07| Pretty bad day

9.2K 1.1K 117
                                        

"Mama, kenapa dari tadi malem Mama kelihatan salah tingkah terus?" tanya Jeno

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.


"Mama, kenapa dari tadi malem Mama kelihatan salah tingkah terus?" tanya Jeno. Nuansa gelagapan, kemudian dengan cepat meneguk minumanya sebelum bangkit beranjak dari ruang makan.

"Ma? gak pamit?" tegur Jeno saat Nuansa belum jauh melangkah, Nuansa hanya menghela napas kemudian kembali berbalik arah menuju meja makan, ia sedang berusaha menghindari Yuno sebab kejadian semalam. Tak habis pikir dengan dirinya yang terbuai dengan ciuman Yuno. Muka Nuansa kembali memerah mengingatnya.

"Mama berangkat ya," pamit Nuansa sembari mengacak pelan rambut Jeno, "semangat!" Nuansa mengulum senyum saat menatap mata Jeno yang juga tampak tersenyum menatap dirinya.

"S—saya berangkat, Mas," ucapnya pada Yuno. Ia melirik lelaki yang tengah santai mengesap kopi memberi respon anggukan, membuatnya langsung melangkah keluar rumah.

"Pa, Papa udah bilang Mama kalo Mommy bakal nginep disini? " Yuno hanya mengernyit menatap Jeno, "Ini kan rumah Papa,  kenapa Papa harus  bilang dia?" balas Yuno.

"Nanti kalo Mama salah paham gimana?" Yuno hanya mengulas senyum tipis sembari meletakkan secangkir kopi yang ia pegang diatas meja.

"Itu urusan Papa. Sana kamu berangkat, jam tiga sore jemput Mommy kamu di bandara sama Pak Yanto, okey?" Jeno hanya mengangguk, ia bangkit dari duduknya untuk memeluk Yuno.

"Tahun depan udah SMA, kenapa masih manja aja sama Papa?" Yuno mengelus punggung Jeno, "Makanya kasi Jeno adik biar Jeno gak manja lagi!" balas Jeno.

"Lagi diusahain. Doain ya."

"Beneran?!" Yuno mengangguk singkat sembari mengacak rambut Jeno, "sana berangkat, semangat ya!"

"Oke. bye, Pa!"











Nuansa hanya memiliki dua kelas hari ini. Tetapi sisa waktu setelah kuliah nanti akan ia habiskan untuk memasak tongseng ayam kesukaan Jeno di rumah temannya, Kira.

Semalam, Jeno sempat mengeluh bosan dengan makanan yang seringkali dihidangkan oleh pekerja rumah, maka dari itu, Nuansa berinsiatif membuat tonseng ayam yang Jeno inginkan dengan modal keberanian dan sogokkan untuk Kira, karena ia tidak terlalu mempunyai keahlian dalam memasak, ia meminta Kira untuk mengajarinya.

"Ayamnya di cuci dulu, Sa," tegur Kira.

"Ih gak mau, geli!" Kira berdecak kesal melihat tingkah manja dari Nuansa. Nuansa memang seperti itu, anak semata wayang yang jarang sekali menyentuh dapur, apalagi menyentuh ayam mentah, tentu itu pengalaman baru baginya.

"Yaudah, kamu potong sayur-sayuran nya aja," titah Kira, Nuansa hanya mengangguk kemudian menukar posisinya dengan Kira.

Untungnya, Nuansa masih mengerti bagaimana cara menggunakan pisau. Ia sebenarnya tidak sampai sebodoh itu, ia masih bisa memasak, tetapi tentu saja hasilnya akan gagal.

"Aw! ke iris, Kira!" serunya saat tak sengaja mengiris jarinya sendiri. Kira tak menggubris itu, karena ia tahu bahwa itu hanya reaksi berlebihan dari Nuansa.

Be a Daniswara'sCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang