10

1.5K 277 90
                                        

Andai Jisung dapat melihat kondisi Chan saat ini. Mungkin di satu sisi dia akan merasa senang dan lukanya dapat sedikit terobati karena akhirnya, sang ayah mulai menyadari kebaradaannya dan selalu memikirkannya.

Saat ini bahkan Chan juga mengabaikan pekerjaannya sebagai seorang pengacara. Dia benar-benar mengerahkan seluruh energi, upaya dan koneksinya untuk mencari Jisung. Pekerjaan bukan lagi prioritas utamanya. Namun tetap saja di sisi lain, Jisung akan merasa terluka karena melihat kondisi Chan yang juga jauh dari kata baik.

Kenapa Jisung harus menghilang dulu baru sang ayah memperhatikannya, mengingatnya dan menyadari keberadaannya. Apakah setidak berarti itu, kehadiran Jisung untuk sang ayah?

Dan andai saja Jisung dapat melihat apa yang dilakukan oleh Chan saat ini, mungkin ia akan tersenyum senang tapi sengaja memasang raut wajah sekaan tidak peduli karena akhirnya, sang ayah memutar kenop pintu kamarnya.

Menginjakkan kakinya itu di kamar Jisung bukan di kamar sebelah. Kamar milik saudara kembarnya, Felix.

Dulu meskipun penghuni kamar tersebut sudah tiada. Felix sudah meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Kebiasaan sang ayah mengunjungi kamar tersebut sama sekali tidak berubah. Dibanding mengunjungi kamar Jisung yang masih memiliki aktifitas kehidupan, Chan justru memilih kamar kosong tersebut.

Ah.. Bahkan setelah Felix tiada. Perhatian ayah tidak berubah sedikitpun. Tetap untuk Felix.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Terhitung sudah lima hari kamar dengan dominasi warna abu-abu itu ditinggal oleh sang pemilik. Berbeda dengan kamar milik Felix yang semuanya tertata dengan rapi. Akibat dulu semasa hidupnya Felix memang sangat memprioritaskan kebersihan dan kerapihan kamarnya. Sehingga saat ia telah tiada pun Chan tidak pernah lupa untuk selalu memastikan kamar milik Felix tetap bersih dan rapi.

Kamar milik Jisung justru sebaliknya. terlihat lebih seperti bagaimana kamar remaja anak laki-laki kebanyakan. Selimut yang dibiarkan begitu saja tanpa dilipat, meja belajar yang dipenuhi oleh buku-buku dan kertas yang berserakan, serta gorden jendela yang tetap tertutup rapat sepanjang hari.

Chan tidak pernah bisa mengerti dengan kebiasaan anak laki-lakinya yang satu itu. Jisung bukan anak laki-laki pemalas dan dia bukan tidak bisa bersih-bersih. Hanya saja, Jisung punya caranya sendiri untuk menandai wilayah kekuasaannya.

Chan ingat betul bagaimana Jisung menegaskan kepada mereka semua agar mereka tidak pernah menyentuh barang-barang yang ada di kamarnya. Meskipun itu dengan niat untuk membantu Jisung membersihkan kamarnya.

Tidak perlu.

Jisung bisa dan akan membersihkan kamarnya sendiri tanpa bantuan siapaun. Baik itu sang ayah, saudara kembarnya, maupun pembantu harian yang selalu datang ke rumah untuk bersih-bersih.

"Ah.. Kamu harus segera pulang agar bisa memarahi ayahmu yang buruk ini," lirih Chan menyentuh tumpukan buku pelajaran yang ada di atas meja belajar sang anak.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Jika Felix adalah tipe anak yang selalu membuka gorden jendela di pagi hari. Maka sangat berbeda dengan saudara kembarnya, Jisung. Jisung lebih memilih untuk membiarkan gorden jendela kamarnya itu tetap tertutup. Seakan-akan tidak mengizinkan mentari pagi menghangatkan suasana kamarnya.

Perdebatan antara harus membuka gorden dengan tetap membiarkan gorden itu tertutup selalu menjadi perdebatan kecil di antara mereka yang membuat Chan sakit kepala. Namun siapa sangka, kini mengingat kembali perdebatan itu justru rasanya begitu pilu.

Chan menarik napas panjang lalu menghembuskannya secara perlahan. Tangannya nampak terulur, membuka gorden jendela kamar sang anak agar semburat sinar matahari pagi masuk dan memenuhi kamar tersebut dengan kehangatannya.

Sebuah senyuman pun langsung terukir pada wajah Chan saat membuka gorden jendela itu. Chan lalu terlihat menggelengkan kepala kala melihat bagaimana kreativitasnya Jisung. Jendela kaca yang semula jernih kini telah tertutup kertas karton berwarna hitam.

Ingatan Chan pun kembali pada saat dimana Jisung merasa kesal dengan sikap Felix yang selalu masuk ke kamarnya saat dia masih terlelap. Felix akan dengan sengaja membuka gorden jendela. Membiarkan kamar yang semula gelap menjadi cerah bersilau hinggga mengganggu Jisung yang masih lelap di alam mimpi. 

Ah.. Jisung sangat benci matahari pagi yang mengganggu tidurnya.

###

ANOTHER DAY (ON REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang