18

1.1K 217 149
                                        

Akhirnya setelah empat puluh delapan jam berjuang dengan puluhan rekaman CCTV, Jeongin dan tim berhasil menemukan beberapa potret bukti yang memperlihatkan Jisung tengah diikuti oleh seseorang.

Meskipun mereka masih belum bisa mengidentifikasi siapa gerangan orang itu, akibat penyamaran yang digunakan. Namun setidaknya dengan foto-foto tersebut mereka dapat mengambil sebuah tindakan baru tentang apa yang harus mereka lakukan. Mereka tidak lagi hanya berpangku tangan, duduk menunggu datangnya informasi.

Changbin pun langsung menghubungi Chan setelah mendengar kabar tersebut. Dia ingin segera bertemu untuk berbagi kabar sekaligus berdiskusi. Changbin juga berniat untuk menginap di kediaman saudaranya itu.

Kamar Jisung adalah tujuan utamanya. Ada yang harus Changbin pastikan. Dia juga ingin kembali mencari sesuatu yang mungkin bisa dia jadikan petunjuk. Mungkin terakhir kali dia mencari ada bagian yang terlewat dari perhatiannya.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Chan langsung memutus sambungan telfon setelah ia mendengar Changbin akan datang menyusul ke kafe tempat Chan berada saat ini. Sebelumnya pemuda kelahiran bulan Agustus itu juga mengajaknya untuk pulang bersama.

Terdengar tidak biasa tapi karena hari ini Chan kebetulan tidak membawa mobil akibat sedang diperbaiki. Maka dengan senang hati Chan mengiyakan ajakan Changbin tersebut.

Kemudian jika mendengar dari nada suaranya, Chan dapat mengetahui bahwa Changbin sedang dalam suasana hati yang sangat baik. Dan lagi, hal ini terasa cukup aneh.

Sekarang waktu sudah menunjukkan pukul enam sore. Artinya Changbin baru saja selesai bekerja setelah hampir seharian menjalankan tugasnya sebagai anggota detektif di Unit Reserse Kriminal.

Changbin dengan suasana hati baik sepulang kerja? Adalah suatu hal yang benar-benar mustahil.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Setelah menerima satu pesan masuk dari Changbin yang mengungkapkan bahwa ia akan tiba sekitar tujuh menit lagi. Chan nampak menyesap habis segelas latte yang telah ia pesan, sebelum akhirnya beranjak menuju ke arah kasir untuk memesan sebuah minuman untuk Changbin.

"Sepertinya seseorang melupakan gitarnya kemarin" Jelas sang kasir menyadari atensi Chan yang tertuju pada sebuah tas gitar yang diletakkan di sekitar meja pantry kafe. Tepat setelah Chan menyebutkan pesanannya.

Memang terlihat cukup aneh dan terkesan merusak ke indahan kafe. Jadi hal yang wajar jika para pengunjung memperhatikan tas gitar tersebut.

"Ah,,"

Gumam Chan sembari menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Memang hal yang biasa terjadi di tempat-tempat umum seperti ini. Seharusnya itulah yang Chan rasakan. Mewajarkan dan mengabaikan. Tapi entah kenapa tas gitar tersebut benar-benar menarik perhatiannya.

Seperti ia pernah melihat tas tersebut sebelumnya. Terasa begitu tidak asing baginya. Khususnya pada bagian gantungan kunci yang terpasang pada bagian *slider ritsleting. Terlihat seperti sebuah gantungan kunci dengan boneka tupai kecil.

Seperti...

Belum selesai, Chan mengingat tentang tas gitar yang mengganggu pikirannya tersebut. Suara deringan ponsel yang ternyata merupakan panggilan dari Changbin telah berhasil membuyarkan semua pikirannya.

"YA! CEPATLAH KELUAR! JANGAN MEMBUATKU MENUNGGU!"

***

KETERANGAN:
*Slider merupakan alat yang dapat digerakkan ke atas dan ke bawah pada bagian ritsleting.

ANOTHER DAY (ON REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang