05| How sweet Yuno

9K 1.2K 136
                                        

Terima kasih sudah mampir. Selamat membaca yaaa!

"Nuansa Ganendra?" Nuansa begitu terkejut bahkan hampir saja menggebrak meja tatkala Pak Bambang, Dosen mata kuliah Pancasila memanggil namanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

"Nuansa Ganendra?" Nuansa begitu terkejut bahkan hampir saja menggebrak meja tatkala Pak Bambang, Dosen mata kuliah Pancasila memanggil namanya. "y—ya pak?" Nuansa begitu gugup, sedari tadi ia tidak fokus dengan materi yang beliau sampaikan selama di kelas ini.

"Dalam hubungannya dengan Pancasila, anda di minta untuk menjelaskan, filsafat Pancasila sebagai Genetivus Objetivus dan Genetivus Subjetivus serta landasan ontologis Pancasila." Nuansa mengerjap beberapa kali, kemudian melirik sekilas ke arah Kira yang tampak memberi kode untuknya. "Tolong, hadap ke depan," intrupsi lelaki tua itu.

Nuansa hanya terdiam kemudian berdecit pelan, "Maaf, saya kurang tau pak." Nuansa bisa menebak, bagaimana nasibnya selepas ini.

"Keluar dari kelas, saya anggap kamu tidak hadir hari ini." Wajah Nuansa memerah malu, lalu ia dengan segera mengambil tas dan beranjak keluar.

Nuansa duduk di bangku panjang koridor dan kembali terdiam. Perkataan Yuno tempo hari lalu benar-benar meresahkan, ia tidak fokus beberapa hari ini karena terus memikirkan maksud dari perkataan lelaki itu.

Seseorang mengambil tempat untuk duduk di sisi kanan, hingga mampu membuyarkan lamunan Nuansa, "lho, kamu keluar juga? karena gak bisa jawab pertanyaannya Pak Bambang juga?" tanya Nuansa pada Kira. Gadis itu hanya mengangguk kemudian menggeser duduknya berhadapan dengan Nuansa. Nuansa yakin, Kira pasti sengaja melakukan itu, karena ia tidak mau Nuansa sendirian di luar kelas. Entah itu baik atau bodoh.

"Sumpah ya, Sa. Kamu dari tadi tuh diem terus, kenapa?" Nuansa terdiam sejenak, kemudian membuka suara, "Ra, kalo ada orang yang bilang dia suka sama wajah bodoh kamu. Kamu bisa narik kesimpulan apa dari ucapan itu?" tanya Nuansa, Kira menopang dagu sembari mengerling bingung.

"Dia suka membodoh-bodohi kamu." Nuansa menganga, "karena dia suka lihat wajah bodoh kamu," jawab Kira. Nuansa sama sekali tak mendapat jawaban atas pertanyaannya.

"Ra, menurut kamu aku itu bodoh banget ya?" Kira menepuk bahu Nuansa.

"Ya ampun, Sasa. Kepintaran itu gak di nilai dari diterima atau enggaknya makalah kamu sama Bu Erwina atau bisa enggaknya kamu jawab pertanyaan dari Pak Bambang. Kamu itu pinter, serius...cuma gak bejo aja," ujar Kira, ia memelankan suaranya saat di kalimat akhir.

"Kira, aku mau nanya lagi, tapi tolong kali ini kasi jawaban pasti ya." Kira hanya mengangguk, "Kalo misalnya kita ngerasain deg-degan di deket seseorang dan pengen mandangin dia terus, itu kenapa?" Kira mengulas senyum.

"Artinya, kamu suka sama dia." Nuansa tertegun, itu bukan jawaban yang ia inginkan. "Tapi gak ada hal yang bikin aku suka sama dia, kenapa bisa?" Kira mengangkat bahunya kemudian tersenyum menggoda Nuansa, "jangan tanya sama aku, tapi tanya sama hati kamu. Ini kita lagi bahas Kak Dirga ya?" Nuansa sontak menggeleng.

Be a Daniswara'sCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang