3

1.9K 304 146
                                        

Tidak seperti malam-malam sebelumnya. Malam ini suasana kantor kepolisian tepatnya bagian unit yang menangani kasus kriminal terlihat sangat rusuh dan berantakan. Mereka baru saja mendapat kabar bahwa telah ditemukan sebuah mayat.

Menurut dugaan sementara, mayat tersebut diduga sebagai korban dari kasus pembunuhan berantai yang sampai saat ini kasusnya belum mampu mereka selesaikan. Dan jika memang benar mayat tersebut adalah korban pembunuhan berantai seperti yang mereka duga, maka ini adalah korban ke delapan.

Lalu seakan tidak cukup dibuat sibuk dengan kabar penemuan mayat tersebut. Detektif Changbin juga secara tiba-tiba tidak ada di tempat. Kemanapun para anggota mencari, Changbin tetap tidak ditemukan dan juga tidak bisa dihubungi.

"Sial! Bagaimana bisa detektif penting sepertinya pergi begitu saja tanpa izin terlebih dulu kepada komandan Tim." keluh Woonpil selaku anggota tim Satuan Reserse Kriminal. "Ah.. Benar-benar bikin susah saja."

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Satu-satunya alasan yang mampu membuat Changbin terburu-terburu pergi keluar, meninggalkan pekerjaannya tanpa izin adalah karena informasi dari Jeongin. Pemuda kelahiran Februari tersebut merupakan sahabat sekaligus rekan kerja Changbin di unit Orang Hilang.

Jeongin mengatakan bahwa tadi siang pengacara Chan telah membuat laporan tentang anaknya yang menghilang.

Secara personal Jeongin memang tidak mengenal Chan. Dia hanya tahu bahwa Chan merupakan seorang pengacara ternama. Satu-satunya alasan Jeongin menceritakan laporan tersebut pada sang sahabat adalah karena Chan adalah kakak dari Changbin.

Tadi siang, sebelum akhirnya pergi ke kantor polisi dan membuat laporan orang hilang, Chan sempat menghubungi Changbin. Chan bertanya apakah adiknya itu tahu Jisung dimana atau sang anak pernah menghubungi pamannya tersebut.

Sebab Chan tahu baik Jisung maupun Felix senang mengganggu Changbin yang sampai saat ini masih tinggal seorang diri alias belum memiliki kekasih. Jadi mungkin saja tiga hari belakangan ini sang anak menginap di tempat pamannya.

Namun bukan jawaban yang Chan terima Changbin justru balik bertanya. Pertanyaan yang juga sedang menyelimuti pikiran Chan. Jisung kemana? Belakangan ini kok gak kelihatan? Pesan gak dibalas, telfon gak nyambung, sulit dihubungi.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Setelah mendapatkan informasi dari Jeongin, Changbin langsung menuju ke kediaman sang kakak. Mengabaikan puluhan panggilan masuk yang terus ia terima. Katakan saja Changbin tidak profesional tapi saat ini ada anggota keluarganya yang harus ia khawatirkan.

Kemudian ketika sampai di rumah pengacara Chan alias sang kakak, Changbin langsung berjalan masuk menuju ruang tengah. Di sana Changbin dapat melihat Chan duduk seorang diri dengan perhatian yang terpaku pada ponsel di atas meja.

Chan menunggu dan terus berharap. Berharap, Jisung akan kembali menghubunginya. Menunggu, informasi terbaru dari pihak kepolisian. Kedua tangan yang sebelumnya jarang sekali disatukan untuk berserah kepada Tuhan, kini juga terlihat saling bertaut.

"Kak," lirih Changbin pelan. Awalnya Changbin mau langsung mencerca kakaknya itu. Bagaimana semua ini bisa terjadi? Jisung adalah anaknya dan mereka tinggal di atap yang sama. Bagaimana bisa tiga hari tanpa kabar dan sang kakak baru sadar hari ini?

Namun melihat penampilan Chan yang jauh dari kata baik-baik saja. Baju kemeja yang nampak kusut selaras dengan rambut yang berantakan membuat Changbin mengurungkan niatnya itu.

Biasanya Changbin akan selalu dihadapkan dengan sosok Chan yang mengenakan setelan rapi khas seorang pengacara terkemuka. Lengkap dengan aura tegas dan wibawanya namun kali ini Changbin tidak dapat melihat semua pesona itu pada pria yang lebih tua. Dia hanya bisa melihat sang kakak yang nampak frustasi, penuh akan penyesalan.

"Jisung pasti akan pulang, kan?" gumam Chan saat sang adik sudah duduk tepat di sampingnya.

Changbin tidak langsung memberikan jawaban. Dia terdengar menghela napas sebelum akhirnya berkata. "Jisung pasti pulang. Pihak kepolisian pasti bakal menemukan Jisung," jelas Changbin yang sebenarnya juga tidak yakin seratus persen.

Changbin kemudian mengelus pelan pundak sang kakak. Dalam hati Changbin pun juga diliputi oleh rasa bersalah. Seharusnya dulu dia terus memaksa Chan agar mendengarkan ucapannya.

Seharusnya Changbin terus mengingatkan Chan agar lebih adil memberikan perhatiannya baik kepada Felix maupun Jisung. Seharusnya Changbin terus meminta sang kakak untuk tidak menghabiskan waktunya hanya untuk bekerja. Seharusnya Changbin tidak pernah berhenti memohon agar Chan lebih memperhatikan Jisung.

Sebab jika sudah seperti ini yang tersisa hanyalah penyesalan. Sudah sangat terlambat untuk memperbaiki semuanya. Akan sangat bagus jika mereka benar-benar dapat menemukan Jisung namun bagaimana jika tidak?

###

ANOTHER DAY (ON REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang