.
.
.
.
.
Kecewa. Changbin tidak bisa bohong bahwa ia kecewa mendengar ucapan Jeongin tersebut, bahkan Changbin dengan jelas menunjukkan raut wajah kecewanya itu.
Sudah lebih dari dua belas jam sejak mereka melaporkan hilangnya Jisung. Bagaimana bisa mereka belum menemukan petunjuk apapun? Ini kah cara kerja para polisi di negara ini? Lambat dan tidak bisa diandalkan.
"Keponakanmu itu maksudnya Jisung," kata Jeongin memecah keheningan. Changbin pun langsung kembali memberikan atensinya pada sang lawan bicara saat mendengar nama sang keponakan disebut.
"GPS* di HP-nya gak aktif jadi kami kesulitan melacak posisi terakhirnya sebelum dia benar-benar tidak bisa dihubungi," jelas Jeongin menjelaskan situasi yang sedang timnya alami sehingga membuat mereka tidak dapat menemukan petunjuk apapun.
Meskipun dia dan Jisung tidak memiliki ikatan saudara tapi anak laki-laki itu adalah keponakan sang sahabat. Jeongin juga pernah bertemu dengan Jisung dan menurutnya Jisung adalah anak yang menyenangkan. Maka tanpa perlu Changbin minta Jeongin pasti akan bantu mencari semaksimal mungkin. Namun faktanya di lapangan tidak semudah itu.
"Dari data yang kami dapat, kemungkin Jisung mulai me-nonaktifkan GPS-nya sekitar empat bulan yang lalu," kata Jeongin membeberkan informasi terbaru yang unit mereka miliki. "Tapi itu gak bisa menyimpulkan apapun, so.. sorry," sesal Jeongin kemudian.
Meskipun akhirnya sama saja, tidak ada hasil positif tapi sebagai sesama anggota kepolisian, Changbin dapat mengerti situasi mereka. Pria kelahiran bulan Agustus itu pun hanya menganggukkan kepala.
Setelah itu, keduanya tanpa sadar saling menghela napas. Mereka tenggelam dalam pikiran mereka masing-masing. Jeongin berpikir, andai saja Jisung bukanlah keponakan Changbin, temannya sendiri. Bukan juga anak dari seorang pengacara ternama. Mungkin Jeongin akan lebih santai untuk membahas isi pikirannya sendiri.
Saat ini bukti konkrit yang mereka miliki memang masih sedikit. Namun dari apa yang mereka miliki, Jeongin sedikit banyak mulai bertanya-tanya tentang kehidupan personal Jisung. Lalu tidak menutup kemungkinan jika pertanyaan itu mungkin terdengar sensitif atau menghakimi.
Memang hanya pertanyaan tapi yang jadi masalah adalah ayah Jisung seorang pengacara. Bagaimana jika Jeongin salah bicara dan akhirnya ia malah dituntut atas tuduhan pencemaran nama baik?
Setelah cukup lama berpikir dan menimbang-nimbang, Jeongin pun akhirnya memberanikan diri untuk menyuarakan isi pikirannya pada sang sahabat. Bukankah sebaiknya dia langsung saja bertanya daripada hanya menduga-duga tanpa jawaban akhir yang jelas?
"Tapi pengacara Chan sama Jisung, baik-baik aja, kan?" tanya Jeongin terdengar ragu. Kening Changbin pun nampak saling bertaut, menunjukkan raut wajah tidak mengerti.
"Iya, maksudnya hubungan ayah sama anak itu baik-baik aja, kan?" ulang Jeongin kembali bertanya. "Belakangan ini mereka ada berantem atau gak? Atau mungkin komunikasinya lagi gak begitu baik?" jelas Jeongin begitu berhati-hati.
Ulang Jeongin lagi karena masih belum mendapatkan reaksi apapun dari Changbin. Yang hanya menatapnya dengan tatapan tidak mengerti.
"Emangnya kenapa? Kalian menemukan sesuatu, ya?" jawab Changbin balik bertanya, curiga.
Jeongin tidak menjawab pertanyaan sang sahabat dia justru mengambil buku catatan miliknya lalu memberikan Changbin beberapa lembar kertas dari dalam buku tersebut.
Daftar riwayat panggilan Jisung empat bulan terakhir
"Itu terdaftar berdasarkan urutan siapa yang lebih sering Jisung hubungi empat bulan terakhir ini," kata Jeongin menjelaskan isi dari lembaran kertas yang saat ini ada di tangan Changbin.
"Terus kamu bisa lihat sendiri, di situ tertulis pengacara Chan ada di posisi pertama. Jisung selalu menghubungi ayahnya." Jeongin sengaja menekan posisi baris paling atas. Di sana tertulis nomor kontak yang Jisung simpan dengan nama Ayah beserta emotikon bentuk hati.
"Emang gak ada yang salah dari seorang anak menghubungi ayahnya sendiri. Wajar. Tapi yang jadi pertanyaan, Pengacara Chan alias kontak yang bertuliskan Ayah ini gak pernah menghubungi Jisung lebih dulu dan lebih sering mengabaikan panggilannya," lanjut Jeongin menjelaskan dengan begitu hati-hati.
Changbin sendiri terlihat diam seribu bahasa. Perhatiannya benar-benar terfokus pada lembaran kertas yang tadi Jeongin berikan. Bohong jika Changbin mengatakan bahwa dia tidak menyadari apa yang terjadi antara Chan dengan sang keponakan.
Terkadang Changbin memang merasa bahwa sang kakak tidak bisa membagi waktu serta kasih sayang yang sama rata untuk kedua putranya. Namun entah kenapa, setiap melihat Jisung muncul dihadapannya dengan ekspresi ceria lengkap dengan tingkah jenakanya selalu berhasil membuat Changbin menepis semua dugaan negatif itu. Lalu akhirnya, membuat Changbin selalu berpikir bahwa semuanya baik-baik saja.
"Ini emang masih dugaan tapi kalau melihat daftar riwayat ini, polisi pasti akan berpikir Jisung hanya kabur dari rumah," ujar Jeongin menjelaskan kenapa dia masih menyembunyikan kertas tersebut.
"Dari pengalaman serupa, aku bisa bilang lebih banyak kasus anak kabur daripada anak menghilang. Apalagi kalau mereka ada konflik dengan keluarga. Teman bisa jadi lebih penting." Jeongin berkata jujur sesuai dengan pengalaman dan juga data yang mereka miliki saat ini.
###
Keterangan :
*Gps (Global Positioning System) adalah sistem untuk menentukan posisi di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan sinyal satelit.
KAMU SEDANG MEMBACA
ANOTHER DAY (ON REVISI)
DiversosKetika hari esok tak lagi terasa sama. Barulah Chan sadar bahwa, there is always that ONE MISTAKE that changes EVERYTHING. HAN JISUNG x 3RACHA x STRAY KIDS
