[Berhasil mendapat logo 'Best Chars' a.k.a. penjualan terbaik dari Chars Publisher]
Please vote if you enjoy 🌟
Genre : School, Teenfiction, Romance, Comedy (70%), Sad (30%)
(Naskah full revisi ✅)
----------
Manito adalah sebuah kata yang berasal da...
Ups! Gambar ini tidak mengikuti Pedoman Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Nadya refleks membuang kontak mata dengan semua orang pagi ini. Bukan gimana-gimana sih, lagi pula dia tidak seaktif itu untuk berinteraksi dengan siapa saja seperti layaknya anak gaul. Dia tetap Nadya Wardana si introver. Bedanya, jika suasana hatinya selalu netral dan adem ayem saja, terkhusus hari ini dia merasa agak mendung dan sensitif.
Nadya ingat, dia juga seperti ini sewaktu bundanya belum lama pergi lima tahun yang lalu. Tidak ada yang benar-benar menghiburnya termasuk abangnya sendiri, mengingat dia terbiasa memendam perasaannya. Itulah sebabnya, dia tidak pernah mendapatkan dukungan moril seperti pelukan atau skinship lainnya karena dia selalu berhasil bangkit dengan caranya sendiri.
Nadya belajar dari mamanya. Dari beliau, cewek itu belajar bagaimana menyikapi setiap masalah yang hadir dan berpikir kalau tidak semua orang bisa menampung semua keluh kesahnya. Sebagian mungkin benar-benar menunjukkan rasa simpatik, tetapi tidak sedikit pula yang peduli karena memenuhi keharusan sebagai pendengar, bukannya sebagai wujud empati.
Tidak munafik, banyak juga yang kepo karena telanjur penasaran.
Maka, Nadya agak syok sewaktu Surya mendekatinya dan memberikan tatapan teduh, seakan mempunyai kepribadian ganda. Setelah dia dan Arya berpisah di percabangan bangku (Nadya sebenarnya kepo dengan keduanya yang berjalan bersama), tidak seperti biasanya Surya seperhatian ini mengingat dia jarang nongkrong di bangkunya kecuali sesi belajar-mengajar.
"Nad, gue cuma mau bilang kalo... kalo... hmm... gimana ya ngomongnya?" Surya bertanya ambigu, terlihat seperti sedang mengutarakan perasaan. Untungnya Nadya tidak baper karena dia tahu cowok itu tidak mungkin mempunyai perasaan khusus padanya.
"Hng?" tanya Nadya, alisnya berkerut dalam.
Surya menjawab cepat hingga terkesan sedang menunjukkan kemampuan rap-nya, "Gini aja, gue jujur deh. Gue udah tau semua yang lo hadapi selama ini dari curahan hati Nando—–tapi lo jangan marah sama abang lo ya, soalnya gue diancam nggak boleh baperin lo. Bahaya dong kalo gue tiba-tiba deketin lo tanpa tau alasannya. Lo tau-lah cewek itu suka berandai-andai dan level kehaluannya nggak ada obat. Kebetulan, gue inget gue sempat nawarin jadi Mas Ganteng buat lo berhubung gue udah tau kalo lo suka sama—–"
Lagi-lagi seperti terakhir kali, Nadya bertindak impulsif. Cewek itu refleks menggunakan tangannya untuk menutup mulut ember Surya sembari melirik ke sekitarnya dengan kecemasan yang kentara. Meski ada sejumlah siswa yang menatap mereka ingin tahu, fakta Surya yang sedari dulu terkenal akan kelaknatannya tidak memberikan pengaruh yang berarti.
Sudah bukan situasi langka melihat Surya mengusili banyak gadis, apalagi menyebar hoaks.
"Jangan keras-keras dong," pinta Nadya dengan nada putus asa seakan Surya hendak mengungkap aib terbesarnya. "Kalo kedengaran gimana?"
Surya mengangguk berkali-kali sebagai respons terbaik sebelum Nadya melepasnya. "Sori, hampir aja keceplosan."
Nadya tidak tahu harus marah atau kesal, jadi dia diam saja. Tepat saat itu, bel masuk berdering dan Lara masuk ke dalam kelas tidak lama kemudian. Tatapannya tertuju pada Nadya, tetapi sayangnya cewek itu sudah membuang wajah secara refleks dan menyesalinya sedetik kemudian.