[18+] Menyandang klan Daniswara, tentu tak mudah. Pengawasan ajudan sang Ayah terhadap dirinya tak ada apa-apanya jika di bandingkan dengan pengawasan ketat yang ditugaskan oleh muasal Daniswara terhadap diri Nuansa.
Banyak tuntutan dan banyak sika...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
.bilang happy birthday dulu(づ ̄ ³ ̄)づ wkwk
Pagi datang, sinar matahari kala itu mampu mengusik Nuansa, ia mengerjap sejenak, sakit di seluruh badan langsung menyapanya di kala ia membalikkan badan.
Ia terdiam, setelah itu sadar bahwa semalam bukanlah mimpi buruk, tetapi itu benar-benar nyata. Ia langsung duduk, seingatnya ia tengah mandi berendam di pertengahan malam tadi, tetapi kini, saat terbangun ia berada di atas ranjang dengan kemeja putih milik Yuno yang membungkus tubuhnya.
Tubuhnya kembali bergetar ketakutan, ia berusaha bangkit dan langsung berjalan menuju lemari bajunya. Sesekali meringis, bagian bawahnya sakit bukan main, kakinya juga terasa begitu lemah untuk di ajak berdiri.
Dengan susah payah, Nuansa mengambil koper, kemudian ia langsung memasukkan baju-bajunya ke dalam koper itu. Tak ada pilihan lain, pergi dari rumah Yuno adalah pilihan yang tepat.
Setelah semuanya selesai, ia mengambil ponselnya yang terus menerus berdering, ia tak memperdulikan semua notifikasi dan panggilan masuk itu, ia langsung mencari kontak seseorang yang dapat membantunya saat ini.
"Halo Om Deon?" sambutnya dengan cepat.
"Iya. Kenapa, Sa?"
"Om, tolong jemput Sas—"
Tak!
Yuno dengan tiba-tibanya datang dan langsung merampas ponsel Nuansa. Tak hanya merampas, lelaki itu juga langsung membanting dan menginjak ponsel itu.
Tubuh Nuansa semakin gemetar, ia sangat ketakutan kala Yuno menatapnya dengan nyalang. Kakinya terus melangkah mundur, tak ingin hal semalam kembali terjadi.
"Siapa yang bolehin kamu pergi?" tanya Yuno menatap Nuansa dengan dingin. Nuansa benar-benar takut, sekelebat bayangan semalam melintas di pikirannya, membuatnya bergetar dan ingin berteriak keras.
"Saya gak mau! saya mau pergi!!" Nuansa berlari keluar kamar, berharap bisa segera keluar dari rumah itu. Rasa sakit sebab semalam ia tahan lebih dulu. Sebelum sampai ke depan pintu utama ia harus melewati ruang tengah, disana ia dapat melihat keberadaan Jeno dan Anne yang tampak ikut menegang.
"Nuansa!" bentak Yuno dengan nyaring. Mendengar suara itu, Anne langsung berdiri, ia melangkah menyusul Nuansa yang baru saja melewatinya, keadaan Nuansa tampak begitu kacau dan terlihat sangat ketakutan. Kaki kecil milik Nuansa berhenti melangkah sejenak untuk membuka pintu utama.
Yuno, lelaki itu kembali menarik lengan Nuansa, Anne mati-matian berusaha untuk menghentikan Yuno. Bukan Madya namanya jika tak keras kepala, ia kembali menyeret Nuansa ke dalam kamar, diikuti oleh Anne yang begitu khawatir di belakangnya.
"Yuno! tolong berhenti! kasian dia, Yuno!" teriak Anne dengan keras.
"Shut up. Ini urusan saya!" ucap Yuno seraya menutup pintu kamarnya dengan kencang.