11

1.7K 250 49
                                        

"Hyunjin," batin Jeongin menyebut nama tersebut untuk yang kesekian kalinya, saat ja kembali membaca lembaran profil mengenai salah satu teman Jisung yang sebelumnya ia dengar dari Yoonbin.

"Hyunjin," ulang Jeongin sekali lagi. Pantas saja dia merasa tidak asing dengan nama tersebut. Hyunjin adalah anak Tuan Park, anak Kepala Kepolisian tempat dia bekerja.

"Ah.. Pantas saja mereka berteman dengan baik." Setelah mengetahui latar belakang keluarga Hyunjin barulah Jeongin mengerti. Tuan Park atasan tertingginya adalah ayah Hyunjin dan beliau berteman baik dengan Pengacara Chan, ayah Jisung dan juga mendiang Felix.

Berdasarkan informasi yang Jeongin dapatkan, Hyunjin adalah satu-satunya teman yang pernah Jisung bawa ke rumah. Satu-satunya teman yang Chan dan Changbin kenal dengan sangat baik. Hyunjin satu-satunya teman Jisung yang juga berteman dengan Felix.

.

.

.

.

.

***

.

.

.

.

.

Dua puluh tujuh menit telah berlalu sejak Hyunjin memutuskan untuk menutup buku paket miliknya yang penuh berisikan berbagai macam soal matematika. Berniat untuk menyudahi sesi belajarnya, Hyunjin beralih pada kasur yang sudah hampir sembilan belas jam tak ia sentuh.

Hyunjin berkali-kali mencoba memejamkan kedua matanya agar ia segera masuk ke dalam dunia mimpi tapi akhirnya dia tetap terjaga. Ditemani dengan suara dentingan jam tang telah menunjukkan pukul satu dini hari. Serta penerangan dari lampu tidur yang terletak di samping ranjang.

Perhatian Hyunjin tertuju pada langit-langit kamarnya yang nampak kosong. Hyunjin tidak bisa berhenti untuk tidak memikirkan percakapannya dengan petugas kepolisian Jeongin setelah ia pulang sekolah tadi siang.

Jisung menghilang.

Hyunjin menarik napas dalam-dalam lalu kemudian menghembuskan secara perlahan. Menjadi bagian dari anak kelas unggulan membuat kehidupan sekolah Hyunjin banyak berubah. Dia jadi tidak tahu berita-berita terkini dikalangan para siswa.

Ditambah dengan faktor sang ayah yang selalu menegaskan agar dia tetap fokus belajar untuk mempersiapkan diri mengikuti Olimpiade Matematika Internasional. Hari-hari Hyunjin hanya dipenuhi oleh belajar, belajar, belajar dan terus belajar setiap harinya.

Jangan pikirkan sesuatu yang gak penting. Ayah gak mau kamu gagal dalam olimpiade nanti, hanya karena pikiran tidak pentingmu itu.

Hyunjin ingat betul jawaban sang ayah saat dia memberanikan diri untuk bertanya kepada sang ayah mengenai kasus menghilangnya Jisung. Tentu saja apa yang mau dia harapkan dari sang ayah. Seorang Kepala kepolisian yang sangat menjaga citranya di hadapan publik.

Lalu untuk yang kesekian kalinya, Hyunjin kembali membuka chat room-nya dengan Jisung. Hari senin tanggal enam Juli adalah tanggal terakhir Jisung mengirimkannya sebuah pesan. Hari yang sama dengan hari menghilangnya Jisung.

Kemudian meskipun yakin dengan jawaban apa yang akan ia dapatkan jika menghubungi nomor Jisung saat ini. Entah kenapa tidak membuat Hyunjin berhenti. Dia tetap menekan tombol icon panggilan, mencoba untuk menghubungi temannya itu.

Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkaun. Cobalah beberapa saat lagi.

###

###

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
ANOTHER DAY (ON REVISI)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang