Seseorang menggunakan pakaian serba hitam terlihat berjalan memasuki komplex perumahan elit. Menggunakan topi yang senada dengan warna hodie yang dipakai, ia memasukkan kedua tanggannya ke dalam saku.
Sampai depan block ke tujuh, ia berhenti sejenak lalu mengeluarkan sebuah pisau lipat dari dalam saku celananya. Ia menarik nafasnya sebelum berjalan menuju salah satu rumah mewah yang ada disana.
Ketika ia sampai di depan pintu, sebelum menrkan bel ia celingukan melihat keadaan sekitar. Ia merasa keadaan sudah aman lalu dipencetnya bel.
["Nuguseo?"] suara seorang ajuma penjaga rumah itu terdengar dari sambungan interkom.
"Paket."
["Baik, aku akan segera keluar."]
Tanpa ajuma itu sadari, pengantar paket itu tersenyum licik di balik topi dan maskernya. Ia pun segera bersembunyi di samping tembok.
Ketika ajuma membuka pintu, dilihatnya tidak ada seorang pun disana. Jadi, ia berencana untuk masuk ke dalam. Tepat pada saat ia membalikan badannya, orang yang mengaku sebagai pengantar paket ktu langsung mengayunkan sebuah pipa besi dan membuat ajuma tersebut kehilangan kesadarannya.
Setelah sekali lagi memastikan keadaan aman ia menaruh pipa besi itu dan menyeret ajuma itu ke dalam dan mengikatnya. Tidak lupa mulutnya ia beri lakban. Setelah selesai ia pun mengambil tongkat besinya dan memasuki rumah.
Dilihatnya, Han Woo Tak sedang duduk membelakanginya dimeja makan sedang sarapan pagi. Han Woo Tak yang merasakan kehadir orang lain, segera menoleh untuk melihat siapa yang datang.
Ketika ia menoleh, sebuah tongkat besi pun melayang ke arahnya dan akan mengenai dirinya. Untungnya Woo Tak cepat tanggap dan ia pun segera menghindari pukulan itu.
"Hampir saja. Siapa kau?" tanya Han Woo Tak
"Na (Aku)? Hahaha... Seseorang yang akan membunuhmu."
"Tolong ampuni aku dan kenapa juga kau harus membunuhku?"
Lawan bicara Han Woo Tak pun marah mendengar ia berbicara seperti itu. Orang itu pun mengangkat tongkatnya. Tapi Han Woo Tak mendorong kursi dan sekali lagi Han Woo Tak menghindar.
"Tunggu... Ini masih bisa dibicarakan. Mari kita bicarakan baik baik." ujar Han Woo Tak mulai ketakutan.
Orang itu berjalan mendekati Han Woo Tak, sementara Han Woo Tak terus saja mundur. Sampai akhirnya ia tidak dapat mundur lagi karena di belakangnya ada tembok yang menahannya.
"Kau ingat, dulu kau pernah membunuh sahabatmu sendiri. Park Hae Yong, ingat?"
"Aku tidak membunuhnya, saat itu aku sedang dalam perjalanan menuju kafe. Aku tidak mengetahui apa pun."
Mendemgar Han Woo Tak berkelit, ia menjadi semakin marah. Ia segera mangambil pisau dari saku celananya dan menusukkannya kearah Han Woo Tak.
Seketika itu juga Han Woo Tak pun roboh ke lantai. Darah mengalir dengan derasnya dari perut yang tertusuk. Dalam pikirannya Han Woo Tak memikirkan kedua putrinya.
"Aku benar benar... Tolong... To-"
"Selamat beristirahat Han Woo Tak. Selamat tinggal."
***
Dalam perjalanan menuju tempat wisata, semua anak terlihat bergembira dan berwajah ceria. Kebanyakan dari mereka bernyanyi bersama tapi tidak sedikit juga yang mengobrol bersama teman sebangkunya.
KAMU SEDANG MEMBACA
To Be Yours.
Mystery / ThrillerHan Woo Tak teringat akan sahabat lamanya yang bernama Park Hae Yong. Ia segera menelponnya untuk mengajaknya bertemu. Saat ParkHae Yong hendak pergi ke kafe untuk menemui Han Woo Tak, Park Hae Yong mengalami kecelakaan dan tertabrak mobil. Kejadia...
