4

1.8K 291 119
                                        

Melihat dari bagaimana keadaan Chan saat ini maka Changbin putuskan untuk bermalam di kediaman sang kakak. Changbin sepenuhnya mengabaikan puluhan panggilan masuk dari Komandan Tim maupun anggota satu timnya di Satuan Reserse Kriminal.

Meskipun Changbin merasa kecewa dan sulit untuk tidak menyalahkan Chan atas hilangnya Jisung, namun pria itu adalah satu-satunya keluarga yang Changbin miliki. Kedua orang tua mereka sudah tiada akibat kecelakan lalu lintas bertahun-tahun yang lalu.

Oleh karena itu sekecewa apapun Changbin atas sikap sang kakak, dia tidak akan pernah bisa melihat Chan yang kembali terpuruk untuk yang kesekian kalinya. Changbin tidak akan pernah tega membiarkan sang kakak melewati semua masalah ini seorang diri.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Setelah menghabiskan malam dengan menenangkan Chan dan juga memaksa pria itu untuk beristirahat. Pagi ini pun juga Changbin lalui dengan memaksa Chan agar duduk bersamanya di ruang makan. Changbin telah menyiapkan roti lapis serta kopi hangat sebagai menu sarapan mereka.

"Dimakan kak," ucap Changbin untuk yang kesekian kalinya. Sama seperti saat pertama kali mereka duduk di meja makan, roti lapis milik Chan nampak utuh tak tersentuh.

"Walaupun lagi gak nafsu makan, kakak tetap harus makan. Katanya mau nyari Jisung? Kalau gak ada tenaga gimana bisa nyarinya, kak?" jelas Changbin kembali mencoba membujuk Chan agar berkenan mengisi perutnya, setidaknya dengan satu atau dua gigit roti lapis. Tadi malam pria kelahiran bulan Oktober itu benar-benar terjaga dan hari ini pasti tidak akan mudah untuk dilewati.

Meskipun begitu Chan tetap tidak menyentuh rotinya tersebut. Dia hanya menatap jauh kedepan dengan mata yang memerah dan tatapan yang kosong. "Jisung bakal baik-baik aja kan ya, Bin? Tadi malem dia bisa tidur gak, ya? Kalau gak pulang dia makan apa, Bin?" lirih Chan.

Changbin terdiam, tidak tahu harus menjawab apa. Dia genggam tangan pria yang lebih tua darinya itu. Ingin rasanya Changbin menjawab pertanyaan Chan dengan jawaban positif. Jawaban yang memang ingin mereka dengar. Namun meskipun hanya sebatas kalimat penenang, Changbin tidak bisa melakukannya.

Sudah lebih dari tiga hari Jisung menghilang. Ada banyak kemungkinan yang bisa saja terjadi dengannya di luar sana dan tidak dapat menutup kemungkinan kalau itu adalah kemungkinan negatif.

"Harusnya hari itu aku gak ngebentak dia. Harusnya hari itu aku ngerti kalau dia juga sakit. Harusnya hari itu aku jemput Jisung, Bin. Harusnya aku minta maaf. Harusnya.." kalimat Chan terhenti. Bulir-bulir air mata yang sebelumnya coba ia tahan kini mengalir deras membasahi kedua pipinya.

Chan kembali mengingat betapa perhatiannya sang anak. Jisung rela bangun lebih pagi hanya untuk menyiapkan sarapan untuk mereka, untuk dirinya. Namun bukannya mendapatkan apresiasi. Chan sebagai seorang ayah justru kembali melukai hati sang anak.

"Aku emang ayah yang buruk," aku Chan penuh sesal.

.

.

.

.

.

***

ANOTHER DAY (ON REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang