[18+] Menyandang klan Daniswara, tentu tak mudah. Pengawasan ajudan sang Ayah terhadap dirinya tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan pengawasan ketat yang ditugaskan oleh muasal Daniswara terhadap diri Nuansa.
Banyak tuntutan dan banyak sika...
jangan lupa vomment-nya yaaa! Maafkan beberapa typo dan ketidakjelasan alur di cerita ini. Selamat membaca^^
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Waktu berjalan begitu cepat, suasana gedung mulai menyepi, meninggalkan sanak saudara dari kedua keluarga yang tengah berkumpul ria.
Dua keluarga inti, duduk melingkar di batasi meja bundar, memberikan beberapa nasihat untuk sepasang insan yang hanya bisa terdiam.
Nuansa sedari tadi menahan tangis, selepas dari hotel ini tentunya ia langsung menetap di rumah Yuno. Membayangkan bagaimana canggungnya mereka, dan terus berpikir mengenai cara mengurus Jeno dengan baik, ia meragu. Apakah dirinya bisa? Apakah dirinya mampu?
Menikah dengan Yuno Madya Daniswara tidak hanya membuat dirinya menyandang status sebagai seorang istri dari lelaki itu, namun ia juga akan menjadi Ibu sambung untuk Jevano Dierja Daniswara.
"Bunda, tolong bilang ke dia, hari ini nginep dirumah kita aja," bisiknya, saat semua orang mengantarkannya sebelum ikut bersama Yuno ke dalam mobil. Nuansa sedari tadi membujuk sang Bunda, ia sangat ketakutan, bagaimana ia bisa tinggal dan menetap dengan seseorang yang ia belum tahu seluk beluknya seperti apa.
"Gak bisa, Sasa. Dia udah jadi suami kamu, ikutin semua perintah dia, layanin dia dengan baik. Bu Karina bilang, Yuno memang kelihatan dingin, tapi aslinya baik. Kamu tenang aja."
"Bun—"
"Baju-baju kamu yang lain nyusul besok ya. Hati-hati." Bunda mendekap Nuansa dengan erat, disusul sang Ayah yang ikut mengusak rambut Nuansa.
"Makasih, Sasa. Kamu harus bahagia jadi bagian dari Keluarga Daniswara." Nuansa hanya bisa pasrah, ia lantas mengangguk, menahan air mata yang sedari tadi mendesak keluar.
Lalu, kakinya melangkah memasuki mobil yang sama dengan suaminya berada.
Setelah sampai di rumah Yuno, Nuansa sangat kebingungan dengan suasana yang ada. Rumah mewah itu sangat suram, seperti tidak ada kehidupan. Walaupun begitu, Nuansa cukup takjub, kekayaan dari keluarga Daniswara rupanya begitu nyata.
"Langsung ke kamar," titah Yuno pada Jeno.
"Iya, good night, Pa." Jeno mengangguk lalu mengecup pipi Yuno singkat, Nuansa hanya diam melihat interaksi keduanya.
Jeno menatapnya sekilas, "Duluan ya, good night," Nuansa hanya tersenyum kemudian mengganguk kecil.
Jeno tampaknya sangat baik, tetapi sepertinya ia malu untuk membangun suasana lebih dulu dengan Nuansa. Sibuk memperhatikan Jeno yang mulai menaiki tangga, suara berat Yuno mengalih atensinya.
"Ikut saya." Selepas mengucap itu, Yuno kembali melangkah, meninggalkan Nuansa yang sedari tadi menormalkan detak jantungnya.
Nuansa berusaha untuk tenang, walau hatinya berdebar tak karuan. Memikirkan apa yang hendak Yuno lakukan padanya malam ini, ia takut sekaligus kalut.