Jeongin baru saja selesai mewawancarai teman-teman satu kelas Jisung, beberapa guru, serta karyawan sekolah. Dia terlihat berjalan pelan keluar dari area sekolah, tempat dimana Jisung menimba ilmu formal.
Setelah sebelumnya hanya memiliki informasi dari riwayat panggilan Jisung terakhir kali, kini dia memiliki sedikit informasi tambahan. Meskipun Jeongin sendiri juga masih ragu apakah informasi ini benar-benar dapat membantu mereka menemukan keberadaan Jisung atau justru tidak berguna sama sekali. Sebab bisa dia katakan, jejak Jisung terlalu bersih.
Pertama, mereka tidak memiliki ponsel, kartu bis, kartu tanda pengenal, maupun sekedar buku catatan atau buku harian milik Jisung. Semua benda-benda penting tersebut ada pada Jisung. Artinya semua itu juga ikut menghilang bersama dengan si pemilik.
Kedua, kepribadian Jisung di sekolah tidak jauh berbeda dengan para pelajar seperti pada umumnya. Jisung tidak mengalami penindasan di sekolah bahkan ia tergolong siswa yang cukup aktif dan memiliki banyak teman.
Sungguh semua ini diluar dugaan Jeongin. Bukan berarti dia berharap Jisung mengalami penindasan di sekolah, hanya saja jika kasusnya seperti ini, dugaan bahwa Jisung menghilang karena kabur dari rumah pasti menjadi lebih kuat.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
"Jisung? Ah.. gak mungkin dia punya musuh. Walaupun dia gak sepintar anak-anak kelas unggulan tapi dia jauh lebih baik daripada mereka," jelas Yoonbin salah satu temen kelas Jisung saat menjawab pertanyaan Jeongin tentang bagaimana sifat Jisung selama di sekolah.
"Dia mah solidaritas. Kalau gak ada Jisung gak mungkin sebagian dari kami bisa lulus ujian," tambahnya terdengar santai.
"Kalau tentang saudara? Kurang tau sih. Dia gak pernah bahas keluarga. Bukannya dia anak tunggal, ya? Orang tuanya sibuk kerja di luar negeri deh," jelas Yoonbin kali ini menjawab pertanyaan Jeongin tentang latar belakang keluarga Jisung yang anak laki-laki itu ketahui.
Saat ini Yoonbin adalah siswa terakhir yang harus Jeongin wawancarai. Jeongin berharap keterangan dari Yoonbin bisa menjadi informasi penting yang dapat dia jadikan petunjuk untuk penyelidikan selanjutnya.
"Lalu belakangan ini apa kamu pernah melihat Jisung tidak seperti biasanya? Mungkin ada hal aneh atau mencurigakan?" ujar Jeongin kembali melontarkan sebuah pertanyaan.
"Hal aneh?" ulang Yoonbin memastikan dan Jeongin pun terlihat menganggukan kepala. "Kayaknya gak ada. Walaupun kadang dia suka cari masalah sama guru tapi kayaknya gak separah itu." Yoonbin kembali mengingat-ingat bagaimana kelakuan teman satu kelasnya itu.
"Atau apa mungkin guru-guru itu yang menculik Jisung?" tebak Yoonbin tiba-tiba.
"Ya!" tegur Jeongin langsung memukul kepala Yoonbin. Yoonbin nampak mengaduh kesakitan tapi kemudian tersenyum meringis.
"Emang masalah seperti apa yang kamu maksud?" Meskipun tidak setuju dengan ucapan Yoonbin sebelumnya tapi tetap saja Jeongin penasaran.
"Iya seperti tidur dikelas atau bolos pembelajaran. Bukannya itu sama saja dengan cari masalah dengan guru, ya?"
Mendengar jawaban Yoonbin seketika membuat Jeongin menyesal karena sudah merasa penasaran. Jika semua teman kelas Jisung sejenis Yoonbin maka sudah dipastikan ia akan menua jauh lebih cepat.
"Tapi apa emang benar Jisung menghilang?" tanya Yoonbin memberanikan diri untuk bertanya.
"Kenapa? Kamu khawatir karena gak akan dapat contekan lagi?" canda Jeongin sengaja meledek anak laki-laki tersebut.
"Iya itu salah satunya," jawab Yoonbin cepat tanpa perlu berpikir dua kali. "Tapi bukan cuma itu," lanjutnya sebelum Jeongin kembali memberikannya sebuah teguran dengan pukulan di kepala.
"Cuma kelas kami jadi terasa lebih sepi. Jisung bakal baik-baik saja, kan?"
Jeongin tidak langsung memberikan jawaban. Ini bukan kali pertama, belakangan ini Jeongin terlampau sering mendapatkan pertanyaan serupa.
Apa Jisung baik-baik saja?
Lalu sama seperti mereka, Jeongin pun bertanya. Dia juga berharap Jisung benar-benar baik-baik saja. Bukan hanya sebatas kalimat formalitas yang selalu dia ucapkan untuk menenangkan hati mereka.
"Kami butuh keterangan dari kalian untuk bisa memastikan Jisung baik-baik saja," terang Jeongin akhirnya memberi jawaban tidak pasti.
.
.
.
.
.
***
.
.
.
.
.
Jeongin pikir sudah tidak ada lagi yang perlu dia tanyakan pada Yoonbin. Maka dia mempersilahkan anak laki-laki tersebut untuk meninggalkan ruangan. Yoonbin pun kemudian beranjak bangun dari posisi duduknya lalu setelah itu berjalan menuju pintu.
Yoonbin mengulurkan tangannya pada kenop pintu. Dia hanya perlu memutar kenop pintu tersebut dan kemudian berjalan keluar dari ruangan. Namun bukannya keluar Yoonbin justru kembali berbalik badan, kembali menghadap kepada petugas kepolisian.
"Hyunjin," kata Yoonbin tiba-tiba menyebutkan sebuah nama. "Mungkin paman bisa menemukan keterangan yang lebih membantu dari dia."
"Hyunjin?" ulang Jeongin dengan kening yang terlihat sedikit berkerut. Yoonbin langsung menganggukkan kepala.
"Paman gak akan nemuin namanya di absen kelas kami. Kita beda kelas. Dia anak kelas unggulan," jelas Yoonbin ketika melihat Jeongin kembali membaca absensi kelas mereka satu per satu.
"Dari yang aku tahu, katanya mereka temanan sejak SMP. Bahkan setelah semester kemarin Hyunjin pindah jadi anak kelas unggulan, mereka tetap berteman baik," jelas Yoonbin menceritakan apa yang dia ketahui tentang hubungan Hyunjin dan Jisung.
"Tapi kayaknya beberapa bulan belakangan ini, hubungan mereka gak sebaik itu." Yoonbin tiba-tiba teringat bagaimana dua orang yang awalnya saling bertegur sapa itu tiba-tiba bersikap layaknya orang yang tidak saling mengenal satu sama lain. "Cuma gak tahu juga sih. Anak kelas unggulan kan emang sulit dimengerti."
###
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER DAY (ON REVISI)
AcakKetika hari esok tak lagi terasa sama. Barulah Chan sadar bahwa, there is always that ONE MISTAKE that changes EVERYTHING. HAN JISUNG x 3RACHA x STRAY KIDS
