[18+] Menyandang klan Daniswara, tentu tak mudah. Pengawasan ajudan sang Ayah terhadap dirinya tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan pengawasan ketat yang ditugaskan oleh muasal Daniswara terhadap diri Nuansa.
Banyak tuntutan dan banyak sika...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Malam ini, Ayah dan Bunda tampak begitu semangat dan antusias, mengedarkan pandangan ke penjuru restoran. Namun, masih belum tampak sosok yang di tunggu-tunggu.
Keluarga Daniswara tentunya.
Malam ini diadakan pertemuan antara keluarga Daniswara dan keluarga Ganendra. Adanya pertemuan tentu saja karena adanya timbal balik persetujuan.
Nuansa sempat berpuluh kali menolak hingga mengancam akan bunuh diri dan juga tak henti mengulik alasan Ayah dan Bunda yang bersikeras menikahkannya dengan Yuno Madya Daniswara. Ia justru tidak mendapatkan jawaban pasti, karena tidak ada alasan khusus mengenai itu. Keluarga Daniswara tidak hanya kaya raya, tetapi juga dermawan, dilihat dari banyaknya yayasan sosial yang berdiri di bawah nama keluarga mereka. Banyak cibir berkata bahwa hanya mereka satu-satunya keluarga kaya raya yang masih memanusiakan manusia. Dan juga satu hal yang membuat mereka sangat terkenal dan begitu terpandang, jabatan dan visual privillage yang mereka dapatkan.
Nuansa sendiri tak pernah sekalipun melihat paras wajah dari keluarga Daniswara kecuali paras dari seorang Hery Daniswara itu sendiri. Visual mereka yang kerap kali diperbicangkan cukup membuatnya penasaran, paras tampan Hery Daniswara itu pasti menurun kepada tiga anaknya. "Sasa nanti jaga sikap ya." Nuansa berdecak sebal, sebab sudah ratusan kali ia mendengar kalimat ini dalam kurun waktu dua jam.
"Katanya restoran mewah ini punya Yuno Madya Daniswara, kenapa orangnya dan keluarganya belum juga dateng?" Ia menggerutu sembari menelungkupkan wajah pada lipatan tangannya. Namun gerutuan jengkelnya itu dianggap angin lalu oleh Ayah dan Bundanya sebab atensi keduanya beralih ke arah sosok yang di sudah ditunggu-tunggu.
Bunda mencubit lengan Nuansa, ia sempat berdecak lalu buru-buru berdiri, seolah ikut menyambut dengan sopan kedatangan keluarga itu.
Nuansa mendadak gugup ketika satu persatu insan yang ditunggu sampai di hadapannya. Menyimpan decak kagumnya dalam hati tatkala Hery Daniswara berada di hadapannya, tampak begitu gagah dan berwibawa, tak jauh berbeda seperti Ayahnya yang seorang panglima, sorot tajam dan paras tegas itu menghias kokoh, tak gentar biarpun ia menyungging senyum ramah.
Nuansa menaikan pandangan, mencoba melihat lelaki yang duduk tepat bersebrangan dengannya. Keduanya sempat bertemu pandang, dalam pikirnya lelaki itu sangat tampan, wajahnya terlihat sangat manis dan siapapun yang melihatnya, pastinya tidak menyangka bahwa ia duda beranak satu.
"Maaf, menunggu lama." Ayah hanya mengulas senyum dan berkata, "Nggak apa-apa, kita juga baru sampai."
Nuansa bersungguh, detik ini juga ia tidak menolak jika benar-benar akan dinikahkan dengan lelaki yang berada di depannya, lelaki tampan dengan senyum lembut itu berhasil membuatnya jatuh hati dalam pertemuan pertama ini.