8

1.5K 268 84
                                        

Waktu menunjukkan pukul dua puluh tiga lewat empat puluh lima menit. Ini artinya sudah lebih dari sepuluh menit, Changbin hanya duduk diam di dalam mobil sedan miliknya itu. Perhatian Changbin tertuju pada sebuah halte yang terletak tidak terlalu jauh dari perpustakaan kota.

Sesuai dengan informasi yang Changbin dapatkan dari Jeongin. Mereka telah memeriksa CCTV* di semua tempat yang selalu dikunjungi oleh Jisung. Berdasarkan rekaman jejak CCTV, di halte bus itu lah Jisung terakhir kali terlihat sebelum akhirnya menghilang tanpa jejak.

Changbin pun kembali teringat akan penjelasan Jeongin tadi siang. Changbin rasa saat ini, opsi Jisung kabur dari rumah terdengar sedikit lebih baik dibanding menghilang tanpa jejak. Setidaknya jika benar sang keponakan kabur, mereka masih punya harapan bahwa belakangan ini Jisung menginap di rumah teman-temannya.

Meskipun tidak tahu teman itu siapa tapi dengan seperti itu Changbin dapat merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya dia tahu bahwa Jisung punya tempat untuk berteduh dan dia bisa makan dengan nyaman.

Berulang kali Changbin berusaha untuk tetap berpikir positif seperti itu tapi akhirnya tetap saja, sebagai seorang detektif yang tahu betul tentang masalah yang sedang terjadi di kota, hal itu tidaklah mudah.

Changbin juga dibuat semakin khawatir karena pelaku kasus pembunuhan berantai masih berkeliaran di luar sana dan tidak menutup kemungkinan berada di sekitar mereka. Lalu Changbin juga tahu bahwa kedelapan korban yang ditemukan, semuanya adalah anak laki-laki.

"Sial! Harusnya malam itu aku jemput dia. Sial! Harusnya aku gak mengabaikan ucapan Jisung," sesal Changbin sambil beberapa kali memukul setir pengemudi mobil.

"Bisa-bisanya aku langsung percaya kalau dia baik-baik saja. Kok bisa aku sebagai pamannya, ngebiarin dia pulang sendiri, malam-malam, dan ditengah hujat lebat seperti itu. Bodoh!" ucap Changbin merutuki dirinya sendiri.

"Bodoh! Sangat bodoh!" cacinya lagi sambil berulang kali membenturkan kepalanya pada setir kemudi mobil. Changbin sama sekali tidak peduli jika tindakannya itu akan menyakiti kepalanya.

Setelah itu, Changbin menyembunyikan wajahnya pada lipatan tangan yang ia silangkan di atas setir kemudi mobil. Meskipun Changbin sadar bahwa penyesalan dan air mata tidak akan mengubah apapun tapi tetap saja, ia tidak bisa berhenti untuk tidak menyesal dan akhirnya membiarkan bulir-bulir air mata itu mengalir keluar.

Gak usah jemput. Aku bukan anak bayi yang perlu paman khawatirkan. Aku baik-baik saja. Serius. Lagian ini juga bukan kali pertama aku pulang sendiri. Jadi gak apa-apa, aku bisa pulang sendiri.

Changbin ingat betul isi percakapan mereka sore hari itu. Memang terkadang jika di kantor sedang senggang atau Changbin sedang tidak punya banyak pekerjaan, dia senang menghabiskan waktu dengan mengantar-jemput sang keponakan.

Namun pada hari itu Changbin tidak senggang, hanya saja dia punya perasaan tidak enak. Andai Changbin bisa memutar kembali waktu, dia pasti akan tetap menjemput sang keponakan meskipun Jisung berulang kali berkata tidak perlu. Seharusnya hari itu Changbin mengikuti kata hatinya.

"Sial!" rutuk Changbin untuk yang kesekian kalinya.

###

Keterangan:
*CCTV (Closed Circuit Television) adalah sistem pengawasan berbasis video (Video Surveilance) dengan menggunakan kamera.

ANOTHER DAY (ON REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang