan balasan sang sahabat. "Pasti lagi bercanda. Sengaja nakut-nakutin, nih. Kebiasaan emang." Jisung coba untuk tetap tenang, meskipun degup jantungnya saat ini berdetak dua kali cepat.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Orang itu masih di sana.
Tidak seperti sebelumnya, kali ini tubuh Jisung memberikan reaksi yang sangat berbeda. Di satu sisi Jisung ingin tetap berpikir bahwa orang itu adalah Hyunjin. Tapi di sisi lain pikirannya juga menyangkal hal tersebut.
Kemudian dengan perhatian yang tetap tertuju pada orang di bawah sana, Jisung putuskan untuk menghubungi Hyunjin. Jika orang itu terlihat menerima panggilan telfon maka sudah pasti dia adalah sang sahabat.
Lima detik
Sepuluh detik
Lima belas detik
Jisung semakin dibuat khawatir. Dia menggigit bibir bawahnya sambil terus memperhatikan gerak-gerik orang itu. Waktu terus berjalan dan terpantau belum ada tanda-tanda Hyunjin akan menerima panggilan telfonnya. Jisung sedikit merasa lega sebab orang itu pun juga terlihat tidak mengelurkan ponsel.
Hyunjin.
Orang itu pasti Hyunjin.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
"Halo? Ji?" Sampai akhirnya pada detik ke tiga puluh suara Hyunjin terdengar menyapa indra pendengarannya. Sang sahabat sudah menerima panggilan telfonnya tapi-
Deg!
Bukan ini yang Jisung harapkan.
Jisung dapat merasakan jantungnya kembali berdegup lebih cepat. Jisung pun kian menggigit kuat bibir bawahnya lalu dengan pelan ia kembali melihat orang di bawah sana.
Orang itu tetap bergeming dan sama sekali tidak terlihat seperti orang yang sedang menerima panggilan telfon. Perhatian Jisung pun terus tertuju pada orang itu sampai tiba-tiba orang itu mendongakkan kepalanya.
Kedua netra mereka saling bertemu. Orang itu memakai masker yang menutupi setengah wajahnya. Tapi Jisung dapat dengan jelas melihat sorot mata orang itu menatap tajam ke arahnya. Sebuah tatapan menusuk dan penuh ancaman hingga mampu membuat Jisung bergidik ketakutan.
Bahkan tak cukup sampai di situ, orang itu juga tiba-tiba mengulurkan tangan, menunjuk atas, ke arah tempat Jisung berdiri. Lalu jari telunjukknya dia gerakkan mengiris lehernya sendiri, memberi isyarat yang artinya hanya satu; mati.
Jisung bergetar ketakutan, di ujung sana dia masih dapat mendengar Hyunjin berkali-kali memanggil namanya. Namun tak ada satu pun kata yang keluar mulut Jisung. Tubuh Jisung seakan terkunci, napasnya terasa tercekat. Jisung tidak mengenal orang itu tapi Jisung tahu dia...
bukan Hyunjin.
###
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER DAY (ON REVISI)
AcakKetika hari esok tak lagi terasa sama. Barulah Chan sadar bahwa, there is always that ONE MISTAKE that changes EVERYTHING. HAN JISUNG x 3RACHA x STRAY KIDS
