Sebagai seorang pengacara yang telah memiliki nama serta kepercayaan publik. Tentu saja membuat Chan menjadi seorang ayah yang sangat sibuk. Terlebih dua tahun belakangan ini, tepatnya setelah meninggalnya Felix.
Awalnya Chan hanya berniat untuk mencari lebih banyak kesibukan agar ia tidak kembali larut dalam kesedihan. Sampai tanpa sadar Chan lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor.
Chan seakan memberi seratus persen perhatiannya pada pekerjaan. Hingga perlahan dia mengabaikan fakta bahwa saat ini dirinya masih seorang single father. Chan masih memiliki Jisung yang tentu saja membutuhkan kehadirannya.
Lalu tidak jauh berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pagi ini Chan kembali bersiap untuk pergi bekerja. Chan mengenakan setelah rapi berwana abu-abu lengkap dengan tas pengacara yang selalu setia menemaninya.
Setelah merasa dirinya siap, Chan langsung berjalan keluar kamar dan pergi menuju dapur untuk sarapan. Itu lah rutinitas yang selalu Chan lakukan.
Namun entah mendapatkan dorongan darimana, di tengah jalan menuju dapur langkah Chan justru berbelok menuju ke arah kamar sang anak, Jisung. Seorang anak laki-laki yang dua tahun lalu telah berubah status menjadi anak semata wayangnya.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Ketika sudah berada di depan kamar sang anak, Chan tidak langsung mengetuk. Dia hanya diam menatap pintu kayu yang telah dicat dengan warna putih itu. Entah kenapa Chan merasa dinding pemisah antar ruangan ini terasa begitu dingin.
Jika Chan pikirkan lagi dia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali dia pergi mengunjungi kamar sang anak seperti saat ini. Satu tahun yang lalu? Sepertinya juga tidak.
Setelah cukup lama hanya berdiam diri, Chan kemudian akhirnya dengan canggung mengetuk pintu kayu tersebut. “Ji?” panggilnya kemudian.
Hening, tidak ada jawaban apapun dari dalam kamar. Mungkin karena suara Chan tadi terdengar terlalu pelan. Setelah itu Chan pun terdengar berdehem beberapa kali.
Entah kenapa Chan merasa canggung dan Chan tahu seharusnya tidak boleh merasa seperti itu. Jisung adalah anak kandungnya. Bagaimana bisa seorang ayah merasa canggung saat memanggil nama anaknya sendiri?
Meskipun Chan sendiri juga tidak ingat kapan terakhir kali dia meneriakkan nama Jisung guna membangunkan sang anak agar tidak terlambat ke sekolah atau setidaknya mengajak putranya itu untuk sarapan bersama.
Semakin lama Chan berdiam diri di depan pintu kamar sang anak entah kenapa perasaan tidak enak, gelisah yang sudah tiga hari belakangan ini menyelimutinya kian terasa meningkat.
Mungkin hanya perasaan Chan saja tapi dia juga merasa, suasana rumah belakangan ini terasa agak berbeda. Biasanya memang sepi, baik Chan maupun Jisung memiliki rutinitas harian mereka masing-masing. Chan dengan pekerjaannya dan Jisung dengan sekolahnya. Namun kali ini rumah bukan hanya terasa sepi tapi juga kosong, seperti ada sesuatu yang hilang.
“Jisung?” panggil Chan sekali lagi dengan suara yang lebih keras.
Sepertinya sudah berangkat, batin Chan akhirnya mengambil kesimpulan sendiri sebab masih tidak ada sahutan apapun dari dalam kamar.
Chan bisa berpikir seperti itu karena memang bukan kali pertama Jisung berangkat sekolah lebih dulu tanpa memberitahunya. Mungkin sudah tapi Chan tidak dengar.
Lagipula Jisung juga memiliki ponsel. Anak itu bisa menghubungi Chan kapan saja atau memberinya kabar melalui pesan teks. Chan juga tahu Jisung bukan lah anak yang manja. Anaknya itu tumbuh menjadi anak mandiri karena sejak kecil Jisung selalu bisa menemukan jalannya pulang tanpa perlu dituntun.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Pukul 10.00 AM
Terik matahari belum sampai pada titik tertingginya tapi penambilan bapak pengacara yang sebelumnya rapi, penuh wibawa kini nampak kusut, berantakan. Sebelumnya, saat baru saja tiba di kantor Chan tiba-tiba mendapat panggilan dari wali kelas Jisung yang memintanya meluangkan waktu untuk bertemu.
Langkah kaki yang sebelumnya ringan, penuh percaya diri masuk ke dalam ruang guru kini terasa begitu berat saat meninggalkan ruangan tersebut. Chan merasa campur aduk, bingung, gelisah, dan tidak percaya.
Chan pikir sang wali kelas memanggilnya akibat ulah nakal sang anak atau tentang nilai Jisung yang jauh dari kata baik. Dua hal yang selalu menjadi alasan Chan dipanggil ke sekolah.
Namun kali ini berbeda— Jisung sudah tiga hari ini tidak masuk sekolah tanpa keterangan Pak. Jisung juga tidak menghadiri semua kelas tambahan.
Sebuah kalimat yang sama sekali tidak pernah terbesit dalam pikir Chan. Bagaimana bisa selama tiga hari ini putranya itu tidak masuk sekolah?
Chan tahu betul Jisung memang tidak pandai dalam bidang akademik tapi Jisung tidak pernah bolos. Ini tidak masuk akal. Bukankah Jisung selalu pulang ke rumah dan berangkat ke sekolah setiap hari?
Di dalam mobil Chan menarik napas dalam dan menghembuskannya pelan. Chan mencoba untuk menenangkan diri. Mungkin putranya itu memang sedang rebel seperti anak seusianya. Tentu saja, pasti seperti itu.
Chan menepis semua rasa gelisah yang tiba-tiba datang menyelimuti perasaannya. Kemudian sambil terus berupaya berpikir positif Chan mencoba menghubungi nomor sang anak.
Namun belum juga jari jempolnya menekan pilihan ikon memanggil, Chan sudah lebih dulu dibuat membatu. Semua pikiran positif yang sebelumnya coba ia bangun seketika lenyap begitu saja saat melihat riwayat panggilan yang terlihat pada layar ponsel tersebut.
Ada lebih dari lima belas panggilan tak terjawab dari nomor Jisung, tepat tiga hari yang lalu.
###
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER DAY (ON REVISI)
RandomKetika hari esok tak lagi terasa sama. Barulah Chan sadar bahwa, there is always that ONE MISTAKE that changes EVERYTHING. HAN JISUNG x 3RACHA x STRAY KIDS
