Masih berada di atas ranjang yang sama seperti semalam, Nuansa terbangun dari tidur nyenyaknya. Matahari sudah tampak di sela-sela ventilasi, membuat ia mengerjap sejenak.
Ia masih berada di pelukan Yuno, kulit polosnya bersentuhan dengan kulit lelaki itu, membuat pipi Nuansa kembali memanas mengingat kejadian semalam. Malam panjangnya bersama Yuno yang berakhir di pagi hari tadi masih terbayang olehnya, ia menatap wajah Yuno dan mengusap pipi lelaki itu dengan lembut, semua ketakutan seketika hilang tergantikan semua kenyamanan dan rasa aman di hatinya ketika bersama Yuno.
Nuansa juga tidak terkejut dengan balasan Yuno semalam, ia sangat tahu bahwa Yuno memang tak semudah itu untuk jatuh cinta. Yang terpenting bagi Nuansa, Yuno bisa menjaganya dengan cukup baik.
Nuansa tersentak, saat Yuno juga mulai mengerjap, ia kembali menarik tubuh Nuansa untuk memperat pelukannya. Sedari semalam memang sangat erat, membuat aroma tubuhnya dengan Yuno tak ada bedanya.
Yuno membuka matanya, ia mengelus punggung Nuansa dengan lembut, dan menyungging senyum tipis, "why?" tanya Yuno, tenggrokan Nuansa tercekat, suara serak dan rendah milik Yuno mengalun indah di telinganya.
Nuansa tersenyum malu, ia kembali menyembunyikan wajahnya pada dada Yuno. Ia juga merasakan kecupan singkat di puncak kepalanya dan membuatnya kembali mendongak.
"Kamu nggak kerja?"
"Nggak."
"Tumben," sungut Nuansa dengan pelan, membuat Yuno kembali mencium bibirnya dengan lembut.
Setelah ciuman itu lepas, Yuno juga melepas pelukannya pada Nuansa, dan kemudian memungut baju yang bercecer sembarang di atas lantai. Ia menyerahkan atasan piyamanya pada Nuansa, mengingat bahwa wanita itu belum memakai apa-apa.
"Kamu mandi duluan," ucap Nuansa membuat Yuno mengangguk.
Setelah mandi, keduanya sama-sama melangkah keluar kamar, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh dan keduanya sama-sama belum menyantap sarapan. Sebelum menuju ke ruang makan, keduanya harus melewati ruang tengah terlebih dahulu, Nuansa dapat melihat berbagai macam kado serta kue ulang tahun begitu banyak berjejer disana.
Yuno mengajaknya untuk kembali melangkah, dari kejauhan keduanya dapat melihat Jeno yang tengah menyantap kue di meja makan. Anak itu seperti tau bahwa Mama dan Papanya sedang menghabiskan waktu berdua, maka dari itu tidak ada gedoran pintu yang heboh saat awal pagi tadi.
"Hai, makan apa itu?" tanya Yuno sembari menarik kursi di samping Jeno, anak itu menoleh menatap Mama dan Papanya bergantian.
"Apa nggak liat? Jeno lagi makan kue."
"Yang ulang tahun siapa?" tanya Yuno membuat Jeno berdecak.
"Iya tau, Papa. Ini kuenya dari Om Juna, Papa pasti gak mau makan kan?" jawab Jeno, membuat Yuno mengangguk pelan.
"Baru buat adik aja, Jeno udah gak di peduliin. Gimana nanti kalo udah punya adik?" cetus Jeno disela-sela kunyahannya untuk menyindir Yuno dan juga Nuansa.
Nuansa yang sedang menegak minumannya langsung tersedak mendengar penuturan Jeno, sementara Yuno hanya diam dan tetap tenang menyantap makanannya.
Jeno menghampiri Nuansa, dan menepuk bagian belakang wanita itu,"Eh... ya ampun, Maaf Mama." Nuansa hanya mengangguk, kemudian menatap Jeno.
"Maaf ya," ucap Nuansa, "Mama ih, jangan minta maaf." Nuansa tersenyum canggung, melihat ketidaknyamanan Nuansa, Yuno lantas buka suara, mengintrupsi Jeno untuk menjauh dari Nuansa dan kembali ke tempat duduknya.
Namun, Jeno urung untuk mengikuti perintah Yuno, ia tersenyum manis memandang Nuansa, "Mama, you like something sweet, right? how about, cake or ice cream cake? or chocolate? Apa perlu Jeno bawain semuanya?" tanya Jeno.
KAMU SEDANG MEMBACA
Be a Daniswara's
Fanfiction[18+] Menyandang klan Daniswara, tentu tak mudah. Pengawasan ajudan sang Ayah terhadap dirinya tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan pengawasan ketat yang ditugaskan oleh muasal Daniswara terhadap diri Nuansa. Banyak tuntutan dan banyak sika...
