12|... slightly bitter but sweet

9.9K 1.1K 125
                                        

Jikalau hari biasanya Jeno yang kerap menggangu Yuno di pagi hari, kini Warren adalah pelaku utamanya

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.

Jikalau hari biasanya Jeno yang kerap menggangu Yuno di pagi hari, kini Warren adalah pelaku utamanya. Nuansa tak begitu paham akan urusan Yuno, tetapi ia juga turut kesal tatkala Warren terus menerus mendesak Yuno untuk segera tiba.

Nuansa memasang telinga dengan jari-jarinya yang tetap gesit mengaitkan kancing kemeja Yuno, sesekali memperhatikan Yuno yang tampak kesal menghadapi Warren, "Shit!" Bersamaan dengan sambungan yang terputus, umpatan Yuno mengudara.

Nuansa tersenyum kecil seraya menyapu dada Yuno dengan lembut, hingga kemeja yang dikenakan lelaki itu kian padan di tubuhnya.

"Udah."

Yuno menepuk kepala Nuansa dengan pelan, "thanks," ucapnya, membuat senyum Nuansa kian mengembang saat mendengarnya.

"Sempet sarapan nggak, Mas?" tanya Nuansa, Yuno menilik arlojinya, ia menghela napas sebelum akhirnya menjawab Nuansa, "Ten minutes," balas Yuno dengan singkat.

Nuansa paham akan maksud lelaki itu, bahwasannya ia hanya punya waktu sepuluh menit untuk sarapan. Dengan begitu, ia lantas mengajak Yuno untuk segera bergegas sebab Jeno juga pasti sudah menunggu mereka.

Baru saja membuka pintu, kehadiran para pelayan yang tampak sudah lama menunggu itu menghadang Nuansa dan Yuno untuk terus melangkah. Keduanya lantas mengernyit, "Ada apa?" tanya Nuansa.

Bahkan sebelum para pelayan menjawab pertanyaan Nuansa, Yuno sudah tahu apa yang terjadi. Yuno, Jeno maupun Nuansa masing-masing memiliki pelayan khusus. Dan yang sedang menghadap mereka saat ini adalah pelayan khusus yang mengurus Jeno.

"Jeno sakit?" terka Yuno, pelayan itu pun mengangguk.

Perasaan cemas sontak di rasa Nuansa, ia melangkah cepat menuju kamar Jeno meninggalkan Yuno tanpa sepatah kata. Saat hendak menapak tangga, tangan dingin Yuno menyambangi pergelangan tangannya, seolah mengintrupsi langkahnya untuk berhenti.

Yuno menatapnya dengan tajam, "Hati-hati, kamu bisa jatuh," ucapnya, lalu menarik pelan tangan Nuansa dan bergerak memimpin langkah.

Jeno tidak terusik tatkala Yuno dan Nuansa memasuki kamarnya. Ada seorang pelayan disana, Yuno bertanya dengan jelas mengenai kondisi Jeno sebelum akhirnya memastikan secara langsung.

Jeno tampak sudah terawat dengan baik, anak lelaki itu sudah dikenakan plester kompres guna menurunkan suhu tubuhnya, suhu kamarnya pun cenderung hangat. Makanan dan juga obat sudah tersedia, namun menurut laporan dari para pelayan, Jeno belum mau menyentuh itu semua.

Nuansa duduk di tepi ranjang, tangannya membelai lembut rambut Jeno. Memperhatikan wajah anak lelaki itu yang tampak pucat membuat Nuansa pilu.

Be a Daniswara'sCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang